< A room without books is like a body without a soul >

Dimuat di Harian Kompas (15/11/2015), resensi buku "Sukarno-Hatta: Bukan Proklamator Paksaan":

Membongkar Mitos "Proklamator Paksaan"

Penulis: Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan - Guru Besar Sejarah

Dalam dunia publikasi, judul sebuah buku sering dibuat setelah naskah tuntas dirancang. Judul lebih ditujukan untuk menarik minat pembaca dan mendongkrak penjualan.

    Apabila dilihat dari judul semata, buku Walentina Waluyanti de Jonge, Sukarno-Hatta Bukan Proklamator Paksaan, bisa dikatakan sebagai karya yang mengacu pada pendapat di atas. Judul yang diberikan memang menggugah orang untuk membacanya.  Penilaian ini diperkuat pula oleh kenyataan bahwa hanya 11 dari 70 sub-bab atau hanya 70 dari 608 halaman buku ini yang membincangkan persoalan proklamasi (hal 317-387). Sementara pembahasan yang langsung berhubungan dengan tekanan judul hanya tiga sub-bab (33, 34, 37).

    Namun, walau hanya dalam porsi yang terbatas, Walentina berhasil membongkar mitos yang menyebut Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan karena paksaan sekelompok anak muda. “Re-re-konstruksi” Walentina berhasil mematahkan pemaparan Adam Malik dan beberapa pelaku sejarah serta sejarawan “profesional”, termasuk Nugroho Notosusanto yang menyunting buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI (1975).

buku sukarno hatta galangpress

    Buku "Sukarno-Hatta Bukan Proklamator Paksaan" (Foto: Galangpress).

    Walentina juga mampu “menormalkan”gambaran tentang pemuda sekitar proklamasi kemerdekaan. Pesona dan kemampuan anak-anak muda revolusioner saat itu belum apa-apa dibandingkan dengan Soekarno-Hatta. Anak-anak muda itu menyadari bahwa mereka kalah pamor sehingga mereka tidak mau menerima tantangan Soekarno-Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan (hal 319).

    Mengenai penculikan, terkesan Walentina menyepelekan arti peristiwa itu. Walentina bahkan menyebut penculikan itu sebagai penyebab tertundanya proklamasi kemerdekaan yang semula direncanakan founding fathers pada 16 Agustus (hal 333).

Sejarah Dwitunggal

    Karya Walentina ini cocok dikatakan sebagai “sejarah Dwitunggal” dan “Dwitunggal dalam sejarah”. Buku ini menceritakan dengan lengkap sejarah dan dinamika hubungan Dwitunggal dari awal (kelahiran) hingga akhir (kematian) mereka.photoframe 003b archief 300

    Kelahiran Dwitunggal bermula dari adanya kontak di antara mereka. Kelahiran Dwitunggal itu terjadi saat Soekarno dan Hatta berumur 20-an tahun. Secara umur mereka masih “muda mentah” tetapi pemikiran telah matang.

    Deskripsi mengenai cikal bakal Dwitunggal ini kemudian diikuti oleh pembahasan berupa tunjauan kritis dan analitis mengenai peran historis Soekarno-Hatta “muda”, mulai dari pemikiran mereka tentang keadaan Indonesia, hingga persoalan nama dan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

    Deskripsi mengenai masa-masa akhir Dwitunggal diisi dengan  penyajian saat-saat mereka mengembuskan napas terakhir dan dilengkapi dengan beberapa “mitos” seputar Dwitunggal. Di antaranya Bung Karno menjadi “pak comblang” perkawinan Bung Hatta dengan Ibu Rahmi, perbedaan “prinsip” perkawinan mereka (poligami vs monogami), kehadiran Bung Hatta pada pernikahan Guntur, testamen Bung Hatta tentang peran sejarah Bung Karno mengenai Pancasila, sampai pada persoalan penzaliman Orde Baru terhadap Soekarno-Hatta.

   Antara masa awal dan akhir Dwitunggal, Walentina menyajikan kiprah dan peran historis, termasuk kerja sama dan disharmoni di antara kedua tokoh. Ada 54 subjudul pembahasan tentang aspek-aspek tersebut. Banyaknya subjudul itu sekaligus mengindikasikan banyaknya peran historis yang dilakoni dan beragamnya dinamika hubungan Soekarno-Hatta. Sesuatu yang menarik adalah adanya 13 subjudul yang membahas kemanunggalan Soekarno-Hatta.

review2

Resensi di Harian Kompas (15/11/2015), oleh Guru Besar Sejarah Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan, tentang buku Sukarno-Hatta Bukan Proklamator Paksaan karya Walentina Waluyanti de Jonge. (Foto: Dr. Baskara T. Wardaya).

Konteks Kekinian

    Berdasarkan pembahasan tentang berbagai peran dan pengalaman historis Soekarno-Hatta, sesuai dengan jiwa zaman serta latar belakang sosial dan politik Indonesia kontemporer, ada sejumlah pesan penting yang bisa ditarik dari buku ini.

    Ada banyak perbedaan pendapat dan disharmoni antara Soekarno dan Hatta. Namun, perbedaan itu tidak didasari oleh kepentingan pribadi mereka, tetapi dari cara mereka mencapai, mewujudkan, dan mengisi kemerdekaan. Dalam menanggapi perbedaan itu, mereka memilih cara-cara yang elegan, cerdas, dan kesatria. Umumnya melalui perdebatan di mimbar resmi atau tulisan. Apabila perbedaan pendapat itu dirasa terlalu tajam, (mundur) dari jabatan yang dipilih. Namun, setelah “berpisah”, mereka masih menjaga tali silaturahim, bahkan saling membela jika sahabatnya dizalimi.

    Soekarno dan Hatta tampil menjadi pemimpin setelah melalui proses yang panjang. Mereka adalah sosok yang memiliki ide/pemikiran yang bernas, kritis, analitis untuk bangsa dan negara serta melaksanakan ide/pemikirannya itu walau dengan risiko yang berat. Mereka dicintai dan dikenang oleh rakyat. Kalau mereka pernah berurusan dengan pihak yang berwajib atau masuk penjara, itu karena membela rakyat dan bangsa.

bung karno dan bung hatta 1

Foto: Dwitunggal Soekarno dan Hatta

    Sehubungan dengan pemaparan di atas, kalaupun ingin menyampaikan kritik terhadap buku ini, itu terletak pada pemilihan judul tentang “proklamator paksaan”. Pembahasan ini lebih sedikit jika dibandingkan dengan aspek lain, seperi kemanunggalan mereka. Akan lebih baik, judulnya dikaitkan dengan aspek kemanunggalan itu, sehingga bisa menjadi teladan bagi kebanyakan pemimpin di negeri ini, yang baru beberapa waktu terpiih menjadi orang nomor 1 dan nomor 2 sudah pecah kongsi.

    Karya Walentina ini merupakan sebuah buku yang komprehensif, kritis, dan analitis tentang Dwitunggal. Buku ini sebuah karya yang penting untuk dibaca. Kekuatan utama karya ini terletak pada penggunaan beberapa sumber primer (karya Hatta)  yang kebetulan tidak digunakan oleh penulis sebelumnya. Kekuatan lain adalah narasi yang menarik serta penyajian foto-foto yang relevan dengan pembahasan.***

*)Baca juga, klik: Beginilah Putri Bung Hatta Membedah Buku "Sukarno-Hatta: Bukan Prokamator Paksaan" karya Walentina Waluyanti de Jonge

Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan 

Menyelesaikan studi di Universitas Bremen  Jerman, Fakultas Ilmu Sosial

Guru Besar Sejarah Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Andalas, Padang

Copyright (c) Walentina Waluyanti 2019. All rights reserved.