< A room without books is like a body without a soul >

Hati-hati Bersumpah

*Mengenang Sumpah Pemuda

Penulis: Copyright@Walentina Waluyanti – Nederland

Catatan penulis: Kisah lebih rinci tentang proses terjadinya Sumpah Pemuda, termasuk bagaimana lagu Indonesia Raya dikumandangkan ketika itu, saya ceritakan lebih lengkap di buku karya saya, klik: Sukarno-Hatta: Bukan Proklamator Paksaan". Buku ini telah menjadi koleksi Leiden University dan Australian National University.

Sumpah pemuda adalah peristiwa tentang pemuda yang menyumpah? Tepatnya bersumpah. Atau berikrar, sumpah setia. Ikrar 28 Oktober 1928 sebetulnya adalah hasil keputusan kongres pemuda ketika itu. Para hadirin sendiri saat itu belum menyadari, keputusan kongres itu akan menjadi sedemikian sakral.

Kongres-Pemuda

Kongres Pemuda II

Siapa sangka hasil keputusan kongres itu, 26 tahun sesudahnya direkonstruksi ke dalam nama sakti, SOEMPAH PEMOEDA?

Sumpah sendiri bisa positif, bisa negatif. Ketika masih pelajar remaja, Bung Karno merenung di pinggir jembatan di Surabaya. Di mana-mana terhirup olehnya bau busuk kemiskinan. Melihat kesengsaraan akibat penjajahan, Bung Karno bersumpah, dirinya harus berjuang mengakhiri keadaan ini! Sumpahnya itu menjadi kenyataan. Tidak saja memerdekakan bangsanya. Tapi sumpah itu juga mengantarnya menjadi pemimpin besar di jamannya.

Ada kepercayaan bahwa sumpah positif disertai doa dan pengharapan baik, akan memberi energi positif. Namun sumpah positif (sumpah suci) bisa saja berubah jadi negatif. Orang percaya, bila sumpah suci dilanggar, maka akibatnya adalah kualat, bahkan malapetaka. Kita diwarisi ajaran tradisi, jangan sembarangan bersumpah. Sumpah (plus serapah) adalah energi negatif yang bisa memantul balik kepada si penyumpah sendiri. Bila sering memaki dengan kata, “SI*L*N!”, maka hidup si pengucap akan betul-betul SI*L. Masih ada kepercayaan, sumpah serapah berefek mengutuk diri sendiri.

Pernyataan takabur dianggap berefek sama dengan sumpah yang menyangkali kuasa SANG MAHA. Seorang politisi kontroversial Belanda, Pim Fortuyn sedang diwawancara di stasiun radio di Hilversum. Dia ditanya apakah dia tidak takut dibunuh karena pernyataannya yang sering kontroversial. Orang beriman biasanya khidmat menjawab, “Saya serahkan hidup mati pada Allah”. Namun Fortuyn (54) menjawab, “Oh, saya akan hidup sampai umur 80 tahun”. Setengah jam setelah pernyataannya itu, ia berjalan ke pelataran parkir. Lalu “DOR!”...Fortuyn terkapar tewas (6/5-2002). Seseorang menembak dirinya.

Pim-Fortuyn

Foto: Pim Fortuyn tertembak di Hilversum, Belanda

Soal sumpah, tadinya saya mengira kepercayaan ini hanya ada di Indonesia saja. Ternyata di Belanda pun, orangtua biasanya melarang anaknya memaki, “Ik zweer het!” (saya sumpah!), secara tidak pada tempatnya.

Bagaimana dengan peristiwa Soempah Pemoeda 28 Oktober 1928? Sampai kini Sumpah Pemuda bagi bangsa Indonesia dipandang setara dengan ikrar suci. Sumpah setia. 

Jika “Soempah Pemoeda" adalah  peristiwa yang memang pernah terjadi, maka ini adalah sumpah yang beraura positif. Dan jika demikian adanya, maka bisa dikatakan "Sumpah Pemoeda" adalah warisan terbesar para pemuda pemudi Indonesia, yang dulu berikrar di jalan Kramat 106, Batavia (belum bernama Jakarta).

Kramat-106-1

Kramat-106-2

Warisan terbesar pemuda pemudi itu, adalah kesadaran berbangsa yang membuat kemerdekaan itu bisa terus diuber, tak peduli babak belur risikonya.

Peristiwa ini mencatat esensi yang paling penting dalam hidup berbangsa. Pertama, sebagai simbol “tertancapnya” patok-patok di segala sudut penjuru. Inilah tanah airku! Jangan coba-coba rebut! Berani rebut? Langkahi dulu mayatku! Kedua, peristiwa itu ditandai sebagai hari resmi lahirnya Bahasa Indonesia. Ketiga, bangkitnya kesadaran sebagai satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia, ditandai dengan lahirnya lagu kebangsaan. Bernuansa mars bergelora, “Indonesia Raya”, karya komponis Wage Rudolf Supratman.

Efek kongres pemuda tadi, mungkin lebih penting dari bunyi sumpah pemuda itu sendiri. Efek itu terwarisi dari generasi ke generasi, yang akhirnya melekatkan rasa kebanggaan berbangsa yang kuat. Dengan dagu terangkat, dada membusung, kuteriakkan dengan gagah, “Ini Indonesia-ku!”.

Segenap organisasi kepemudaan: Pemuda Indonesia, Pemuda Kaum Betawi, Jong Java, Jong Celebes, Minahasa Bond, Madura Bond, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Pemuda Kaum Betawi, PPPI, Sekar Rukun, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon dan pemuda/pemudi dari daerah lainnya tiba-tiba menanggalkan “jas/kebaya kesukuannya”.

Di kongres itu, Wage Rudolf Supratman memperdengarkan lagu “Indonesia Raya” melalui biola, tanpa syair.

viool

Dokumen otentik tentang penggunaan istilah “Sumpah Pemoeda” pada kongres pemuda 1928 tidak pernah ditemukan. Memang benar ada dokumen yang berbunyi:

Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Namun dokumen di atas itu tidak disebut dengan istilah “Sumpah Pemuda” melainkan “Poetoesan Congres Pemoeda-Pemoeda Indonesia”.

Poetoesan

Saya membaca beberapa opini, istilah “Poetoesan Congres” direkonstruksi menjadi “Soempah Pemoeda” karena peran Soekarno. Sebabnya, pasca kemerdekaan, pemerintahan yang baru dibentuk, terus dirongrong ancaman separatisme. Karena itu istilah “Soempah Pemoeda” digunakan Soekarno sebagai tameng ideologi untuk menggertak para pelaku separatisme. Berani keluar dari wilayah RI? “Jangan lupa SOEMPAH kita dulu Bung!”.

Sesudah kongres pemuda itu, 26 tahun sesudahnya, tahun 1954 barulah istilah “Soempah Pemoeda”, dikumandangkan secara resmi oleh Soekarno. Saat itu Soekarno membuka kongres Bahasa Indonesia kedua di Medan, tanggal 28 Oktober 1954. Di kongres itu pula Sukarno menetapkan, tanggal 28 Oktober 1928 adalah “Hari Sumpah Pemuda”.

Walaupun bukti otentik penggunaan istilah “Sumpah Pemuda” di kongres 1928 itu tak pernah ada, namun itu tak jadi masalah. Karena efek semangat sumpah itu sendiri, lebih ampuh dari istilah apapun. Terbukti mampu mempersatukan Indonesia, serta memiliki tanah air, bangsa, dan bahasanya sendiri. Masalahnya tidak berhenti sampai di sini saja.

Masalahnya masih berlanjut sampai sekarang. Kalau betul ajaran tradisi bahwa melanggar sumpah suci (nota bene “Sumpah Pemuda”) bisa bikin kualat, adakah pengingkaran terhadap sumpah itu?

pemuda

Satu tanah air, tanah Indonesia. Masih utuhkah luas wilayah Indonesia seperti yang dipertahankan pejuang dulu? Wilayah Indonesia mana saja yang melayang dicaplok pihak asing, ironisnya terjadi justru setelah Indonesia merdeka?

Satu bahasa, bahasa Indonesia. Orang Indonesia jelas marah kalau budayanya dicuri. Namun bagaimana budaya (termasuk bahasa) itu dipertahankan?Mengapa orang lebih bangga jika bahasanya “gaul dan alay”? Mengapa “berbahasa Indonesia yang baik dan benar” malah menyebalkan?

Satu bangsa, bangsa Indonesia. Ahhh legaaa...untunglah sumpah yang satu ini masih belum dilanggar. Sekali Indonesia tetap Indonesia! MERDEKA!!!

fr-wwWalentina Waluyanti, penulis buku "Sukarno-Hatta: Bukan Proklamator Paksaan"

About Me

Copyright (c) Walentina Waluyanti 2019. All rights reserved.