Bung Karno dan Sinterklaas Hitam

Versi revisi lebih lengkap dilengkapi daftar pustaka dari tulisan ini telah dibukukan, berjudul "Tembak Bung Karno Rugi 30 Sen". Bisa didapatkan di Gramedia dan toko buku di seluruh Indonesia. Buku ini telah menjadi koleksi perpustakaan nasional Kerajaan Belanda (Koninklijke Bibliotheek). 

Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Sinterklaas Hitam bukan mau menyaingi Piet Hitam. Sinterklaas Hitam adalah ungkapan yang pernah terkenal di Indonesia tahun 1957. Peristiwa ini turut tercatat mewarnai sejarah Indonesia-Belanda. Disebut “Sinterklaas Hitam”, karena peristiwa yang terjadi di hari perayaan Sinterklaas 5 Desember 1957 itu, menjadi “pengalaman kelam” bagi anak-anak yang menantikan pesta Sinterklaas di Indonesia. Bagaimana kisahnya? 

Setelah penyerahan kedaulatan oleh Belanda kepada Indonesia di tahun 1949, Sukarno mengharuskan orang Belanda meninggalkan Indonesia. Terjadilah eksodus besar-besaran, orang Belanda pergi dari Indonesia. Tapi saat itu, tidak otomatis semua orang Belanda hengkang dari Indonesia.

Sementara itu, hubungan antara Indonesia dan Belanda masih terus mendidih. Masih ada yang mengganjal. Yaitu soal Irian Barat. Belanda masih belum mau angkat kaki dari Irian. Sukarno sudah kehilangan kesabaran. Yang punya negara ini siapa? Sudah berapa lama Indonesia merdeka? Sudah sejak tahun 1945. Sekarang tahun 1957. Sudah disuruh minggat dari negara ini kok belum pergi juga?

bungsint1

Kemarahan Sukarno semakin meledak lagi, ketika PBB tanggal 29 November 1957 memutuskan Irian Barat berada di bawah kekuasaan Belanda. Keputusan PBB itu, seakan menabuh genderang perang dan menantang Sukarno.

Seakan melampiaskan amarahnya, tepat di hari perayaan Sinterklaas di tahun 1957, Sukarno mengultimatum. Semua orang Belanda harus secepatnya meninggalkan Indonesia! Inilah klimaks pengusiran sejak tahun 1949 itu. Sekarang juga pergi! Bung Karno juga melarang siapapun di hari itu mengadakan pesta Sinterklaas yang dianggap budaya Belanda itu. Setelah itu, sentimen anti Belanda begitu kuat menjalar di mana-mana.

Sebelumnya, di pesta Sinterklaas di Indonesia, anak-anak sekolah, anak-anak panti asuhan, anak-anak di rumah yayasan cacat sudah menantikan hari istimewa itu. Di sekolah biasanya pesta begitu meriah. Selain kado, setiap anak mendapat jatah minuman sirup, kue dan permen. Di jaman itu, hal-hal kecil seperti itu sudah menjadi kegembiraan luar biasa buat anak-anak.

bungsint2

 Pesta Sinterklaas di Sumatera, tahun 1930 (Foto: Moluks Historisch Museum)

Tapi kali ini lain. Tidak ada acara bungkus kado buat anak-anak itu. Bahkan dulu di saat perang pun, mereka masih bisa mencuri-curi kesempatan untuk merayakan. Tapi sekarang, siapa yang berani melawan titah Sukarno? Di jalan-jalan orang-orang bersenjata berkeliaran, semakin menguatkan suasana anti Belanda.

Di tahun 1957 itulah untuk pertama kalinya anak-anak di Indonesia tidak lagi merasakan pesta Sinterklaas seperti tahun-tahun sebelumnya. Biasanya di hari itu, anak-anak menyenandungkan lagu-lagu Sinterklaas yang sudah mereka hafalkan. Berikut ini contoh lagu Sinterklaas, yang ejaannya sengaja saya tampilkan apa adanya, masih ejaan kuno (bukan salah ketik).

Lihatlah kapalnja dari Spanjol tiba
membawa Sinterklaasje kepada kita,
lihatlah koedanja, berlompat-lompat
berkibar-kibarlah benderanja

Teman-temannja tertawa
berseroe-seroe membawa karongnja
membawa sapoe
lihatlah Sint Nicolaas menaik koeda
berpakean merah jang sangat indah

Lagu di atas hanya satu contoh saja. Apa boleh buat, kali ini anak-anak itu tidak lagi menyenandungkan lagu-lagu Sinterklaas, dan tak ada kado. Kalaupun ada yang mesti disebut kado, adalah “kado” Sukarno yang di hari itu mengusir semua orang Belanda yang masih tinggal di Indonesia. Tak sedikit orang Belanda yang menerima ultimatum, harus meninggalkan Indonesia dalam 1X24 jam. Enyah dari bumi Indonesia!

Pesta Sinterklaas 1957 yang mestinya meriah bagi anak-anak itu pun menjadi hari kelabu. Karena itu, peristiwa ini kemudian disebut peristiwa “Zwarte Sinterklaas”, atau Sinterklaas Hitam.

bungsint3-web

Orang Belanda mana yang berani melawan? Ketika itu demonstrasi massa bergerak di mana-mana. Gerakan anti Belanda dengan cepat menjalar. Di tembok-tembok di hampir semua jalan ditulis besar-besar, “Usir anjing Belanda dari RI!”. Perusahaan-perusahaan Belanda ketika itu juga semua diambil alih, dan dinasionalisasi. Masih tersisa kira-kira 44.000 warga Belanda yang tinggal di Indonesia. Mereka  tidak punya pilihan lain. Mau tetap tinggal berlama-lama, situasi sudah begitu mencekam dan berbahaya. Banyak yang meninggalkan Indonesia, tanpa sempat membawa barang-barang berarti, karena situasi sudah begitu darurat.

Di bulan Desember 1957 itu, orang-orang Belanda merasakan betul boikot terhadap mereka. Toko-toko sudah tak mau lagi melayani kalau pembelinya orang Belanda. Begitu juga di kantor-kantor, termasuk kantor pos. Orang Belanda sudah tidak berani berkeliaran di jalan-jalan. Cuma naik sepeda pun, sepeda  bisa dirampas. Rumah-rumah orang Belanda banyak yang kosong mendadak. Penghuninya dipaksa segera mengosongkan rumah, tanpa sempat membawa apa-apa. Situasi begitu menakutkan.

Banyak yang menerima pesan mendadak, harus meninggalkan Indonesia dalam 1X24 jam. Berbondong-bondong mereka naik kapal dengan kondisi seadanya. Banyak yang tidur dan makan pun cuma di dek. Yang penting bisa terlepas dari ancaman nyawa, dan kabur secepatnya keluar dari Indonesia.

Walau mereka itu Belanda dan Indo, tapi banyak juga yang bahkan belum pernah sekalipun menginjak Belanda. Di atas kapal, para penumpang itu saling menatap satu sama lain. Bingung dan bertanya-tanya, seperti apakah negara yang akan mereka datangi itu?

bungsint4-web

 Foto: Stichting Tong Tong

Tak sedikit di antara orang-orang Belanda terusir itu, yang lahir dan tumbuh di Indonesia, dari generasi ke generasi. Sehingga ketika dipaksa meninggalkan Indonesia, mereka merasa masa depan sudah tertutup untuk selama-lamanya.

Rambut boleh pirang dan mata boleh biru. Tapi Indonesia bukan negara asing bagi mereka. Ibaratnya disuruh berjalan dengan mata tertutup pun, mereka tidak akan tersesat di Indonesia. Tapi ke Holland? Dengan perasaan tak pasti, banyak yang masih belum percaya bahwa mereka harus meninggalkan Indonesia, tanah kelahirannya.

Ketika tiba di Holland, banyak yang memulai segalanya dari nol. Di Holland yang dingin, Palang Merah menyambut mereka dengan baju dan jas untuk setiap orang. Mereka datang sebagai pengangguran, tak punya rumah, tak punya apa-apa. Bahkan ketika itu menteri pekerjaan sosial harus kampanye di radio dan TV, menghimbau kerelaan penduduk agar menampung para pendatang baru itu di rumah mereka untuk sementara. Ini sebagai alternatif yang lebih baik dibanding kamp-kamp pengungsi yang memang  tersedia di desa Budel, propinsi Noord Brabant. Soalnya kondisi kamp pengungsi itu, dianggap membangkitkan memori pahit ketika Belanda ditawan di kamp tahanan Jepang di Indonesia.

Politik tinggallah politik. Korbannya bisa melibatkan siapa saja. Juga bisa  menyeret orang dan anak-anak yang buta politik dan tak mau tahu urusan politik. Urusan antara Sinterklaas, Piet Hitam dan anak-anak bisa juga ikut terseret ke panggung politik.

Pesta Sinterklaas adalah pesta untuk anak-anak, dengan pesan sederhana di baliknya, dalam bahasa Belanda, “Wie zoet is krijgt lekkers, en wie stout is krijgt roe” (Yang manis dapat hadiah, yang nakal dapat sapu lidi/hukuman). Jaman telah berubah. Tak relevan lagi mempersoalkan Sinterklaas itu harus putih, dan Piet itu harus hitam.

Walau Bung Karno menganggap Sinterklaas itu tradisi Belanda, tapi sapu lidi yang dibawa Piet itu, terasa khas Indonesia.

bungsint5

Sapu lidi Piet yang khas Indonesia, sebagai simbol “hukuman dan pembersihan” rasanya masih relevan dengan kondisi Indonesia sekarang ini, di bidang penegakan hukum. Hanya menerima hadiah (komisi) melulu, tanpa disertai “pembersihan” di bidang hukum....berpeluang menyuburkan pelanggaran hukum tak berkesudahan. *** (Penulis:Walentina Waluyanti de Jonge, historical book writer, adalah anggota kelompok Indisch-Nederlandse Letteren/KITLV di Leiden, yang berfokus pada kajian literatur sejarah di wilayah Asia Tenggara dan Karibia, termasuk sejarah Indonesia-Belanda).

Baca juga, klik: Sukarno Tahu, Hari Sinterklaas Bukan Perayaan Agama dan Tidak Dirayakan Saat Natal

fr-ww
Walentina Waluyanti

Penulis buku "Tembak Bung Karno Rugi 30 Sen"

About Me

Add comment