Sukarno

Awal Perkenalan Sukarno-Hatta, Intrik Seputar Proklamasi, Hingga Tutup Usia

Buku Walentina Waluyanti

sukarno-hatta-front-aRead More

Written by Walentina Waluyanti

Intermezzo

SBY Jadi Yoko Ono

John-Yoko-001-smallRead More

 Written by Walentina Waluyanti

History

Satu Ayah Lain Ibu, Asal Mula Sengketa Palestina-Israel

(Silsilah Nabi)palestina003aRead More

Written by Walentina Waluyanti

History

Mengerikan! Rumah Jagal Pemusnah Manusia (Korban Nazi Hitler)

dachau013wmaRead More

Written by Walentina Waluyanti

Art / Culture

Aryati! Aryati! Pengaruh Indonesia dalam Kultur Indisch di Belanda

aryati001wma

Read More

Written by Walentina Waluyanti

Ngintip Holland Tempo Doeloe di Pasar Tradisional

Buku Walentina di Gramedia

Buku Walentina Waluyanti di Gramedia

contract1weba

Read more

Quote by Walentina Waluyanti

fr-ww

"Jadilah penulis bermartabat, punya harga diri, dengan tidak menjiplak tulisan orang lain. Dengan pedang kehormatan dan harga diri, tulisan karya sendiri dapat mengangkat harkat penulisnya."

Dilarang memperbanyak dan melipatgandakan materi dalam website ini dalam bentuk apapun tanpa ijin Walentina Waluyanti sebagai pemilik website. Copy paste untuk kepentingan NON-KOMERSIL, harap mencantumkan nama penulis.  DILARANG KERAS MENGKOMERSILKAN karya Walentina Waluyanti tanpa IJIN TERTULIS dari saya sebagai penulis/pemilik website ini. Pelanggaran larangan ini akan menerima konsekuensi hukum melalui proses verbal.

Reproduceren en kopieeren van alle materialen van deze website van welke aard dan ook is verboden zonder toestemming van Walentina Waluyanti als eigenaar van deze website. Tevens moet men dan voor niet-commerciële doeleinden mijn naam als de auteur vermelden. Commercialiseren van het werk van Walentina Waluyanti is verboden zonder schriftelijke toestemming van mij als schrijver / eigenaar van deze website en men zal bij overtreding van dit verbod instemmen met de juridische gevolgen hiervan.

Jejak Soekarno di Ende

Walentina Waluyanti – Nederland

Bung Karno dibuang di Ende Flores tahun 1934-1938. Waktu itu Bung Karno menyebut tempat pembuangannya itu sebagai Pulau Bunga. Banyak jejak berharga Bung Karno di Ende. Terlebih benih lahirnya Pancasila sebetulnya dimulai di Ende, saat Soekarno mulai merenungkan tentang dasar negara.

Sekarang ini situs Bung Karno di Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk sementara ditutup bagi wisatawan asing maupun lokal karena sedang dalam pemugaran. (Tempo 20 Juli 2012).

Ada beberapa jejak penting Bung Karno di Ende Flores. Antara lain, tempat kediaman Bung Karno.

 rumahsukarno1

Foto: Rumah kediaman Bung Karno di Ende (Praja/Fotokita.net)

Juga ada taman perenungan Bung Karno di dekat pohon sukun, yang hingga kini masih ada, dengan lima cabangnya. Lima cabang itu dipercaya ada hubungannya dengan inspirasi Soekarno ketika melahirkan lima butir Pancasila. Tempat ini biasa dipakai Bung Karno untuk semedi. Di tempat ini disebut sebagai tempat lahirnya Pancasila. Sekarang tempat ini disebut Tugu Pancasila. Di sini juga dibangun patung Bung Karno, letaknya di Lapangan Pancasila Ende. Tempat yang juga penting adalah kuburan Ibu Amsi, mertua Bung Karno. Makam ini letaknya di kompleks makam pejuang.

Di Ende, Bung Karno mengisi waktunya antara lain dengan mengadakan pertunjukan tonil di kompleks gereja Katolik di Paroki Imaculata. Karenanya tempat Bung Karno sering mengadakan pertunjukan tonil dahulu, sekarang disebut gedung Imaculata. Di gedung ini Bung Karno menggelar tonilnya bersama klub tonil Kelimutu.  Klub itu dinamakan Kelimutu oleh Ibu Inggit, diambil dari nama danau tiga warna yang terkenal keindahannya, yang terletak di Pulau Flores. Di kala itu Bung Karno sempat menyusun sekitar 13 naskah tonil.

Semua tempat bersejarah tersebut sementara ini sedang dipugar. Rencananya selesai 1 Juni 2013 dan akan diresmikan Wapres Boediono

(Sumber: Tempo 20 Juli 2012).

Sumber Foto: National Geographic Indonesia

Back


back to homepage button-new