< A room without books is like a body without a soul >

Negeri Para Bedebah! Amuk Mas Adhie

Penulis: Walentina Waluyanti – Belanda

Ia menyatakan menyiapkan penggulingan SBY. Katanya, ‘Bila negerimu dikuasai para bedebah. Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah. Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum. Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya.’ Begitu kalimat mantan jubir Gus Dur, yang pernah dibacakannya di KPK.

 

NegeriPara-1a

Susilo Bambang Yudhoyono (Foto: viva.co.id)

Adhie Massardi, budayawan, seniman, yang sangat vokal mengkritik pemerintahan SBY. Kemarahannya atas kondisi negeri membuatnya menulis puisi ‘Negeri Para Bedebah’ yang pernah dibacakannya di KPK. Adhie pernah menjadi  juru bicara mantan Presiden Abdurrahman Wahid. Saat ini ia menjabat sebagai Sekjen Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (MKRI).

Februari lalu SBY marah, menuding Adhie Massardi (juga Fuad Bawazir dan Ratna Sarumpaet) telah melaporkan presiden sebagai pengemplang pajak.                                                                                      Adhie Massardi (Foto: merdeka)

Bukannya ciut disemprot SBY, kini Adhie malah lebih garang lagi. NegeriPara-2aKritiknya empat tahun lalu melalui puisinya 'Negeri Para Bedebah', belum berhenti sampai di situ. Sampai sekarang ia tetap konsisten dengan kritiknya.

Malah makin terang-terangan ia membuka front melawan presiden, dengan menyatakan menyiapkan penggulingan SBY. Ia memberi batas waktu hingga 24 Maret 2013 bagi SBY untuk mundur. Alasan mengapa SBY harus mundur? Kata Adhie, pemerintahan SBY gagal menyejahterakan rakyat, melakukan perubahan, memberantas korupsi, dan lainnya. Menurutnya, ‘Perlu segera dilakukan revolusi, karena SBY-Boediono adalah dalang korupsi terbesar di negeri ini.’

Konflik Adhie vs SBY ini membuat saya teringat pada teori Hukum Kodrat Thomas Aquinas filsuf Italia (1225-1274). Menurut Aquinas, pemimpin itu ditunjuk oleh rakyat, berdasarkan suatu perjanjian. Konsekuensinya, rakyat harus taat pada pemimpinnya, dengan catatan sejauh pemimpin itu tidak melanggar perjanjian, yaitu mengusahakan kepentingan masyarakat atau kesejahteraan umum. Jika perjanjian tadi  dilanggar oleh pemimpin, menyalahgunakan kekuasaan demi kepentingan sendiri, maka perjanjian itu tidak berlaku lagi. Dengan sendirinya rakyat tidak perlu lagi menaati pemimpinnya. Atas perjanjian pelanggaran itu, oleh karena pemimpin itu ditunjuk oleh rakyat, maka rakyat yang sama itu pula berhak menyingkirkan kekuasaan sang pemimpin.                                                            

Roh dalil Aquinas seakan bangkit kembali dalam pernyataan Adhie, “Yang nyata terlihat SBY lebih konsen mengurus partainya dari pada kemiskinan yang melilit rakyat Indonesia,” Menurutnya, SBY telah meninggalkan tugasnya untuk mengurus bangsa dan negara sebagaimana sumpah jabatan. SBY lebih fokus mengurusi partainya sendiri. Kata Adhie seperti dilansir oleh Terbit,  “Di segala sektor tidak ada perubahan, justru tambah amburadul. Ini ekses ketidakpedulian SBY terhadap rakyat Indonesia.”

Dalam teori Aquinas, jika rakyat tak lagi taat karena pemimpin NegeriPara-3amelanggar perjanjian, jangan dikira dengan demikian rakyat itu melanggar kesetiaannya. Thomas Aquinas menulis, ‘…Karena raja sudah sepantasnya mengalami bahwa bawahan-bawahannya tidak menepati perjanjian mereka dengannya, karena ia sendiri dalam memerintah rakyat tidak setia kepadanya sebagaimana menjadi kewajiban seorang raja.’

Berabad-abad lalu teori Thomas Aquinas itu ditulis. Namun masih relevan dengan politik dan hukum terkini. Sampai saat ini, teori Thomas Aquinas masih menjadi pokok bahasan dalam kuliah bidang ilmu-ilmu sosial, politik, dan hukum.

Kembali ke Adhie Massardi yang mengultimatum SBY agar mundur hingga 24 Maret 2013. Jika tidak maka akan ada revolusi. Tentu SBY akan merasa ia digertak. Mana ada seorang jenderal yang sudi digertak seorang seniman? Dan Adhie Massardi pasti tahu itu. Ia tentu sudah berhitung. Adhie menekankan, aksi penggulingan SBY ini berbentuk aksi damai.                                                                                        Foto: Thomas Aquinas

Bagaimanapun, Adhie Massardi telah mewarnai perpolitikan dengan caranya yang khas seniman. Di tengah sistem yang masih terpasung kultur ewuh pakewuh, ia berani memberi warna kesetaraan antara yang dipimpin dan yang memimpin. Soal tujuannya berhasil atau tidak, itu soal lain.

Bagaimanakah jika revolusinya itu mentok? Jawabnya logis, rasional, tertera pada puisi karya Adhie Massardi sendiri, seperti di bawah ini. Puisi ini pernah dibacakannya di halaman KPK, pada acara malam seni anti korupsi, 2 November 2009.

Negeri Para Bedebah

Puisi karya: Adhie Massardi

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor menjatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negara para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dan mengais sampah
Atau menjadi kuli di negeri orang
Yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedangkan rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila melihat negeri dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi, dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan.

fr wwWalentina Waluyanti

Penulis buku Tembak Bung Karno Rugi 30 Sen

About Me

Copyright (c) Walentina Waluyanti 2019. All rights reserved.