< A room without books is like a body without a soul >

Ketika Soeharto Membujuk Jenderal Sudirman

Penulis: Copyright @ Walentina Waluyanti de Jonge

Mbak Tutut pernah mengatakan, di matanya ayahnya terlihat sangat gagah terutama ketika masih sebagai prajurit muda dengan seragam militer. Rasanya Mbak Tutut tidak salah. Di luar pro kontra, suka atau tidak suka, kalau berbicara soal penampilan, Soeharto termasuk pria Indonesia yang good looking dan berwibawa. Semua anak pastilah punya kenangan tersendiri yang membuat mereka bangga kepada ayahnya. Namun di luar kebanggaan Mbak Tutut sebagai anak, umumnya semua anak bangsa bangga terhadap para prajurit yang ikut berjuang membela bangsanya. Peran Soeharto sebagai Presiden, hingga kini masih tersandung dengan isu HAM. Terlepas dari kontroversi tadi, namun semasa revolusi memang Soeharto berperan sebagai salah satu prajurit yang ikut terlibat dalam pertempuran saat Belanda melakukan agresi militer. 

Foto: Letkol Suharto

Sejak 4 Januari 1946, Yogyakartaketika001 dijadikan pusat pemerintahan. Hal ini disebabkan pasca kemerdekaan 17 Agustus 1945, Jakarta sebagai ibukota dinilai sudah tidak aman. Sri Sultan mengusulkan, untuk sementara ibukota dipindahkan saja ke Yogyakarta. Setelah kedatangan Sekutu, di Jakarta sering terjadi konflik senjata. Maka Bung Karno dan Bung Hatta sebagai pemimpin negara, juga pindah “berkantor” di Yogyakarta. Setelah ibukota dipindah ke Yogyakarta, Belanda terus mengejar para pimpinan RI. Belanda menyasarkan serangan militernya ke Yogyakarta, dan berhasil meduduki kota itu. Maka perjuangan mati-matian pun dilakukan oleh para prajurit Indonesia untuk merebut kembali kota Yogyakarta. Peperangan melawan Belanda ini dipimpin oleh Jenderal Sudirman sebagai Panglima Besar, dengan bergerilya dari hutan ke hutan.

Di antara prajurit yang ikut bergerilya ke hutan adalah Letnan Kolonel Suharto sebagai Komandan Brigade X-Wehrkreise III. Dalam posisinya sebagai Komandan Pasukan, Suharto bertindak berdasarkan hierarki kemiliteran, yaitu berdasarkan komando dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX (Letnan Jenderal) dan Panglima Besar Jenderal Sudirman. Dengan bertindak berdasarkan komando atasan, peran Soeharto banyak disebut dalam Peristiwa Serangan Umum 1 Maret. Hal ini terutama banyak dipropagandakan pada masa Orba. Peristiwa ini memberikan efek kejut, yaitu bahwa Angkatan Perang Indonesia ada dan eksis. Ini turut memberi nilai plus dalam memperjuangkan kedaulatan Indonesia di meja-meja perundingan.

Yang hebat adalah pemimpin perang gerilya ini adalah Jenderal yang kondisi fisiknya lemah, kurus, tidak berdaya. Karena TBC telah menggerogoti tubuhnya. Kendati demikian, wibawanya sangat kuat, mampu menggerakkan Angkatan Perang Indonesia. Pasukan dan pejuang gerilya yang tesebar di hutan-hutan, tunduk pada perintahnya. Taktik gerilya itu dijalankan untuk menghambat pergerakan musuh.

sudirman suharto

Foto: Letkol Suharto mendampingi Jenderal Sudirman memasuki kota Yogyakarta.

Ketika akhirnya Yogyakarta berhasil direbut kembali dari Belanda, ini artinya Belanda harus meninggalkan Yogyakarta. Dengan dikosongkannya Yogyakarta dari kehadiran serdadu Belanda, maka Yogya sudah aman untuk dimasuki para prajurit yang sebelumnya masih bergerilya di hutan-hutan. Maka kepada para prajurit yang masih berada di hutan, diimbau untuk kembali ke Yogyakarta.

Yang jadi masalah, Panglima Besar Sudirman tetap kokoh tidak ingin masuk ke Yogyakarta. Akibatnya para prajurit juga mengikuti jejak Sudirman, enggan kembali masuk ke Yogyakarta. Padahal para prajurit ini dibutuhkan pula kehadirannya di dalam kota. Jenderal Sudirman ingin terus bergerilya di hutan memimpin pertempuran, hingga Indonesia telah benar-benar mendapat pengakuan atas kedaulatannya. Saya menuliskan juga tentang Jenderal Sudirman di buku karya saya berjudul, klik: Sukarno-Hatta: Bukan Proklamator Paksaan.

Sebelumnya Sri Sultan telah mengirim surat kepada Jenderal Sudirman agar kembali ke Yogya. Namun Sudirman tetap pada pendiriannya. Ia ingin tetap bergerilya di hutan. Bung Karno dan Bung Hatta juga mengimbau agar Sudirman kembali ke Yogyakarta. Namun tidak berhasil. Kolonel Gatot Subroto juga mengirim surat  imbauan kepada Panglima Besar. Hasilnya nihil. Semua bujukan itu tidak membuat Jenderal Sudirman berubah pikiran.

ketika002

Foto: Jenderal Sudirman yang sudah lemah, diangkut dengan tandu.

Sebetulnya semua pihak mengkhawatirkan kondisi Jenderal Sudirman. Ia baru saja menjalani operasi, sehubungan dengan sakitnya. Luka operasinya belum mengering. Sakit paru-paru yang diderita Sudirman, bukan semakin membaik, malah semakin parah. Kendati demikian, Sudirman tetap pantang menyerah terus aktif memimpin pertempuran.

Akhirnya Sri Sultan menugaskan Soeharto untuk langsung menjemput Jenderal Sudirman. Ketika itu Sudirman berada di hutan di daerah Karangmojo. Setelah dibujuk oleh Soeharto, Jenderal Sudirman akhirnya luluh. Soeharto pun berhasil ketika003“memboyong” Sudirman ke Yogyakarta. Karena fisiknya sangat lemah, Sudirman terpaksa diangkut dengan tandu. Rombongan ini tiba di Yogyakarta pada 10 Juli 1949. Kemudian Soeharto mengantar Sudirman menghadap Sukarno di Kepresidenan.

Foto: Jenderal Sudirman didampingi Suharto, akhirnya kembali ke Yogyakarta. Di sebelah Suharto tampak Soepardjo Rustam, ajudan Jenderal Sudirman (berdiri di latar depan, paling kanan).

Setiba di Kepresidenan, dengan didampingi Kolonel TB Simatupang, Jenderal Sudirman menghadap Sukarno sebagai Kepala Negara. Sukarno menyambut Sudirman dengan mata berkaca-kaca. Presiden berterima kasih kepada Sudirman atas jasanya yang telah memimpin perjuangan Angkatan Perang Republik Indonesia. (Tentang Sukarno dan Sudirman saya tulis lebih lanjut di buku karya saya, klik "Sukarno Hatta Bukan Proklamator Paksaan"

Enam bulan sesudah penjemputan Sudirman di hutan, akhirnya Panglima Besar itu wafat. Sudirman meninggal dunia di rumahnya di Magelang, 29 Januari 1950. Ia meninggal saat masih dalam perawatan, sekembalinya dari Rumah Sakit Panti Rapih.

Ketika kelak menjadi Presiden RI, Soeharto mengangkat ajudan Jenderal Sudirman, yaitu Soepardjo Rustam sebagai Menteri Dalam Negeri dan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat.*** (Penulis: Walentina Waluyanti, historical book writer, anggota Indische Letteren/KITLV di Leiden yang berfokus pada studi kajian sejarah)

walentina01Walentina Waluyanti de Jonge, penulis buku "Sukarno Hatta Bukan Proklamator Paksaan"

About Me 

 

Artikel terkait buku:

Putri Bung Hatta Membedah Buku Walentina Waluyanti

 

Copyright (c) Walentina Waluyanti 2019. All rights reserved.