< A room without books is like a body without a soul >

Fakta-fakta Unik Menjelang Proklamasi Kemerdekaan

Bung Hatta: Mirip Kudeta Hitler, Penyingkiran Proklamator ke Rengasdengklok

Penulis: Walentina Waluyanti de Jonge

Sejumlah fakta unik seputar proklamasi yang belum banyak terekspos, terungkap di dalam buku ini. Oleh Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, buku karya Walentina Waluyanti de Jonge ini disebut sebagai referensi masa depan bangsa, dan dijadikan tema dalam Hari Peringatan Bung Hatta 2015; saya kutip tema tersebut yang tercantum resmi dalam program acaranya: "Bedah Buku (Sukarno-Hatta: Bukan Proklamator Paksaan, Karangan Walentina Waluyanti de Jonge) sebagai Referensi Masa Depan Bangsa dalam Melestarikan Nasionalisme Indonesia”. Bedah Buku tersebut juga menghadirkan putri Bung Hatta, Prof. Dr. Meutia Hatta Swasono sebagai panelis.

Ada sejumlah fakta unik, ada juga yang mengejutkan, menjelang Proklamasi Kemerdekaan. Semua fakta yang belum banyak banyak diketahui ini, diuraikan secara lebih terperinci di buku yang telah beredar di Gramedia, berjudul “Sukarno Hatta Bukan Proklamator Paksaan”.

Oleh karena uraian di buku “Sukarno Hatta Bukan Proklamator Paksaan” sangat panjang dengan banyak detail dilengkapi foto (tebal 610 hal.), di bawah ini fakta-fakta tersebut dirangkum singkat saja. Di bawah ini hanya 19 fakta dari sekian fakta yang ada. Fakta-fakta menarik menjelang Proklamasi Kemerdekaan itu antara lain: 

1/. Seharusnya Indonesia merdeka bukan pada 17 Agustus 1945? Indonesia terlambat satu hari untuk memproklamasikan kemerdekaannya. Setidaknya begitu kata Bung Hatta. Menurut Bung Hatta, jika ia dan Bung Karno tak disingkirkan ke Rengasdengklok, Proklamasi Kemerdekaan seharusnya terjadi 16 Agustus 1945, bukan 17 Agustus 1945.

Foto: Pernikahan Hatta & Rahmi

2/. Bung Hatta sedang 70tanhun03berbunga-bunga hatinya, saat detik-detik menjelang  Proklamasi kemerdekaan. Ketika itu ia baru saja membalas surat gadis pujaan hatinya. Gadis itu dikenalnya karena dicomblangi oleh Sukarno. Beberapa minggu sesudahnya, ia menikahi Rahmi (Yuke) di villa-nya di Megamendung, Bogor. (Romansa pertemuan Hatta dan Yuke yang sebetulnya sudah terjadi sejak 2 tahun sebelum kemerdekaan, saya kisahkan di buku "Sukarno Hatta Bukan Proklamator Paksaan").

3/. Sukarno-Hatta sering dituduh memproklamasikan kemerdekaan karena dipaksa pemuda, di antaranya Syahrir. Namun faktanya justru Syahrir sangat marah hingga mengumpat Sukarno dengan kata tak enak, karena gagal memaksa Sukarno memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal yang dikehendaki Syahrir.

4/. Syahrir telah mempersiapkan konsep teks proklamasi sendiri, yang isinya ditolak oleh Sukarno dan Hatta.

5/. Syahrir sempat meminta Tan Malaka sebagai proklamator.

6/. Syahrir menghendaki proklamasi di Lapangan Gambir (sekarang Monas). 

7/. Meski Syahrir dikenal sebagai salah satu Founding Fathers Republik Indonesia, dan ikut memaksa Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan, namun Syahrir sendiri menolak hadir dalam detik-detik proklamasi di Pegangsaan Timur.70tahun01

8/. Bung Hatta telah mempersiapkan naskah Proklamasi yang bukan merupakan naskah proklamasi seperti yang kita kenal sekarang. Namun naskah yang disusun Bung Hatta tersebut tak pernah  digunakan, akibat insiden Sukarno-Hatta diculik, disingkirkan ke Rengasdengklok. (Kisahnya lebih rinci di buku “Sukarno Hatta Bukan Proklamator Paksaaan”).

9/. Laksamana Maeda diceritakan di banyak buku sejarah, sedang tidur saat naskah proklamasi disusun. Namun kenyataannya tidak demikian. Maeda juga ikut mendengar saat naskah proklamasi disusun. Laksamana Maeda mengaku ia terpaksa berbohong dan mengaku tidur saat proklamasi, sebab alasan-alasan yang diuraikan di buku "Sukarno Hatta Bukan Proklamator Paksaan".

10/. Tak jarang kita dengar tudingan bahwa kalau Sukarno-Hatta tidak dipaksa untuk memproklamasikan kemerdekaan, maka mungkin Proklamasi 17 Agustus 1945 tidak terjadi. Ternyata desas-desus itu sengaja dihembuskan  oleh saingan politik Sukarno-Hatta pada awal kemerdekaan, dan desas-desus ini terus berlanjut hingga Orde Baru, bahkan masih kerap terdengar hingga kini. Bagaimana peran Adam Malik dan Tan Malaka di balik desas-desus ini, lebih rinci dipaparkan di buku "Sukarno Hatta Bukan Proklamator Paksaan".

11/. Adam Malik sempat menuliskan di bukunya bahwa Sukarno dan Hatta takut memproklamasikan kemerdekaan. Bung Hatta membantah keras tulisan Adam Malik ini.

12/. Meskipun ada tiang bendera yang terbuat dari besi di depan rumah Pegangsaan Timur, namun tiang besi itu tidak digunakan. Sang Saka Merah putih dikerek dengan menggunakan tiang bendera dari bambu yang dibuat seadanya.

13/. Meski kadang ada yang 70tahun02mengatakan bahwa bendera dijahit secara mendadak oleh Fatmawati, namun Megawati mengatakan bahwa menurut ibunya, bendera itu sudah dijahit pada saat ibunya mengandung Guntur.

14/. Sebelum pemuda Sukarni menyingkirkan Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok, Sukarni ditemui secara misterius oleh Tan Malaka. Sesudah itu, Sukarni berangkat ke markas pemuda, dan di dalam rapat kemudian mengusulkan penculikan Sukarno-Hatta. Adakah kaitan antara Tan Malaka dengan penyingkiran Sukarno-Hatta ke Rengasdengklok, dibahas di dalam buku "Sukarno-Hatta Bukan Proklamator Paksaan".

15/. Bung Hatta mengatakan tak benar bahwa dirinya dan Sukarno diculik ke Rengasdengklok untuk mengadakan perundingan tentang Proklamasi Kemerdekaan. Menurut Bung Hatta, selama di Rengasdengklok, tak ada perundingan apapun! Ia dan Sukarno tak melakukan apapun, selain hanya bergantian menggendong Guntur yang masih bayi. Bahkan Guntur sempat ngompol di pangkuan Bung Hatta. Padahal Bung Hatta tak membawa baju ganti.

16/. Bung Hatta menilai bahwa penyingkiran dirinya dan Sukarno ke Rengasdengklok, sama dengan perebutan kekuasaan. Mirip dengan kudeta Hitler di Munchen yang gagal itu. Ada kelompok di dalam pergerakan yang ingin melakukan sabotase terhadap rencana proklamasi, dengan maksud agar proklamasi tidak dilakukan oleh Sukarno-Hatta, melainkan oleh kelompok tertentu. Kelompok inilah yang ingin melakukan sabotase terhadap rencana proklamasi yang sudah disusun oleh Sukarno-Hatta. Tetapi menurut Bung Hatta, ternyata ketika kelompok tersebut gagal melaksanakan Proklamasi, mereka akhirnya kembali bergantung kepada Sukarno-Hatta.

17/. Meski Sukarno-Hatta dituduh takut memproklamasikan kemerdekaan karena takut pada Kempetai Jepang, namun faktanya justru Sukarno-Hatta tetap ngotot meneruskan rencana proklamasi meski sudah dilarang keras oleh pihak militer Jepang.

18/. Meski kalangan pemuda pergerakan ada yang menuduh Sukarno-Hatta sebagai pengecut, namun tokoh pemuda seperti Sukarni dan Chairul Saleh, justru tidak hadir di detik-detik Proklamasi Kemerdekaan. Sebagai catatan, orang-orang yang menghadiri Proklamasi Kemerdekaan itu umumnya sudah siap menanggung risiko diciduk Kempetai Jepang yang terkenal kekejamannya.

19/. Sesudah membaca teks riau 02webproklamasi pada pagi hari, kembali Sukarno membaca teks proklamasi pada malam hari, di radio gelap milik dr. Abdurrahman Saleh. Pada saat pembacaan teks proklamasi di radio gelap itu, Sukarno didampingi Hatta dan tokoh lainnya.

Fakta-fakta mengejutkan lainnya, terutama tentang intrik dan persaingan antara tokoh pergerakan, terutama mulai bergeraknya kaum komunis pada awal kemerdekaan, diulas tuntas di dalam buku berjudul “Sukarno Hatta Bukan Proklamator Paksaan”. Buku ini diberi kata pengantar oleh sejarawan dari Universitas Indonesia, Dr. Peter Kasenda.

Tidak hanya seputar proklamasi, semua sepak terjang, jatuh bangun Sukarno-Hatta dalam perjuangannya, mulai dari remaja hingga wafatnya, juga dikupas di buku “Sukarno Hatta Bukan Proklamator Paksaan” karya Walentina Waluyanti de Jonge. *** ----  (Penulis Walentina Waluyanti de Jonge adalah anggota kelompok kerja Indisch-Nederlandse Letteren-KITLV di Leiden yang berfokus pada kajian literatur sejarah  Indonesia-Belanda).

Artikel terkait, klik:

Beginilah Putri Bung Hatta Membedah Buku Walentina Waluyanti

fr wwWalentina Waluyanti

About Me

 

Copyright (c) Walentina Waluyanti 2019. All rights reserved.