Sukarno

Awal Perkenalan Sukarno-Hatta, Intrik Seputar Proklamasi, Hingga Tutup Usia

Buku Walentina Waluyanti

sukarno-hatta-front-aRead More

Written by Walentina Waluyanti

Bahasa Indonesia

Indonesische conversatie voor beginners

fotoboeken001aRead More

 Written by Walentina Waluyanti

History

Satu Ayah Lain Ibu, Asal Mula Sengketa Palestina-Israel

(Silsilah Nabi)palestina003aRead More

Written by Walentina Waluyanti

History

Mengerikan! Rumah Jagal Pemusnah Manusia (Korban Nazi Hitler)

dachau013wmaRead More

Written by Walentina Waluyanti

Art / Culture

Aryati! Aryati! Pengaruh Indonesia dalam Kultur Indisch di Belanda

aryati001wma

Read More

Written by Walentina Waluyanti

Ngintip Holland Tempo Doeloe di Pasar Tradisional

Buku Walentina di Gramedia

Buku Walentina Waluyanti di Gramedia

contract1weba

Read more

Quote by Walentina Waluyanti

fr-ww

"Jadilah penulis bermartabat, punya harga diri, dengan tidak menjiplak tulisan orang lain. Dengan pedang kehormatan dan harga diri, tulisan karya sendiri dapat mengangkat harkat penulisnya."

Dilarang memperbanyak dan melipatgandakan materi dalam website ini dalam bentuk apapun tanpa ijin Walentina Waluyanti sebagai pemilik website. Copy paste untuk kepentingan NON-KOMERSIL, harap mencantumkan nama penulis.  DILARANG KERAS MENGKOMERSILKAN karya Walentina Waluyanti tanpa IJIN TERTULIS dari saya sebagai penulis/pemilik website ini. Pelanggaran larangan ini akan menerima konsekuensi hukum melalui proses verbal.

Reproduceren en kopieeren van alle materialen van deze website van welke aard dan ook is verboden zonder toestemming van Walentina Waluyanti als eigenaar van deze website. Tevens moet men dan voor niet-commerciële doeleinden mijn naam als de auteur vermelden. Commercialiseren van het werk van Walentina Waluyanti is verboden zonder schriftelijke toestemming van mij als schrijver / eigenaar van deze website en men zal bij overtreding van dit verbod instemmen met de juridische gevolgen hiervan.

Resep Jalangkote' Makassar

Resep dan foto: Copyright @ Walentina Waluyanti – Nederland

Ini adalah pastel ala Makassar. Orang Makassar mana yang tidak mengenal jajanan ini? Gorengan gurih bernama jalangkote'. Orang Makassar biasa menyingkatnya dengan sebutan "jalkot". Hampir mirip pastel atau panada dari Manado. Bedanya jalangkote' ini rasanya lebih garing di gigitan.

Sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di Makassar (juga dengan logat Makassar yang kental), saya sangat doyan dengan jajanan Makassar ini. Sampai sekarang pun setelah tinggal di Belanda, saya masih sering membuat sendiri jalangkote' ini. Meski suami saya Belanda totok, namun ia pun sangat menyukai jalangkote' dengan lombok cuka pedas. Kuliner Makassar menurut saya salah satu kuliner terlezat di Indonesia, dan layak dipromosikan ke manca negara. Di Belanda, kadang saya menyajikan coto Makassar buat tamu. (Resepnya, silakan klik: Coto Makassar).

Ada banyak variasi isi dari jalangkote' ini. Dulu jaman  masih anak-anak, saya sering melihat anak laki-laki saling tanding-tandingan dengan teman-teman, siapa yang bisa makan paling banyak jalangkote' dengan lombok cuka super pedas. Tentu karena tanding-tandingan, jalkotnya adalah jalangkote' yang  paling murah. Harganya waktu itu Rp 20,- per biji. Dan yang paling murah biasanya adalah jalangkote' yang isinya paling sederhana, hanya mie, diberi penyedap. Maklum, dengan uang jajan anak-anak, mana mampu membeli banyak jalangkote' spesial dengan daging dan sayuran?

Dari Belanda yang sedang musim semua bunga-bunga bersemi dan bermekaran, photo1-websaya ingin membagi resep jajanan khas kota Makassar ini dengan Anda. Sebelumnya, dari kebun belakang rumah, saya memetik beberapa tangkai bunga pioen rose Holland untuk dipajang sebagai penghias jalangkote' Makassar ini.

Di kota Makassar, jalangkote' sering dijajakan penjaja keliling. Penjaja-nya biasanya anak-anak yang berjalan dari rumah ke rumah. Mereka menjajakan jalangkote' di keranjang anyaman bambu sambil berteriak “Jalaaaangkoteeee.....!!!”. Kadang ada juga yang menjajakan dengan suara mengalun khas, "Jalangkote'na dayooo..."

Daeng tukang becak yang sedang jahil dan orang yang lagi iseng biasanya menjawab teriakan sang penjaja dalam bahasa Makassar, "Tena doe'...!!!" (tidak ada uang).

Penganan kecil ini sangat populer dan digemari banyak orang. Penjualnya memasuki halaman rumah petak sederhana sampai ke rumah-rumah gedongan seperti jejeran rumah mentereng dekat Pantai Losari di jalan Haji Bau, tempat kediaman Jusuf Kalla.

Saya sendiri sangat menyukai jajanan ini. Rasanya sangat gurih, garing, sungguh nikmat disantap hangat. Namun disantap dingin pun tetap enak.

Kombinasi antara rasa kulit yang renyah, sedikit crispy, kriuk-kriuk, betul-betul maknyus meresap dengan kelezatan isinya yaitu daging, sayuran, kentang, telor rebus, mie/mihun. Sangat cocok disantap dengan saus cuka pedes. Rasa pedes ini membuat si penikmat ingin tambah dan tambah lagi.

Sebelum menyiapkan bahan, saya membuat saus pedes-nya dulu. Maksudnya biar campuran larutan cuka, air, cabe dan bawang putih bisa meresap dengan baik, sebelum akhirnya jalangkote' tersaji dan siap disantap. photo2-web

Cara membuat lombok jalangkote'/saus cuka pedes:

Rebus dengan segelas air, bahan berikut: cabe merah 10 biji (atau sesuai selera pedas), bawang putih 2 atau 3 siung. Setelah bawang putih dan lombok layu, angkat. Lalu uleg cabe bersama bawang putih tadi. Campuran cabe dan bawang putih yang telah diuleg, pindahkan di mangkok sedang. Air hangat bekas rebusan cabe tadi jangan dibuang, tuangkan, campurkan, dan larutkan air itu ke mangkok yang berisi cabe/bawang putih yang sudah diuleg tadi. Airnya jangan terlalu banyak. Bisa dikira-kira sendiri. Terlalu banyak akan membuat saus kurang pedes, terlalu sedikit, bisa jadi terlalu pedes juga. Jangan lupa bubuhi cuka sedikiiiit demi sedikit, sembari air+cuka itu diaduk, sampai diperoleh rasa asam yang diinginkan. Bubuhi juga garam dan gula secukupnya. Ada juga yang suka mencampurkan dengan sedikit susu, tapi saya lebih suka lombok jalangkote' campuran air putih dan cuka.

Sesudah membuat saus pedes, langkah selanjutnya adalah membuat isi jalang kote'.

Menyiapkan dan menumis bahan isi:

Siapkan daging cincang (ayam atau sapi), 200 gram. Kemudian rebuslah telur, 4 atau 5 butir, setelah matang diiris kecil-kecil, taruh di wadah terpisah. Siapkan juga mihun kering kira-kira 150 gram, kemudian rebus hingga matang. Setelah mihun matang, guyur dengan air dingin, agar tidak lengket, lalu tiriskan.

Selanjutnya siapkan bahan berikut, irisan bawang merah 3 sdm, irisan bawang putih 2 sdm. Juga 2 batang wortel (potong kotak-kotak kecil), 2 biji kentang (potong kotak-kotak kecil), tauge 200 gram, merica, maggie.kaldu blok, garam secukupnya, minyak goreng untuk menumis, 3 sdm.

Setelah itu, siapkan wajan. Tuangkan 3 sdm minyak goreng. Tunggu hingga minyak panas. Setelah minyak panas, masukkan bawang putih dan bawang merah. Tumis sampai layu dan wangi. Lalu masukkan wortel, tumis hingga layu. Lalu masukkan kentang, daging cincang, aduk sampai matang. Jangan lupa bubuhkan merica, garam, dan maggie blok. Jika bahan-bahan tadi sudah terlihat matang, masukkan mihun matang, aduk sampai tercampur merata. Terakhir masukkan tauge, aduk sampai seluruh bahan tercampur merata. Jangan dulu masukkan telur rebus.

Bahan kulit jangkote' yang kriuk-kriuk asoi:

Siapkan air di gelas berukuran sedang. Berapa mililiter? Kalau Anda meneruskan baca resep ini, maka Anda akan mengerti. Buatlah air garam. Takaran garamnya diperkirakan agar rasa air itu jangan terlalu asin, juga jangan terlalu hambar, karena itu yang akan menentukan gurihnya rasa kulit jalangkote'. Aduk air di gelas dengan sedikit garam yang akan digunakan sebagai campuran adonan. Saya sengaja tidak membubuhkan kaldu penyedap pada air untuk membuat kulit jalangkote' ini, agar konsentrasi rasa tidak tumpang tindih, soalnya isi jalangkote' sendiri sudah gurih.

Berikutnya siapkan 500 gram tepung terigu dan 2 sendok makan penuh margarine. Campurlah tepung dan margarine sampai merata. Untuk memudahkan dan meratakan percampuran tepung dan margarine, saya menggunakan food processor. Sementara mencampur itu, sedikit demi sedikit tuangkan juga air garam tadi ke adonan. Dengan sabar, masukkan air garam sedikit demi sedikit, jangan sekaligus, sambil tetap adonan diaduk, dicampur, diuleni. Jumlah air dikira-kira. Perkirakan jangan sampai adonan terlalu lunak karena kebanyakan air. Tapi juga jangan terlalu kering karena terlalu sedikit air.

Setelah tercampur merata di food processor, adonan itu saya pindahkan ke wadah, lalu dengan tangan, adonan itu saya campur-campur lagi tanpa ampun. Pokoknya jika campuran air dan terigu sudah cukup membuat adonan itu menjadi kenyal, tidak terlalu lembek dan lengket, ini artinya adonan itu siap untuk diolah jadi kulit jalangkote. Kalau tak sengaja menuangkan air kebanyakan, sehingga adonan menjadi lunak dan lengket, bisa ditambahkan sedikit terigu lagi, lalu campur lagi sampai merata.

Caranya mengetahui apakah adonan cukup air, jika adonan itu sudah cukup kenyal untuk dibentuk menjadi pastel. Artinya tidak terlalu lembek dan lengket di tangan, atau tidak terlihat pecah-pecah karena kering... kayak permukaan empang yang tanahnya kering pecah di musim kemarau. Sorry, bos... contohnya sedikit nggak nyambung.

Bagaimana mengetahui bahwa adonan itu telah kalis dan kenyal? Yaitu jika massa adonan itu diulurkan ke kanan dan ke kiri, ke atas dan ke bawah, hasilnya tetap elastis, tidak gampang putus. Setelah adonan tercampur merata, diamkan kira-kira 10-15 menit.

Di bawah ini foto contoh hasil kulit jalangkote' yang kenyal, sudah dibentuk dan diisi serta siap untuk digoreng.

photo3

Foto @ Walentina Waluyanti

Tahap selanjutnya, adalah mengisi bahan kulit tadi dengan bahan isi jalang kote.

Cara membentuk dan mengisi jalangkote' :

Tata wadah bersih, rata dan lebar di atas meja. Bisa juga langsung gunakan permukaan meja, namun pastikan permukaan untuk membentuk adonan jalangkote' itu bersih dan tidak berbau aneh, agar rasa jalangkote' juga tidak bercita-rasa aneh, misalnya rasa sabun. Jalkot rasa sabun? Duh! Taburi permukaan wadah rata/meja dengan sedikit serbuk terigu. Saya juga sedikit melumuri telapak tangan saya dengan terigu, agar adonan tidak lengket di tangan. Lalu saya ambil/cuwil sekepal adonan tadi. Jika adonan terasa terlalu lengket, bubuhi adonan tadi dengan sedikit terigu sampai tidak begitu lengket lagi.

Selanjutnya kepal-kepal bola adonan tadi di tangan, pipihkan dan ratakan adonan tadi di atas wadah rata dan lebar. Setelah sekepal adonan itu dipipihkan, tampak diameter dan lebarnya kira-kira berukuran sama dengan piring cangkir.

photo4

Foto @ Walentina Waluyanti

Tekan-tekan sampai rata dan tipis. Cara membuatnya menjadi tipis, gilas dengan alat penggilas seperti foto di atas, bisa juga menggunakan botol. Usahakan dibuat tipis, setipis mungkin yang mampu Anda usahakan, agar hasilnya garing dan renyah. Setelah lembaran adonan tadi menjadi pipih dan tipis, lalu diisi dengan adonan yang sudah ditumis tadi. Nah, setelah menyendokkan tumisan sayur/daging ke kulit jalangkote', jangan lupa bubuhkan juga irisan telur rebus tadi ke dalamnya. Isinya tidak perlu terlalu banyak agar bentuknya tidak pecah. Kemudian lembaran adonan yang sudah diisi itu dilipat dua, kedua sisinya dilekatkan satu sama lain sampai tertutup rapat, lalu pinggirannya dibentuk seperti kita membentuk pastel.

Tapi di sini saya memakai cara lain. Lembaran yang sudah saya kepal-kepal dan tipiskan tadi, lalu saya taruh di atas cetakan pastel. Kemudian di atas cetakan itu, lembaran pastel itu langsung di atasnya diisi dengan bahan tumisan tadi. Setelah diisi, lalu tangkup/tutup kedua sisi cetakan itu.  Hup! Nah, lebih mudah. Jalang kote' yang sudah saya isi, langsung tercetak dengan cantik dan cepat.

Selanjutnya saya menggoreng jalangkote' dengan cara yang lebih cepat, mudah dan praktis. Saya tidak menggunakan wajan penggoreng. Ada cara yang lebih efektif dan efisien. Yaitu menggoreng dengan menggunakan alat penggoreng khusus yang biasa digunakan untuk menggoreng chips, yaitu deep-fryer.

photo5-web

Foto @ Walentina Waluyanti
Begitulah, jalangkote' saya sekarang sudah siap disantap. Sajikan hangat-hangat dengan saus cuka. Pada saat mencuil/membelah jalangkote, sirami isi di dalamnya dengan sesendok saus cuka pedes tadi.
dsc02628
 Foto @ Walentina Waluyanti

photo6

Foto @ Walentina Waluyanti
Foto jalangkote'di atas tampak putih, tapi itu sebetulnya kalau matang warna coklat keemasan. Rasanya? Garing, gurih, saya suka banget karena ada campuran renyah dari campuran kentang, daging dan sayuran. Orang Makassar bilang, “ E de deee....nyaman-na mo!”. (Aduuuh, enak banget deh!).
Tidak percaya? Coba saja "jalkot" alias jalangkote' dari Daeng Walentina ini!
Ingin mencoba kuliner Makassar lain? Misalnya coto Makassar di bawah ini? Silakan klik => Coto Makassar.
coto-02ww

Salam dari Walentina Waluyanti di Belanda.

Foto dan resep: Walentina Waluyanti - Nederland

Back


back to homepage button-new