Siapa Bilang Sri Sultan, Suami Ratu Hemas Tidak Berpoligami?

Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Sri Sultan suami Ratu Hemas itu diam-diam diidolakan para wanita Indonesia, lho! Mengapa ia diidolakan perempuan Indonesia, dipaparkan lebih lanjut di tulisan ini. Padahal, selain GKR Hemas istrinya, Sri Sultan juga punya istri lain. Tetapi istri Sultan yang satu lagi, tidak membuat para perempuan menjadi marah padanya. Soalnya berpoligaminya Sri Sultan di sini adalah “berpoligami” (dalam tanda kutip). Artinya istri lain dari Sri Sultan adalah istri mistiknya, yaitu “Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul”. Bagaimanakah sosok istri mistik Sri Sultan ini?

Pelukis Basuki Abdullah pernah menampilkan Nyai Roro Kidul menurut khayalannya sebagai seniman. Sosok sang Dewi Laut Selatan, dilukiskannya seperti di bawah ini. Rambutnya panjang dengan kecantikan khas Jawa. 

siapabilang001a

Foto: Lukisan Nyai Roro Kidul, karya Basuki Abdullah

Ayahanda Sri Sultan Hamengkubuwono X, yaitu almarhum Hamengkubuwono IX, mengaku pernah melihat sosok Nyai Roro Kidul. Entah apakah yang ia maksud pernah melihat Nyai Roro Kidul dalam arti sebenarnya ataukah “melihat” secara batin. Yang jelas Sri Sultan Hamengkubuwono IX menyatakan pernah “melihat” Nyai Roro Kidul setelah menjalani ketentuan seperti berpuasa selama beberapa hari, dan ketentuan lainnya.

Menurut kepercayaan, pada saat bulan naik, wajah Nyai Roro Kidul digambarkan sebagai gadis yang sangat cantik. Sebaliknya pada saat bulan mulai tenggelam, Nyai Roro Kidul tampak seperti wanita tua.

Menurut tradisi turun temurun, Raja Jawa memang dipercaya bukan hanya penguasa daratan. Raja juga menguasai lautan. Oleh karenanya semua Raja Jawa,  termasuk Sri Sultan dianggap sebagai suami dari penguasa Laut Selatan, yaitu Nyai Roro Kidul. Bagaimanakah timbulnya kepercayaan ini, saya tulis di artikel, klik “Putri Pembayun dan Khalifatullah Zaman Mataram”.

Untuk menghormati Nyai Roro Kidul, setiap tahun ada tradisi nglabuh, tradisi melabuhkan sesuatu ke Laut Jawa. Diadakan pada setiap hari kelahiran Raja, menurut hitungan Jawa. Yang dilabuhkan ke laut antara lain pakaian lama dan pakaian baru Raja.

siapabilang002a

Foto: Sri Sultan Hamengkubuwono X (Foto: erininthelioncity)

Jika Hamengkubuwono IX mengaku pernah “melihat” Nyai Roro Kidul, bagaimanakah dengan putranya yang bernama Herjuno Darpito atau Sri Sultan yang sekarang? Sejauh ini, setiap kali ditanyakan tentang Nyai Roro Kidul, Sri Sultan Hamengkubowono X terkesan menghindar menjawab pertanyaan itu. Ia seakan menyimpan hal ini sebagai privacy yang tidak perlu dibuka kepada publik. 

Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul memang bukan sekadar kisah mistik belaka, tetapi merupakan bagian dari mitologi Jawa. Dunia Barat menghormati mitologi Yunani yang merupakan bagian dari budaya, dan masih terus dilestarikan hingga kini. Begitu pula orang Jawa menghormati mitos Nyai Roro Kidul, sebagai bagian dari tradisi leluhur.

Mitos Nyai Roro Kidul hidup pada zaman dahulu, karena sejak tradisi purba, masyarakat memuja para dewata. Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul dipercaya sebagai penjelmaan Dewa yang menyuburkan alam. Laut memberi kehidupan kepada manusia. Dalam konteks inilah masyarakat kuno menghormati dewata yang memberi kehidupan itu. Sama halnya dengan masyarakat primitif yang menghormati padi yang memberi kehidupan, padi pun disimbolkan sebagai perempuan dalam mitologi Jawa, yang dinamakan Dewi Sri.

Pada dasarnya sosok “wanita/ibu” yang memberi kehidupan, selalu digambarkan sebagai sosok yang harus dihormati. Karena itu simbol Dewi Laut (Nyai Roro Kidul) dan simbol Kesuburan atau Dewi Padi (Dewi Sri), menjadi dewa yang dipuja. Itu sebabnya dalam tradisi kerajaan-kerajaan Hindu pada masa lalu, mengangkat perempuan sebagai pemimpin pemerintahan/kerajaan, bukanlah hal yang tabu.

Kembali kepada sosok Hamengkubuwono X, ia adalah sosok yang tidak saja menghormati “Dewi” secara simbolis. Tetapi dalam kenyataan, ia menunjukkan teladan sebagai Raja yang menghormati istri dengan cara tidak berpoligami. Meskipun poligami menurut agama tidak dilarang, tetapi Sri Sultan menyadari kodratnya sebagai manusia biasa, bukan Nabi yang bisa berlaku adil kepada istri-istrinya, dan karenanya ia memilih tidak berpoligami.

siapabilang003a

Foto: Sri Sultan Hamengkubuwono X. Tampak di belakangnya istri Sri Sultan GKR Hemas, dan dua putrinya berkebaya krem (GKR Pembayun dan GKR Hayu).

Faktanya, poligami pasti menyakitkan bagi perempuan manapun. Bahkan tidak perlu jadi korban poligami pun, para wanita umumnya marah jika melihat sesamanya wanita yang dimadu. Itu sebabnya Bung Karno didemonstrasi para perempuan ketika ia menikah lagi dengan Hartini (saya ulas tentang Sukarno yang poligamis dan Hatta yang monogamis di buku saya, telah beredar di Gramedia, klik "Sukarno Hatta Bukan Proklamator Paksaan").

Tidak menyakiti istri, adalah salah satu cara Sri Sultan mencintai dan menghormati istri. Kesetiaannya kepada istri, tidak menyalahgunakan kekuasaan sebagai Raja untuk mengambil istri lain, membuat Sri Sultan menjadi role model suami setia yang dikagumi perempuan Indonesia.

Padahal sebagai Raja yang berkuasa, apa susahnya memilih perempuan lain? Terlebih, kalau mau berpoligami, bisa saja ia menggunakan alasan karena menginginkan anak anak laki-laki sebagai penerus tahta, mengingat adat yang mengharuskan hanya pria yang boleh memimpin keraton Yogya. (Sebagaimana diketahui, kelima anak Sri Sultan semuanya perempuan). Tetapi Sultan tetap tidak menggunakan kekuasaannya untuk mengambil istri lain.

Saat ini Sri Sultan sedang diserbu pro dan kontra tentang rencananya menyiapkan putri sulungnya, Putri Pembayun sebagai pemangku tahta keraton Yogya berikutnya. Ini artinya Sri Sultan adalah Sultan Yogya pertama yang mendobrak adat. Dikabarkan, beberapa kalangan keraton ada yang keberatan dengan rencana pencalonan Putri Pembayun. Menurut tradisi, hanya pria yang diperbolehkan menduduki tahta untuk memimpin keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Raja dianggap juga sebagai "Imam", pemimpin agama. Perempuan tidak diperbolehkan sebagai imam.

Sementara itu Sri Sultan tampaknya memiliki wacana baru yang disesuaikan dengan pergantian zaman. Jika dahulu Raja adalah pemimpin pemerintahan sekaligus imam atau pemimpin agama, maka kini Raja memasuki era baru, dan karenanya dituntut menyesuaikan dengan perubahan zaman. Menurut konteks kekinian, peran Raja bisa diterjemahkan sebagai kepala pemerintahan yang bertindak di bawah tuntunan Allah Yang Maha Kuasa. Oleh karenanya perempuan juga bisa menduduki tahta keraton. Kurang lebihnya begitulah wacana yang melatar-belakangi pencalonan GKR Pembayun (GKR Mangkubumi) sebagai penerus tahta menggantikan ayahandanya.

sultan yogya dan putri

Foto: Sri Sultan Hamengkubuwono X dan GKR Hemas, bersama anak-anak. Berdiri dari kiri: GKR Bendoro, GKR Condrokirono, GKR Pembayun (GKR Mangkubumi), GKR Hayu, GKR Maduretno. (Sumber foto: JIBI Photo)

Suara-suara penolakan terhadap rencana Sri Sultan untuk memberi tahtanya kepada putri sulungnya, mulai terdengar. Penolakan ini berdasarkan argumen bahwa berdasarkan tradisi, adik laki-laki Sri Sultan lebih berhak menggantikan Sri Sultan dibanding Putri Pembayun.

Lain pendapat kerabat keraton, lain pula pendapat perempuan Indonesia yang umumnya mengidolakan Sri Sultan karena penolakannya terhadap poligami. Seandainya Sri Sultan mengangkat putri sulungnya sebagai pemangku tahta menggantikan dirinya, rasanya sulit bagi perempuan Indonesia (meski bukan warga Yogya) untuk tidak menyetujuinya. Perempuan Indonesia mana yang tidak menjunjung kesetaraan gender? Oleh karenanya, mengangkat GKR Pembayun (GKR Mangkubumi) sebagai penerus tahta, adalah gebrakan emansipasi yang ditunggu-tunggu!*** (Penulis: Walentina Waluyanti, anggota Indische Letteren/KITLV yang berfokus pada kajian studi sejarah, di antaranya sejarah Indonesia-Belanda).

Artikel terkait: Putri Pembayun dan Khalifatullah Zaman Mataram

fr wwWalentina Waluyanti, penulis buku "Sukarno Hatta Bukan Proklamator Paksaan"

About Me

 

Add comment