Janggut Politik dan Janggut Agus Salim

Copyright @ Penulis: Walentina Waluyanti – Belanda

Janggut atau jenggot? Kadang disebut jenggot, terutama kalau terbakar. Kebakaran jenggot. Entah kenapa jarang disebut kebakaran janggut. Yang jelas, soal janggut ini jangan sembarangan dijadikan bahan olok-olok. Terlebih memelihara janggut adalah sunnah Rasul. Karena itu penampilan pria berjanggut bisa memberi kesan agamis. Walau tentu tidak harus selalu begitu. Kata Sujiwo Tejo, “Karl Marx yang atheis itu ‘kan berjanggut juga."

Sebetulnya mitos janggut ini sudah ada sebelum lahirnya peradaban Islam. Di jaman Macedonia memelihara janggut dianggap sebagai lambang kearifan. Karena itu para filsuf kebanyakan membiarkan janggutnya bertumbuh panjang. Di abad pertengahan, janggut (dan cambang) juga adalah simbol kejantanan dan kekuatan. Dalam sejarah modern, janggut dan cambang kemudian berkembang menjadi identitas politik. Misalnya terlihat pada penampilan Fidel Castro dan Che Guevara.

janggut1a

Foto: Che Guevara dan Fidel Castro

Di Indonesia, baru belakangan ini saja janggut dikait-kaitkan dengan politik. Semakin banyak politisi berjanggut, terutama dari  partai berbasis agama. Mungkin karena itu banyak yang kebakaran jenggot tatkala satu media menggunakan istilah ‘sapi berjanggut’. Sehingga MUI pun melayangkan protes. Menurut MUI, memakai istilah ‘sapi berjanggut’ adalah melanggar etika. Karena dipandang menyudutkan partai Islam.

Luthfi Hasan Ishaaq mantan Presiden PKS, berjanggut, dan selama ini mendengang-dengungkan partainya adalah partai terbersih. Terang saja penangkapannya oleh KPK, memukul para pendukungnya. Tertangkapnya Luthfi karena kasus daging sapi impor, memang fenomenal. Bukan karena Luthfi berjanggut. Masalahnya politisi berjanggut yang tadinya identik dengan ‘politisi bersih’, menjadi obyek sinisme politik di media. Sehingga muncul istilah ‘sapi berjanggut’ yang diributkan itu. Harapan publik kadang melambung melebihi kapasitas pemimpin yang bersangkutan. Seorang pemimpin, terlebih yang menggunakan atribut kereligiusan, tentulah diharapkan lebih bersih dan amanah.

Jika dulu janggut dikonotasikan dengan kambing, kini sapi pun sudah masuk ranah perjanggutan. Ini menggambarkan bagaimana dunia politik itu tidak saja keras, tapi juga sensitif. Janggut bisa merambat kemana-mana. Sapi dan kambing yang tak berdosa bisa terseret hiruk-pikuk politik.

Sebetulnya mengherankan juga banyak yang tersinggung ketika sapi disebut berjenggot. Mestinya yang tersinggung ‘kan sapinya. Apalagi kalau sapinya ternyata klimis.

Tapi omong-omong soal janggut, saya mesti beri jempol pada cara Agus Salim dalam mempertahankan ‘kehormatan janggutnya’. Haji Agus Salim adalah Pahlawan Nasional, negarawan yang lurus dan jujur, juga  mantan Menteri Luar Negeri di tahun 1950-an.

janggut2a

Foto: Haji Agus Salim bersama Soekarno

Dalam satu kesempatan, Agus Salim menyampaikan pidatonya. Setiap ia menyelesaikan satu kalimat, pemuda-pemuda yang hadir mengejeknya, “Mbeeek…mbeeek…mbeeek”. Dengan kata lain, mereka mengejek Agus Salim yang berjanggut itu sama dengan kambing.

Agus Salim yang berkarakter kuat, menanggapi dingin ejekan para pemuda itu. Katanya, “Saya senang, pidato saya ini bukan cuma dihadiri manusia, tapi juga kambing-kambing. Sayangnya kambing-kambing ini tidak mengerti bahasa manusia sehingga menyela dengan cara yang kurang pantas. Karena itu saya minta para kambing segera keluar untuk makan rumput di lapangan. Kalau pidato saya untuk manusia ini sudah selesai, para kambing boleh masuk kembali. Dan untuk para kambing, saya akan berpidato dalam bahasa kambing.”

Seandainya saya hadir di pidato Agus Salim itu, mungkin saya akan mengepalkan tinju ke atas, lalu berteriak, “Hidup janggut!”. Kalau “hidup kambing atau “hidup sapi” mungkin lebih cocok diteriakkan di jaman sekarang. Ini lebih relevan dengan masalah krisis pangan nasional. Terlebih terbetik kabar, daging sapi di Indonesia harganya termahal di dunia.

fr-wwWalentina Waluyanti

Penulis artikel ini adalah pengajar dan peminat masalah politik, hukum, dan sejarah

About Me

Add comment