Kejahatan di Balik Gagalnya Kapal Batavia ke Batavia

Penulis: Walentina Waluyanti

Jakarta yang dulu bernama Batavia, masih jauh lebih tua usianya dibanding Kota Batavia di Belanda ini. Batavia Stad (kota Batavia) di Lelystad ini baru dibuka pada tahun 2001. Batavia Stad atau Kota Batavia, populer di Belanda, karena merupakan pusat oulet yang pertama di Belanda. Selain itu di tempat ini juga ada museum Batavialand.

 KisahdiBalik01

Pintu gerbang Batavia Stad (Foto: Walentina Waluyanti)

Yang paling menarik dari Batavia Stad adalah berdirinya replika kapal Batavia di kawasan ini. Dibuat semirip mungkin dengan aslinya. Bangunan kapalnya kokoh dengan detail yang menarik. Dengan melihatnya saja, bisa memberi bayangan bagaimana negara kecil—yang pada abad ke-17 karena penguasaan teknologi pelayaran—sampai bisa menguasai hampir separuh dunia.

Kapal VOC ini bernama kapal Batavia, namun tak pernah sampai ke Batavia, Hindia-Belanda. Pelayaran itu gagal, karena kapal ini menabrak karang di Australia, di perairan di kepulauan Houtman Abrolhos.

Kapal ini telah menjadi puing-puing. Sisa bagian belakang kapal ditemukan pada tahun 1963, dan dipajang di Museum Fremantle, Australia Barat. Kapal Batavia sendiri resmi ditetapkan sebagai warisan budaya Kerajaan Belanda.

Berangkat dari Texel, Belanda pada 29 Oktober 1628, kapal ini berlayar menuju Batavia. Sebagai kapal dagang, kapal ini tadinya direncanakan akan mengangkut rempah-rempah dari Nusantara, untuk dipedagangkan kembali di Eropa. Namun ekspedisi ini berakhir menjadi tragedi mengerikan, yang kisahnya terus hidup hingga kini.

Kapal Batavia (Foto: Walentina Waluyanti)

Ketika itu, ada tiga petinggi di kapal VOC yang menjadi penanggungjawab dalam ekspedisi. Ada nakhoda Adriaan Jacobszoon yang bertanggungjawab atas pelayaran kapal. Ada saudagar VOC, Francois Pelsaert, komandan yang bertanggungjawab untuk urusan muatan kapal dan perdagangan. Wakil komandan untuk urusan dagang adalah Jeronimus Corneliszoon.

Sejak awal, pelayaran ini sudah diwarnai ketidakcocokan antara nakhoda dan Francois Pelsaert. Sebelum pelayaran, sudah pernah ada cekcok di antara keduanya.

Sementara itu, ketika berangkat, kapal Batavia memuat banyak emas dan perak. Emas dan perak? Emas dan perak ini bukan milik pribadi, tapi milik VOC.

Dengan emas dan perak itu, orang bisa menjadi kaya raya. Dan bisa hidup di mana saja di tempat yang disukai. Ini membuat nakhoda Adriaan Jacobsz dan asisten Pelsaert, Jeronimus Corneliszoon tergoda.

Beberapa sumber menyebut Corneliszoon adalah psikopat. Dan akhirnya memang ia menjadi sumber masalah dari tragedi mengerikan ini.

Parahnya, nakhoda malah berkomplot dengan Cornleiszoon untuk menguasai emas dan perak itu. Selama pelayaran, mereka memancing provokasi di antara awak kapal. Tujuannya untuk mendapatkan dukungan demi melancarkan aksinya.

Ketika kapal Batavia terjebak di karang, komandan urusan dagang, Francois Pelsaert dan sejumlah kecil penumpang naik kapal penyelamat, mencari bantuan. Mereka menuju Pulau Jawa.

Pelsaert yang tidak menyadari rencana jahat Corneliszoon, malah menugaskannya untuk mengurusi sisa penumpang yang menunggu di pulau. Saat inilah kemudian Corneliszoon dan para pengikutnya membunuhi sejumlah sisa penumpang, termasuk wanita dan anak-anak. Para penumpang yang dianggap menjadi penghalang bagi rencananya, dibunuh satu per satu. Alasan lain, dengan membunuh sejumlah penumpang, maka mereka mempunyai lebih banyak persediaan makanan.

Ketika itu teknologi pelayaran belum secepat sekarang. Dua bulan kemudian, Pelsaert kembali ke pulau untuk menyelamatkan sisa penumpang. Tetapi ada serdadu yang lebih dahulu menemui Pelsaert dan menceritakan kekejaman Corneliszoon. Pelsaert kemudian menyelamatkan sisa penumpang yang masih hidup.

KisahdiBalik03

Ruang nakhoda kapal Batavia (Foto: Walentina Waluyanti)

Selanjutnya Pelsaert mengadili para pelaku utama dan pelaku kejahatan terberat, yang  langsung dijatuhi hukuman mati di Pulau Seal. Pelsaert mencatat kejahatan para pelaku, yaitu pembunuhan para penumpang Batavia, pemerkosaan kepada para wanita, penjarahan harta benda milik VOC dan barang berharga milik penumpang dan awak kapal, serta pengkhianatan.

Kepada wakilnya, Jeronimus Corneliszoon, Pelsaert menjatuhkan hukuman gantung setelah kedua tangannya dipotong. Pelaku lainnya dibawa ke Batavia untuk menjalani hukuman, termasuk nakhoda yang menjalani hukuman penjara di Batavia. Dua orang ditinggalkan begitu saja di Southland sebagai hukuman. Akhirnya dari 341 penumpang, tersisa 116 penyintas yang bisa diselamatkan ke pelabuhan Batavia.

Sampai tahun 2017, masih ditemukan sisa tulang belulang korban yang terkubur di pulau di sekitar lokasi karamnya kapal. Beberapa tahun sebelumnya telah ditemukan kuburan massal dari para korban. Sehingga lokasi di pulau kecil di Houtman Abrolhos, di lepas pantai barat Australia ini, sering juga disebut “Makam Batavia”.

Kapal Batavia adalah kapal yang tidak pernah mencapai Batavia, namun kisahnya terus bergaung sampai ratusan tahun kemudian. Bahkan menginspirasi lahirnya banyak kisah fiksi, novel dan film di seluruh dunia.***

(Penulis: Walentina Waluyanti)

Add comment