< A room without books is like a body without a soul >

Dimuat di Kompasiana

Pameran Foto Dokumentasi Sejarah Perjuangan Integrasi Papua

Penulis: Hamid Ramli

integrasi1a

Suasana di Alun-alun Utara Yogyakarta 19 Desember 1961 ketika Presiden Soekarno mengumandakang Trikora (Dok. Arnas)

Penulis: Hamid Ramli

Historia Vitae Magistra. Sejarah adalah guru kehidupan. Begitulah orang Romawi menghargai sejarahnya. Sedemikian pentingnya sejarah bagi mereka, sehingga ia disejajarkan dengan guru, bahkan guru kehidupan. Masa lampau sebuah bangsa yang tertulis dan terrekam dalam sejarah bukan demi masa lampau itu sendiri, tetapi berkesinambungan dengan masa kini dan menjadi acuan untuk bertindak di masa yang akan datang.

Filosofi inilah yang mendasari pemikiran tokoh muda Papua Jimmy Demianus Ijie (wakil Ketua DPR Papua Barat) yang dalam momentum 50 Tahun Integrasi Papua ke NKRI ditunjuk menjadi Ketua Panitia untuk menyisipkan acara pameran foto-foto dokumentasi perjalanan sejarah pengembalian wilayah Irian Barat ke dalam NKRI dalam rangkaian kegiatan bertajuk “Gebyar 50 Tahun Irian Barat Kembali ke NKRI” itu.

integrasi2a

Pameran itu digelar selama tiga hari dari 30 April hingga 2 Mei 2013 di Kota Sorong, Provinsi Papua Barat. Jimmy punya alasan yang kuat mengapa pameran foto dokumentasi itu harus ada. Karena ia melihat kaum muda di Tanah Papua kini sedang berada di persimpangan. “Banyak sekali anak muda Papua menyebut dirinya bukan Indonesia. Di dunia maya, gampang sekali mereka membuat situs untuk menegaskan bahwa mereka bukan orang Indonesia,” ujarnya.

integrasi3a

PerFoto: Peristiwa sejarah 1 Mei 1963 di Port Numbay (sekarang Jayapura), Bendera Indonesia dikibarkan berdampingan dengan Bendera UNTEA

Foto-foto yang dipamerkan pun bukan sembarang foto, tetapi dokumen asli yang bersumber dari Arsip Nasional. Ada sekitar 50-an foto dokumen ditampilkan dalam pameran yang terbuka untuk umum ini. Panitia menyatakan, foto-foto yang ditampilkan asli dan tanpa rekayasa.

Menurut Jimmy, foto-foto itu menggambarkan rangkaian peristiwa sejarah perjuangan mengembalikan wilayah Irian Barat ke dalam NKRI, mulai dari konfrontasi, pengerahan pasukan dan aksi massa, penggalangan dukungan massa di Yogyakarta, perundingan dan diplomasi hingga pelimpahan status Irian Barat tanggal 1 Mei 1963.

integrasi4a

Foto: Soeharto sebagai Panglima Komando Operasi Mandala

Ada pula foto yang menggambarkan arahan Presiden Soekarno kepada Panglima Komando Operasi Mandala Mayjen Soeharto. Kemudian ada foto Soeharto sedang membaca peta Irian Barat bersama Komodor Suryadarma.

integrasi5a

Foto: Suharto sedang membaca peta Irian Barat bersama Komodor Suryadarma

Satu foto bergambar pasukan Angkatan Udara berfoto bersama berlatar belakang pesawat angkut AURI. Di deret berbeda, terdapat foto aksi-aksi mengecam Belanda dalam tulisan di tembok-tombok. Berkibarnya bendera Merah Putih mulai 1 Mei 1963 di Irian Barat kemudian diturunkannya bendera PBB juga ada di dalam foto. Kemudian Merah Putih juga berkibar di kampung-kampung di Irian Barat terdapat dalam salah satu foto.

integrasi6a

Dokumentasi peristiwa sejarah yang dipamerkan itu menurut saya penting untuk mengubah cara pandang generasi muda Papua agar dapat memberika rasa hormat yang pantas bagi upaya-upaya tokoh-tokoh Papua dari generasi pendahulu mereka yang ikut mengukir sejarah integrasi Papua. Apa yang terjadi dalam sejarah itu juga Unik karena peristiwa sejarah hanya satu kali terjadi dan peristiwa yang sama tidak akan terulang kembali. Dan, yang tidak kalah pentingnya, adalah peristiwa sejarah itu abadi karena akan selalu di kenang sepanjang masa.

*) Tulisan ini dimuat di Kompasiana, 3 Mei 2013

Penulis Hamid Ramli

Catatan: Kepada penuis Hamid Ramli, mohon maaf artikel ini pernah lenyap judul dan nama penulisnya tanpa sengaja, dan baru saya sadari beberapa waktu kemudian. Terima kasih atas artikelnya yang sangat menarik.

Copyright (c) Walentina Waluyanti 2019. All rights reserved.