Sukarno dan Hatta, Awalnya Saling Kenal Secara Rahasia di Tahun 1920-an

Penulis : Walentina Waluyanti de Jonge

Banyak yang menyangka bahwa Sukarno dan Hatta baru berkenalan pada sekitar tahun 1930-an. Padahal tidak demikian. Perkenalan Sukarno dan Hatta telah dimulai saat keduanya masih muda belia, sejak tahun 1920-an. Ketika  itu Sukarno dan Hatta masih berusia sekitar 23-24 tahun. Hal ini diperkuat oleh sejumlah sumber dan data. Bagaimana perkenalan keduanya bermula, saya tulis lengkap di buku karya saya, “Sukarno Hatta Bukan Proklamator Paksaan”.

Sumber foto: Buku "Sukarno Hatta Bukan Proklamator Paksaan"

Asam di gunung, garam di lautan, bertemu photoframe 003b archief 300di belanga. Peribahasa ini cocok menggambarkan awal perkenalan dua pemuda 20-an tahun, Sukarno dan Hatta, pada 1920-an. Pada masa itu antara Sukarno dan Hatta belum ada kontak fisik. Sukarno masih kuliah di Bandung, dan Hatta masih kuliah di Belanda.

Meski antara Sukarno dan Hatta dipisahkan jarak antara benua, namun keduanya sudah menjalin kontak secara rahasia. Saat itu keduanya masih mahasiswa. Sukarno sudah mengenal nama Hatta, begitu pula Hatta sudah kerap mendengar nama Sukarno.

Perkenalan keduanya diawali dari rasa saling kagum. Sukarno mengagumi Hatta, dan Hatta mengagumi Sukarno. Perkenalan keduanya kemudian terus berlanjut secara intens. Untuk menghindari mata-mata Belanda, keduanya saling berkirim surat secara rahasia dengan memakai nama samaran.

Setelah cukup lama saling berkorespondensi, keduanya pun sepakat untuk saling bertemu. Hatta yang baru kembali dari Belanda, akhirnya menemui Sukarno di Bandung, tahun 1930-an. Suasana pertemuan dan isi percakapan keduanya ketika pertama kali bertemu, saya tuliskan lengkap di dalam buku karya saya yang telah beredar di Gramedia, “Sukarno Hatta Bukan Proklamator Paksaan”. Sebagai buku bertema sejarah, tentu buku ini dilengkapi sumber dan Daftar Pustaka. Buku ini juga diberi kata pengantar oleh sejarawan dan pengajar dari UI, Dr. Peter Kasenda. Resensi buku ini dimuat di Harian Kompas, ditulis Guru Besar Sejarah, Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan.

review2

 Resensi dimuat di Harian Kompas, ditulis Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan, tentang buku Sukarno-Hatta Bukan Proklamator Paksaan.  (Foto: Dr. T. Baskara Wardaya)

Sayang sekali belum lama bertemu, cekcok karena perbedaan prinsip politik menjadi penyebab timbulnya konflik politik antara Sukarno dan Hatta. Sampai akhirnya Sukarno dan Hatta ditangkap oleh Belanda, kemudian dibuang ke pengasingan sebagai tahanan politik. Pengasingan pertama adalah Sukarno dibuang ke Ende, dan Hatta dibuang ke Digul. Akibat pengasingan ke tempat-tempat yang berbeda ini, kontak antara Sukarno dan Hatta kemudian terputus selama bertahun-tahun.

Menariknya, ketika bertemu kembali setelah bertahun-tahun berpisah, keduanya kemudian “rujuk” dan sepakat untuk melupakan pertengkaran yang pernah terjadi. Sukarno dan Hatta pun bersumpah secara jantan, bahwa akan tetap bersatu. Bagaimanakah perjumpaan keduanya ketika bersumpah demi terwujudnya persatuan Indonesia merdeka? Di manakah keduanya melakukan sumpah sebagai dua hero yang berjiwa jantan dan sportif?

Kisah lika-liku perjumpaan awal, perseteruan sengit dan pertemuan mengharu-biru sesudah “pertarungan” sengit, bisa dibaca di buku “Sukarno Hatta Bukan Proklamator Paksaan” (Penulis: Walentina Waluyanti de Jonge). Buku ini bisa didapatkan di Gramedia dan toko-toko buku di seluruh Indonesia. *** (Penulis:Walentina Waluyanti de Jonge, historical book writer, adalah anggota kelompok Indisch-Nederlandse Letteren/KITLV di Leiden, yang berfokus pada kajian literatur sejarah di wilayah Asia Tenggara dan Karibia, termasuk sejarah Indonesia-Belanda).

Artikel terkait, silakan klik: 

Putri Bung Hatta Membedah Buku Walentina Waluyanti

Membongkar "Mitos Proklamator"

Konspirasi Mendiskreditkan Sukarno Melalui Paragraf Palsu di Buku Cindy Adams

walentina01

Walentina Waluyanti de Jonge

Penulis buku “Sukarno Hatta Bukan Proklamator Paksaan”

 

 

 

Add comment