< A room without books is like a body without a soul >

Resep Sayur Tumis Daun Pepaya Campur Tuna

Walentina Waluyanti – Nederland

Jika Anda datang ke rumah orang Manado, dan kalau disuguhi sayur pahit ini, jangan sampai melewatkannya. Soalnya rasanya sangat lezat. Orang Manado biasanya sangat mahir mengolah sayur ini dengan cita rasa yang  khas, setelah diramu dengan bumbu-bumbu ala Minahasa.

Sayur ini meski pahit, memang banyak digemari. Lebih enak lagi kalau dicampur dengan bunga pepaya. Biasanya sayur ini dicampur dengan sayur kangkung. Di daerah lain di Indonesia, ada juga yang mencampur daun pepaya dengan daun singkong. Di Sulawesi Utara, sayur ini merupakan salah satu sayur yang populer.

daunpepaya03

Sayur tumis daun pepaya, nikmat disantap bersama ikan saus pedas. (Foto: Walentina Waluyanti)

Orang yang memang suka rasa pahit daun pepaya, biasanya malah merebusnya begitu saja dengan sedikit garam. Lalu setelah empuk, dimakan dengan nasi hangat, daun pepaya rebus itu dicocol dengan sambal terasi dan lauk lainnya. Nikmat disantap dengan ikan, empal, daging ayam, ataupun tempe goreng. Saya sendiri lebih suka merebus daun pepaya ini begitu saja, karena memang saya penggemar sayur pahit. Tetapi untuk suami dan anak, saya mencampurnya dengan daun kangkung, dan diberi bumbu-bumbu untuk menyedapkan cita rasanya.

Di toko-toko Indonesia di Belanda, kadang-kadang ada sayur kangkung. Tapi kalau tidak ada sayur kangkung, saya mencampur daun pepaya ini dengan boerkool. Di Belanda, orang Indonesia menggunakan sayur boerkool untuk menggantikan daun singkong. Sayur boerkool di Belanda ini dijual segar, tidak dijual di dalam kemasan. Tapi di Jerman banyak dijual dalam kemasan. Karenanya jika berbelanja ke Jerman, saya sempatkan membeli sayur ini di kemasan botol/siap saji, di Jerman disebut grünkohl, warnanya hijau tua (lihat foto di bawah). Sayur ini kalau telah diiiris dan direbus, teksturnya terasa agak kesat dan kasar mirip daun singkong, meski sebetulnya bentuknya seperti kol.

daunpepaya02

Daun pepaya, grünkohl (pengganti daun singkong), dan tuna kalengan. (Foto: Walentina Waluyanti)

Sebagai variasi rasa, sayur daun pepaya ini bisa dicampur dengan sedikit ikan tuna goreng yang disuwir-suwir, bisa menggunakan tuna kalengan. Namun tanpa ikan tuna pun, sebetulnya sayur ini sudah cukup enak. Berikut ini resepnya.

RESEP SAYUR DAUN PEPAYA CAMPUR TUNA

Bahan: Daun pepaya  4 -5 pucuk yang telah direbus;; Daun singkong yang sudah direbus (Jika menggunakan kangkung, tak perlu direbus). Di Belanda sulit mendapatkan daun singkong. Sebagai penggantinya, saya gunakan sayur yang di Belanda disebut boerkool, atau di Jerman disebut grünkohl; Ikan tuna goreng yang sudah disuwir-suwir (Saya gunakan tuna kalengan); Santan blok 2 sdm; Bawang putih iris 1 sdm; Bawang merah iris 1 sdm; Cabe 5 biji atau sesuai selera pedas diiris-iris; Daun salam; Laos 1 cm geprek; Garam; Blok kaldu sebagai penyedap rasa, jika suka.

Cara membuat: Daun pepaya yang telah direbus, diiris menurut selera. Tumis bawang putih dan bawang merah hingga beraroma harum. Masukkan cabe, laos dan daun salam. Masukkan tuna, aduk-aduk hingga bumbu tercampur. Masukkan daun pepaya dan daun singkong yang telah direbus. (Jika menggunakan kangkung, langsung saja masukkan irisan daun kangkung mentah ke wajan). Masukkan ½ gelas air. Bubuhkan merica dan masukkan penyedap rasa (kaldu blok) jika suka. Jika ingin kuah yang banyak, bisa ditambah airnya dan santannya. Tapi di sini sengaja saya tidak gunakan kuah, agar rasa pahit cukup terkonsentrasi di sayur saja, tidak ditambah dengan rasa pahit kuah sayur. Ada yang menggunakan gula untuk mengurangi rasa pahit kuah sayur, tapi tetap saja saya lebih suka sayur daun pepaya tumis yang tidak menggunakan banyak kuah. Masukkan santan blok, aduk hingga santan meleleh bersama air. Diamkan sebentar hingga air mendidih. Lalu aduk-aduk. Bubuhkan blok kaldu, garam. Jika telah tercampur merata, matikan api. Sajikan bersama nasi dan lauk lainnya.

daunpepaya01

Sayur tumis daun pepaya (Foto: Walentina Waluyanti)

Resep dan Foto: Walentina Waluyanti

Copyright (c) Walentina Waluyanti 2019. All rights reserved.