< A room without books is like a body without a soul >

Yang Paling Diuntungkan oleh Serangan di LP Cebongan

Copyright @ Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Catatan penulis: Artikel ini ditulis sebelum ada pernyataan tim investigasi TNI AD bahwa 11 oknum Kopassus terkait penyerangan di LP Cebongan.

Mulai timbul desas-desus bahwa penyerangan di LP Cebongan adalah operasi intelijen. Kalaupun motif penyerangan adalah balas dendam, ini tetap menimbulkan pertanyaan. Operasi penyerangannya terkesan teroganisir terlalu canggih  hanya untuk membayar dendam pribadi?

Pasukan terlatih  berjumlah 17 orang, butuh waktu 15 menit untuk menbantai 4 tahanan di LP Cebongan, Sleman Yogyakarta. Jika betul dugaan bahwa operasi ini adalah operasi intelijen, maka mestinya operasi ini tak bisa dilepaskan dari hierarki formal.

InilahYang1a

 Komando pasukan khusus/ Kopassus (Foto: Kopassus Tweet)

Sampai artikel ini ditulis, belum jelas adakah oknum Kopassus terlibat penyerangan seperti yang diisukan. Menuduh tanpa bukti bisa dipidana. Namun kalau toh dugaan keterlibatan Kopassus dan dugaan operasi intelijen itu benar, maka alasan balas dendam bisa jadi hanya kambing hitam. Sutiyoso mengakui Kopassus memang punya solidaritas tinggi. Kendati demikian, sulit dipercaya bahwa prajurit Kopassus begitu naif, demi solidaritas mencabut 4 nyawa tanpa motif yang lebih urgent di baliknya.

Bisa dikatakan, operasi intelijen biasanya berkepentingan melindungi kekuasaan. Isu bahwa keterlibatan Kopassus atas serangan di LP Cebongan adalah operasi intelijen, bukannya tanpa alasan. Soalnya prajurit Kopassus bukan orang-orang bodoh yang bertindak gegabah memamerkan jejak terorganisir hanya untuk dendam pribadi. Prajurit juga terbiasa dibentuk oleh dogma bahwa membela negara adalah mulia. Soal apakah membela negara diterjemahkan menjadi membela penguasa, ini lain perkara.

Gertak terhadap 'kudeta' 25 Maret?

Jika operasi intelijen memang bertujuan melindungi kepentingan kekuasaan (di mata prajurit ini artinya mematuhi garis komando), maka bisa terbaca siapakah yang paling diuntungkan dengan penyerangan LP Cebongan.

Straight to the point. Tanpa bermaksud menuduh pihak manapun, penyerangan Cebongan bisa menimbulkan interpretasi sebagai  “gertak”. Gertak yang tersasar pada kudeta 25 Maret. Secara langsung atau tak langsung,  penyerangan Cebongan membawa keuntungan sendiri bagi pihak penguasa.

Penyerangan LP Cebongan terjadi 23 Maret. Dan isu penggulingan SBY direncanakan 25 Maret. Secara samar, selang waktu yang sangat dekat antara kedua peristiwa tadi, bisa menimbulkan multi tafsir. Yang jelas, jika benar ini operasi intelijen, maka prajurit tak pernah bersalah, selama tindakannya itu berdasarkan garis komando dari atas. Prajurit hanya bertindak berdasarkan hierarki. Perintah komandan, tidak bisa tidak, harus dilaksanakan oleh prajurit.

Hasilnya? Tewasnya 4 tahanan bersimbah darah bisa jadi telah menurunkan tensi MKRI yang dimotori Ratna Sarumpaet dan Adhie Massardi. MKRI disebut-sebut merencanakan penggulingan SBY. Adhie Massardi, Sekjen MKRI yang tadinya berapi-api menjadi turun voltage-nya. Padahal tadinya media memberitakan bahwa ia menuntut agar SBY mundur, dengan batas waktu hingga 24 Maret. Jika sampai batas waktu itu SBY tidak mundur, maka tanggal 25 Maret akan ada demonstrasi besar-besaran. Namun sebelum skenario itu terjadi, pembantaian di LP Cebongan membuat seluruh negeri tersentak, tentu termasuk jajaran MKRI. Terlebih nama Kopassus yang seolah dibiarkan terbawa-bawa dalam penyerangan itu, membuat kasus ini semakin menyeramkan.

Rasanya penyerangan LP ini juga cukup efektif untuk memberi efek kejut bagi rencana kudeta-kudeta lain. Tanpa bukti, sulit untuk mengatakan ini semacam shock therapy. Namun orang belum bisa melupakan curhat SBY beberapa minggu sebelumnya. Kata SBY, menurut informasi intelijen ada pihak-pihak yang mencoba menggulingkannya.

InilahYang2a

Unjuk rasa MKRI di depan Gedung YLHBI (Foto: Vivanews)

Entah apakah ada upaya menggiring kasus Cebongan ke Kopassus, namun ada message yang sulit ditepis. Yaitu, “Jangan coba-coba bermain dengan kami, kalau tidak ingin bernasib seperti ke-4 orang di sel ini.” Entah disengaja atau tidak, Kopassus sang pembela negara tiba-tiba dimunculkan sebagai garda terdepan yang siap menumpas. Dan si penikmat keuntungan dari serangan ini, untuk sementara bisa tenang di kursi kekuasaannya hingga 2014.

Mungkin juga efek kejut penyerangan LP Cebongan ini membawa pengaruh. Tiba-tiba saja isu penggulingan 25 Maret 2013, terkesan diganti judulnya menjadi “pembagian sembako”. Oalaaah!

fr-wwWalentina Waluyanti

Author of book Tembak Bung Karno Rugi 30 Sen

About Me

Copyright (c) Walentina Waluyanti 2019. All rights reserved.