Takdir Sukarno:

Di Ende Lahirkan Pancasila, di Bengkulu Bertemu Gadis Desa

Penulis: Walentina Waluyanti

Ada dua fase penting dalam hidup Bung Karno. Kedua fase itu seakan sudah menjadi takdir hidupnya sebagai Bapak Bangsa yang mendirikan Indonesia Merdeka bersama Mohammad Hatta. Fase-fase terpenting dalam hidup Sukarno justru tercipta saat ia menjadi tahanan Belanda, menjadi orang buangan. Sukarno mencetak sejarah terpenting bagi Indonesia saat ia dibuang di Ende, Flores (1934-1938), dan dibuang di Bengkulu (1938-1942).

Saat di Ende, Sukarno menemukan inspirasi tentang dasar negara, yang kemudian kita kenal dengan nama Pancasila. Kemudian di Bengkulu, Sukarno bertemu gadis desa bernama Fatmawati, yang kemudian menjadi Ibu Negara pertama Republik Indonesia.

rumahsukarno1

Foto: Rumah tinggal Sukarno saat dibuang di Ende. (Sumber foto: National Geographic)

Di dekat rumah tinggal Sukarno di Ende, ada pohon sukun. Di bawah pohon sukun itulah Sukarno sering bersemedi sampai berjam-jam lamanya. Obsesinya pada kemerdekaan Indonesia, membuatnya sangat yakin bahwa suatu saat kelak Indonesia akan merdeka. Karena itulah ia mulai berangan-angan, harus ada falsafah negara bagi Indonesia yang akan merdeka. Konsep untuk menyusun falsafah negara itu terus digalinya selama ia dibuang di Ende, Flores. Dan penggalian falsafah negara itu dilakukannya dengan cara semedi.

Dahulu orang-orang tua biasa melakukan semedi untuk menjernihkan jiwa dan pikiran. Tradisi ini dilakukan pula oleh Sukarno. Di bawah pohon sukun yang sejuk dan rindang, ia menemukan ilham tentang butir-butir Pancasila. Hingga kini masyarakat bisa menyaksikan lokasi bersejarah tempat Sukarno menemukan ide tentang Pancasila. Untuk mengenang lokasi bersejarah tempat cikal-bakal Pancasila dilahirkan di Ende, pemerintah setempat membangun Monumen Pancasila di Lapangan Pancasila. Di Lapangan Pancasila itu pula bisa dijumpai patung Sukarno.

pohonsukun ende

Foto: Patung Sukarno dan )pohon sukun di Lapangan Pancasila Ende. (Sumber foto: Kompas.com / Fitri Prawitasari)

Pohon sukun di Lapangan Pancasila di Ende (foto di atas) bukan lagi pohon asli seperti saat Sukarno sering melakukan semedi di bawahnya. Tetapi lokasinya tetap sama, sengaja ditanam untuk menggantikan pohon sukun asli yang telah tumbang dimakan usia. Meskipun bukan lagi pohon sukun asli seperti ketika Sukarno masih hidup, namun pohon itu dapat menjadi monumen, untuk mengenang saat Sukarno menemukan ilham cikal-bakal Pancasila. 

Sukarno menceritakan, pernah saat semedi ia sampai jatuh pingsan. Pingsannya itu rupanya karena serangan malaria. Sampai bertahun-tahun kemudian, malaria Bung Karno ini sering kambuh. Bahkan menjelang Proklamasi Kemerdekaan, kondisinya sedang tidak sehat karena malaria. Butir-butir Pancasila yang cikal-bakalnya berkembang dalam alam pikiran Sukarno saat bersemedi, akhirnya menjadi konsep matang menjelang kemerdekaan Indonesia. Pada 1 Juni 1945, Sukarno menyampaikan ide-nya tentang falsafah negara Pancasila itu di depan sidang BPUPKI. Tepuk tangan menggemuruh, saat Bung Karno menyampaikan pidato lahirnya Pancasila yang diselingi humor itu. Inilah yang kemudian mendasari tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai Hari Lahirnya Pancasila. (Saya tulis lebih lanjut tentang ini di buku karya saya, klik "Sukarno Hatta Bukan Proklamator Paksaan")

Saat dibuang ke Ende (1934) yang merupakan daerah berdiamnya beberapa misionaris Katolik dari Belanda, Sukarno bersahabat dengan para pastor Belanda. Melalui pastor-pastor ini, Sukarno bisa membaca aneka buku di perpustakaan mereka. Setelah kurang lebih empat tahun di Ende, Sukarno dipindahkan ke Bengkulu (1938). Dan setelah di Bengkulu, Sukarno dikitari oleh para pegiat organisasi Muhammadiyah. Di Bengkulu inilah Sukarno juga aktif di organisasi Muhammadiyah.

Oleh karena keaktifannya di fatmawati011wm350Muhammadiyah, Sukarno juga berkenalan dengan seorang pengurus Muhammadiyah, bernama Hasan Din. Perkenalan akrab dengan Hasan Din akhirnya membuat Sukarno berkenalan dengan putri tunggal Hasan Din, yaitu Fatmawati. Ketika berusia 15 tahun, Fatmawati sempat diterima tinggal serumah bersama Inggit dan Sukarno. Hasan Din menitip anaknya di rumah Sukarno, agar bisa melanjutkan sekolah bersama Ratna Juami (anak angkat Sukarno-Inggit). Kebetulan Ratna Juami sepantaran usianya dengan Fatma. Sebelumnya, Fatma sempat berhenti sekolah. Tetapi Fatmawati akhirnya meninggalkan rumah Sukarno-Inggit, setelah mengetahui ternyata Inggit tidak menyukai kehadirannya di rumah itu. Rupanya insting Inggit telah merasakan perubahan gelagat suaminya terhadap Fatmawati.

Fatmawati adalah gadis desa sederhana. Ia kerap berjualan kue-kue yang dibuatnya bersama ibunya. Penghasilan ayahnya tidak mencukupi. Sehingga ia harus berkeliling menjajakan kue-kue. Meskipun Fatmawati seorang gadis desa bersahaja, namun kecantikannya sangat menarik perhatian. Tak pelak, Sukarno jatuh cinta padanya. Sejak inilah, hubungan Sukarno-Inggit terus diwarnai pertengkaran tanpa henti.

Foto: Fatmawati bersimpuh di latar depan (kiri) bersama Ratna Juami (kanan), saat Sukarno-Inggit dibuang ke Bengkulu. Hasan Din, ayahanda Fatma berdiri paling kiri. Ibunda Fatma duduk di kursi paling kanan. Inggit duduk di sebelahnya. Sukarno di belakang Inggit.

Dengan masuknya Jepang ke Indonesia, akhirnya Sukarno dan Inggit meninggalkan Bengkulu dan pindah ke Jawa. Setelah di Jawa, kebersamaan Sukarno dan Inggit tidak lama. Keduanya terus ribut. Persoalannya tak lain tak bukan karena Sukarno ingin menikahi Fatmawati yang masih di Bengkulu. Inggit sejak semula memang tak pernah setuju dengan poligami. Ia akhirnya memilih berpisah dari Sukarno.

Akhirnya Sukarno dan Fatmawati menikah pada Juni 1943 secara nikah wakil. Gadis desa yang tampak semakin cantik bila berkerudung itu, akhirnya menjadi First Lady pertama Indonesia.*** (Penulis @ Copyright: Walentina Waluyanti, historical book writer)

Artikel terkait, klik:

Putri Bung Hatta Membedah Buku Walentina Waluyanti

Berkunjung ke Rumah Kelahiran Bung Hatta

 

walentina01

Walentina Waluyanti de Jonge, penulis buku "Sukarno Hatta Bukan Proklamator Paksaan"

 

 

About Me

 

 

 

Add comment