Quote by Walentina Waluyanti

fr-ww

"Jadilah penulis bermartabat, punya harga diri, dengan tidak menjiplak tulisan orang lain. Dengan pedang kehormatan dan harga diri, tulisan karya sendiri dapat mengangkat harkat penulisnya, bahkan walau  dihinakan dengan cara apapun."

Diverse

Bandit Bertopeng Pakarsoekarno-hatta1-small-450Read More

Written by Walentina Waluyanti

History

Mengapa Komunis Harus Atheis?komunis1webRead More

Written by Walentina Waluyanti

Intermezzo

Kiki dan Coto Makassar

coto-03Read More

Written by Walentina Waluyanti

Buku Walentina di Gramedia

Buku Walentina Waluyanti di Gramedia

contract1web

Read more

Dilarang memperbanyak dan melipatgandakan materi dalam website ini dalam bentuk apapun tanpa ijin Walentina Waluyanti sebagai pemilik website. Copy paste untuk kepentingan NON-KOMERSIL, harap mencantumkan nama penulis.  DILARANG KERAS MENGKOMERSILKAN karya Walentina Waluyanti tanpa IJIN TERTULIS dari saya sebagai penulis/pemilik website ini. Pelanggaran larangan ini akan menerima konsekuensi hukum melalui proses verbal.

Reproduceren en kopieeren van alle materialen van deze website van welke aard dan ook is verboden zonder toestemming van Walentina Waluyanti als eigenaar van deze website. Tevens moet men dan voor niet-commerciële doeleinden mijn naam als de auteur vermelden. Commercialiseren van het werk van Walentina Waluyanti is verboden zonder schriftelijke toestemming van mij als schrijver / eigenaar van deze website en men zal bij overtreding van dit verbod instemmen met de juridische gevolgen hiervan.

Mbah Priok, Keturunan Nabi Muhammad?

Tulisan ini sudah dibukukan.

Dilarang plagiat! Copyright @ Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Ribut-ribut rencana penggusuran makam Mbah Priok yang memakan jatuhnya korban jiwa, mengungkap asal mula nama Tanjung Priok. Nama Tanjung Priok disebut berasal dari Mbah Priok atau Habib Hasan bin Muhammad Al-Hadad. Ia lahir di Ulu Palembang tahun 1727. Habib Hasan disertai para pengikutnya kemudian berlayar ke Jawa tahun 1756 untuk menyebarkan dakwah Islam.

palembang-1-web

Menurut catatan, dalam perjalanannya, perahu layar Habib Hasan lalu dibom oleh Belanda. Bom itu meleset, tapi kemudian ombak besar menggulung kapal yang ditumpangi sang Habib. Akibat ombak besar, perahu tersebut tenggelam, mengakibatkan wafatnya Habib Hasan bin Muhammad Al-Hadad yang dijuluki Mbah Priok. Nama lengkapnya Al Imam Al`Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad RA.

Jasadnya kemudian ditemukan penduduk. Di samping jasadnya ditemukan periuk nasi. Setelah dimakamkan, periuk nasi itu serta dayung perahu kemudian diletakkan di makamnya, sekaligus sebagai nisan yang menandai makamnya. Mitos berbau mistik yang dihubungkan dengan periuk nasi itu, kemudian berkembang menjadi kisah turun temurun. Misalnya periuk nasi itu seakan mengeluarkan cahaya, atau nampak seakan-akan membesar, dan mitos lainnya. Mitos tentang periuk ini begitu melekat, sehingga penduduk menamakannya Mbah Priok. Terilhami dari kata periuk nasi. Dari kata ini, daerah di sekitarnya kemudian dinamakan Tanjung Priok.
Di balik segala mitos itu, satu hal yang tidak dilupakan masyarakat, yaitu Habib Hasan bin Muhammad Al-Hadad atau Mbah Priok kemudian dihormati sebagai tokoh yang gugur karena tujuan mulia, yaitu ingin menyiarkan dakwah kebenaran dan kebaikan melalui Islam. Hal ini pula yang menimbulkan kemarahan masyarakat, yang menilai Pemda kurang menghargai jejak historis yang turun-temurun sudah hidup menjadi legenda sekaligus peninggalan sejarah yang sangat berarti bagi rakyat.

Ada yang menarik di balik cerita tentang Mbah Priok. Disebut-sebut juga bahwa ia pernah berkunjung ke Hadramaut di Yaman semenanjung Arab tanah leluhurnya, sekaligus ingin menengok adiknya yang sedang belajar di sana.

palembang-2-web

Illustrasi kuno tentang kostum orang Yaman

Mbah Priok lahir di Palembang. Namun Mbah Priok atau Habib Hasan bin Muhammad Al-Hadad adalah keturunan Arab yang berasal dari Hadramaut/Hadhrmawt/Hadhramout, Yaman yang terletak di pantai selatan semenanjung Arab. Dalam kitab Taurat (Yesaya 10:26-28), nama Hadramaut disebut Hazarmaveth.

Antara Palembang dan Hadramaut memang ada latar belakang sejarahnya. Menurut penelitian Van den Berg, sebelum abad ke-19, masuknya orang-orang Hadramaut sebagian besar melalui Aceh sebagai pintu pertama, namun akhirnya lebih memilih menetap di pelabuhan berikutnya, yaitu Palembang. Sebabnya, karena umumnya ulama Hadramaut akhirnya berhasil mendapat tempat yang baik di Kesultanan Palembang. Jalinan baik antara kesultanan dengan para ulama, habib dan wali asal Hadramaut di Yaman, akhirnya membina ikatan batin yang kuat antara Palembang dan Hadramaut.

palembang-3-web

Illustrasi kuno, Palembang Juni 1821

Di abad lampau pelabuhan Palembang tergolong pelabuhan perdagangan penting. Maklum, sejak jaman kerajaan Sriwijaya, Palembang telah dikenal sebagai kota penting sebelum akhirnya pindah ke Jambi. Di masa lalu Palembang tercatat pernah menjadi lintas transaksi perdagangan dunia, di antaranya dengan Arab. Letaknya sebagai poros perdagangan strategis ketika itu, membuat Palembang banyak disinggahi kaum pedagang sekaligus penyebar syiar Islam dari jazirah Arab.

Sebagian besar pedagang dan ulama Arab yang berdatangan ke Indonesia umumnya dan Palembang khususnya, berasal dari Hadramaut, Yaman Selatan. Orang Hadramaut, leluhur Mbah Priok disebut-sebut umumnya adalah keturunan ke-12 Nabi Muhammad. Sebagian di antara kaum Hadramaut yang tiba di Palembang, tadinya datang untuk berdagang dan menyiarkan agama. Namun setelahnya mereka bermukim secara tetap di Palembang dan beranak-cucu. Banyak di antara keturunannya yang tetap aktif menyebarkan syiar Islam. Karena misi itu jugalah, keturunan Hadramaut akhirnya lalu berkelana dan tersebar di seluruh nusantara. Salah satu keturunannya, termasuk Mbah Priok.

Peran dan sumbangsih kaum keturunan Hadramaut bagi perjuangan bangsa di Indonesia, turut tercatat dalam sejarah. Sebetulnya selain Mbah Priok, masih ada lagi keturunan Hadramaut yang namanya menjadi asal-usul nama daerah di Jakarta.

palembang-4-web

Tanjung Priok tempo doeloe, berasal dari nama Mbah Priok

Kalau Anda menelusuri jalan Gajah Mada menuju Jakarta Kota, maka Anda akan sampai ke jalan Alaydrus, bersebelahan dengan jalan KH Hasyim Asyhari. Nama jalan itu pun berasal dari seorang ulama keturunan Hadramaut, yaitu Habib Abdullah bin Husein Alaydrus, yang meninggal tahun 1936. (Leluhurnya, Al Habib Abdullah bin Idrus Alaydrus juga keturunan Hadramaut yang dulu bermukim di Palembang. Makamnya terletak di dekat makam Sultan Palembang, Sultan Mahmud Badaruddin I).

Alaydrus, seorang juragan kaya di jamannya. Namanya menjadi nama jalan di Jakarta. Karena 80 gedung di jalan itu dan 25 gedung di dekatnya, jalan Gajah Mada beserta lahannya adalah milik Alaydrus. Di Jati Petamburan ia juga memiliki tanah seluas 11,5 ha. Di jaman Belanda, masih ada tanah di sekitar situ yang juga diberi  nama jalan sesuai dengan nama anak Alaydrus, yaitu Husein Laan dan Ismail Laan. Menurut catatan Van den Berg, Alaydrus berjasa membantu perang Aceh, membangun pendidikan Islam modern pertama di Jakarta (Jamiatul Kheir). Juga membantu perluasan mesjid tua An-Nawir di Pekojan Barat. Begitulah, peran keturunan Arab-Hadramaut sejak Mbah Priok sampai generasi sekarang tidak terlepas dari sejarah perjalanan bangsa.

Pasca kemerdekaan, orang Hadramaut yang menjadi publik figur di antaranya Ali Alatas (mantan Menlu), Fadel Muhammad (Gubernur Gorontalo), Fuad Hasan (mantan Mendikbud), Lutfiah Sungkar (ustadzah), Quraish Shihab (mantan Menag), Motinggo Busye alias Bustomi Bawazier (novelis), Abdurrahman Saleh (mantan Jaksa Agung), Muchsin Alatas (penyanyi dangdut), Ahmad Albar (rocker), Alwi Shihab (mantan menlu), Munir (aktivis HAM), Ali Shahab (budayawan Betawi, wartawan), dan masih sederet nama lain. Bahkan Van Den Berg mencatat, diduga di antara Wali Songo ada juga yang keturunan Hadramaut. Dari sini bermula hikayat bahwa di antara Wali Songo ada yang masih keturunan Nabi Muhammad. Karena orang-orang Hadramaut juga dipercaya merupakan keturunan ke-12 Nabi Muhammad. Untuk membuktikan apakah benar demikian, tentu diperlukan penelusuran lebih mendalam.

Kembali ke Mbah Priok. Bagaimanapun juga ketokohan seorang pendakwah syiar Islam seperti Mbah Priok, selalu mendapat tempat khusus dan terhormat di hati umatnya. Penggusuran makam bernilai sejarah dengan dalih apapun, sepantasnya didasari pertimbangan dan kesediaan memahami kondisi sosial-kultur masyarakat, demi menghindari pertumpahan darah.

palembang-5-web

Foto: Keributan seputar rencana penggusuran makam Mbah Priok

Kerusuhan makam Mbah Priok terpicu akibat kepentingan pembangunan terminal peti kemas, sayang sekali membuat rakyat harus menyaksikan korban-korban di dalam peti mati. Insiden Kamis 15 April 2010, mencatat 3 korban jiwa, 134 korban luka-luka dan puluhan mobil rusak dibakar massa.

Azas legalitas yang menjadi pegangan pemerintah kota, ternyata menjadi tak bermakna jika itu sudah memakan beberapa korban jiwa yang tak perlu.

afrWalentina Waluyanti

Penulis artikel ini adalah pengajar dan peminat masalah politik, hukum, dan sejarah

About Me

Back


back to homepage button-new