< A room without books is like a body without a soul >

Kisah Pelaut Tua

Author: Sirpa-California

Surat terbuka kepada sobat Walentina Waluyanti di Amsterdam.
Campbell, 6 September 2010

Dear Walentina,
Kalau Kartini dari Jepara bisa melayangkan soerat terboeka-nya kepada Stella si Noni Belanda di negeri windmollen
, tentunya Sirpa juga boleh dong berkirim kirim surat ke sobat mayanya di Amsterdam sono.

Pastinya Walentina tidak akan berkeberatan bukan?

Hari ini setelah kita saling baku ganggu di kolom komentar artikelku " Makhluk Apa Pulakah Itu? ". Waktu itu kita dua ada baku sedu (bahasa gaulnya orang Sulawesi Utara = saling becanda) tentang pelaut yang notabene tak semuanya itu mata keranjang. Tapi ada juga lho yang matanya seperti kreneng - keranjang belanja yang terbuat dari bambu dianyam jarang, yang sering digunakan untuk pengganti tas plastik, umumnya sering dijumpai di pasar-pasar tradisional di Jawa.

Terinspirasi dari ngana punya komen tadi, torang jadi teringat ayahku yang pelaut sejati!

Maaf ya Walent, kalau di sini saya ingin bercerita banyak tentang ayah saya. Karena saya sangat bangga dengan beliau.

Dear Nona manis,
Kamu pasti selalu was-was kalau aku sering memanggilmu dengan kata Nona Manis (entar orang lain kalau aku lagi flirting, tebar pesona). Tapi kenyataannya fotomu yang sering muncul di avatar-mu memang menunjukkan bahwa kau memang nona yang manis (hehehe, gula kaleee )

Kami seisi rumah lebih akrab memanggil ayah kami dengan kata papa.

Papaku adalah orang beruntung sekali. Kenapa saya katakan demikian ?
Waktu masa pendudukan tentara Dai Nippon di Indonesia, kebanyakan di antara kita memanggil mereka dengan perkataan "Saudara Tua".

photo1-web

Kedatangan seorang Kapten kapal Jepang di rumah? Tentunya bisa bikin keringat dingin keluar. Apalagi yang namanya serdadu Saudara Tua ini sudah terkenal dengan kejamnya.Ada orang dikubur hidup-hidup, ada orang yang dipancung kepalanya pakai "katana" (pedangnya orang Jepang yang tajamnya bagaikan sembilu).

Sekedar tambahan,perkataan "katana" rupanya sudah salah kaprah. Ada beberapa teman orang Indonesia menyebut pedang ini dengan kata samurai. Padahal samurai itu sendiri dalam bahasa Jepang bukan berarti pedang atau klewang. Samurai itu sendiri berarti ksatria, satria, pendekar atau orang Inggris bilang samurai itu berarti warrior.

Walentina yang baik,
Lalu sang Kapten tadi, ingin bertemu dengan papaku. Beliau langsung menawarkan apakah papaku bersedia untuk dibawa ke Makassar selekas mungkin? Lha, untuk apa?

Setelah bincang-bincang lebih jauh, ternyata sang Kapten itu menawarkan ke papaku, apakah papaku mau jika disekolahkan di Sekolah Pelayaran di Makassar. Padahal papaku hanya punya ijazah SD. Ijazah SD? "Huh, no problem !", kata sang Kapten.

Dengan menumpang kapal milk sang kapten, papa dan mamaku berangkat ke Makassar. Setibanya di sana papaku langsung dimasukkan di asrama Sekolah Pelayaran tadi. Sedangkan mamaku tinggal di luaran, numpang sana-sini dengan keluarga-keluarga yang seiman. Terbayang olehku betapa baiknya budi sang Kapten Jepang itu terhadap orang tuaku. Bahkan nama beliau pun hingga kini kami tak tahu siapa gerangan beliau itu.

Setelah tamat sekolahnya, jadilah papaku seorang pelaut! Berlayar ke Surabaya, Jakarta ataupun ke Ternate. Bahkan pernah juga kapalnya mogok dan hanyut terapung-apung berhari-hari sampai terdampar di sekitar Banjarmasin.

Ketika beberapa waktu yang lalu (bulan Juli ya?), ngana dan keluarga pergi berliburan ke Makassar. Rasanya hati ini rindu juga akan kota Anging Mamiri, kota kelahiranku ini.

Walentina yang baik,
Setelah peristiwa pemberontakan Permesta usai, papaku dipindahtugaskan ke Balikpapan. Sewaktu itu papaku sudah bekerja di kantor Syahbandar (kini namanya Kantor Penguasa Pelabuhan ) sebagai Pandu Laut /Harbor Pilot.

photo2a-web

Balikpapan adalah sebuah kota kilang minyak atau refinery terbesar, pada saat itu, di Indonesia bagian Tengah dan Timur sebagai kota pelabuhan yang ramai yang terletak di dalam teluk Balikpapan. Hilir mudiknya kapal-kapal ini bukanlah oleh ramainya kapal dagang yang keluar masuk mengunjungi Balikpapan. Tapi ramai dilayari oleh kapal-kapal tanker yang datangnya dari Iran, Irak dan negara-negara Teluk lainnya. Sebagian besar tanker tersebut adalah kapal tanker kepunyaan si raja kapal dari Yunani, Onasiss.

Tentunya dirimu bertanya, lho kenapa minyak dari negara-negara Teluk diimpor dan dibawa ke Balikpapan? Kenapa tidak ke Sungai Gerong / Plaju di Sumatera Selatan .
Aneh bukan?

Inilah uniknya refinery oil di Balikpapan tadi.
Kilang minyak Balikpapan oleh BPM rupanya dirancang khusus untuk mengelola minyak mentah hasil produksi negara-negara Teluk, yang komposisi atau kadar kandungan lilinnya amat banyak.

Apakah ngana sewaktu jaman kekuasaan Bung Karno pernah mendengarkan berita bahwa Balikpapan adalah kota terbesar di dunia dalam menghasilkan LILIN Paraffin. Ya, penghasil lilin terbesar di dunia bukan di Indonesia lho. Mungkin ini adalah diplomasi yang dijalankan oleh Bung Karno dalam soal gembar-gembornya kekayaan alam negara kita .

Posisi Balikpapan sebagai daerah penghasil minyak mentah di Indonesia menduduki posisi kedua setelah Palembang. Sedangkan posisi ketiga ditempati oleh Langkat/Pangkalan Berandan.

Kilang minyak ini adalah peninggalan dari perusahaan minyak Belanda (BPM - de Bataafsche Petroleum Matschappij, NV). Kilang minyak ini adalah hasil dari pengambil-alihan semua aset-aset milik perusahaan Belanda. Istilahnya BPM waktu itu dinasionalisir oleh pemerintah Indonesia. Kelak BPM ini cikal bakal lahirnya perusahaan minyak nasional kita, Pertamina.

Saking ramainya lalu lalang kapal tanker minyak di perairan teluk Balikpapan, adalah wajib diperlukan Pandu Laut.

photo3a-web

Walentina yang baik,
Setiap kapal yang akan datang atau berangkat ke suatu pelabuhan adalah wajib dipandui. Dinamakan "pandu " (Belanda: Loods) karena kapal tersebut akan dipandu atau dituntun untuk merapat ke dermaga atau sebaliknya dari dermaga menuju laut lepas.............

Ada Ordonansi yang mengatur tentang kepanduan yang dikenal dengan nama Ordonansi Dinas Pemanduan (Loodsdienst Ordonantie) tahun 1927. Jadi kapal-kapal yang bobot matinya atau GRT - Gross Register Tonnage melebihi 150 ton sudah diwajibkan untuk meminta bantuan jasa pemanduan .

Pandu Laut dan Pandu Bandar
Ada dua macam jenis Pandu di kedinasan kesyahbandaran pelabuhan laut .

photo4-web

Pandu Laut yaitu pandu yang bertugas menjemput atau mengantar kapal yang dipandunya mulai dari daerah perairan yang lepas sampai menuju ke daerah tempat kapal itu berlabuh (Kolam Pelabuhan) sambil menunggu giliran pengambil alihan tugas oleh Pandu Bandar .

Pandu Bandar yaitu pandu yang bertugas menuntun kapal dari daerah Kolam Pelabuhan hingga merapat ke dermaga. Demikian pula sebaliknya jika kapal tersebut akan berangkat maka Pandu Bandar-lah yang menuntun kapal tersebut lepas dari dermaga. Selanjutnya kapal dipandu oleh Pandu Laut.

Papaku menjalani Masa Persiapan Pensiun dengan pangkat terakhir sebagai Pandu Bandar.

Walentina yang baik,
Semoga ngana tidak bosan baca curhat ini ya ....

Sekitar tahun 80-an, ketika saya masih tugas di pedalaman Merauke - Irian Jaya (sekarang Papua). Pada waktu itu sehari sebelum hari Natal, mamaku meminta papaku untuk pergi berbelanja ke pasar guna sedikit keperluan menjelang Natal. Malang tak dapat ditolak, sewaktu pulang belanja di pasar beliau ditubruk kendaraan dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit tentara di Balikpapan, dekat dengan lokasi kejadian. Bertepatan dengan hari Natal, beliau diantar oleh sanak famili dan tetangga ketempat peristirahatannya yang terakhir .

Sebagai penutup, saya sisipkan YouTube lagu "Balada Pelaut" beserta liriknya yang dinyanyikan oleh Connie Mamahit. Lagu ini untuk mengenang pelaut-pelaut Indonesia sejati yang tersebar dan bekerja di kapal-kapal laut di seluruh penjuru dunia..........

Balada Pelaut

Sapa bilang pelaut mata keranjang
Kapal ba stom lapas tali lapas cinta
Sapa bilang pelaut pam ba tunangan
Jangan percaya mulut rica-rica

So balayar sampe so ka ujung dunia
Banya doi... baroyal abis parcuma
Dorang bilang pelaut obral cinta
Dompet so kosong baru inga rumah

Reff :
Mana jo ngana pe sumpah
Mana jo ngana pe cinta
So samua kita pe punya
Ngana so minta....

Kita bale ngana so laeng
Kita bale ngana so kaweng
Cikar kanan...
Vaya condios cari laeng

Akhir kata terimakasih atas kesediaan membaca curhat ini ya ...

Tabea,
Sirpa

PS :
Buat yang ingin mengetahui bahasa daerah/ dialek Manado yang ada dalam lagu Balada Pelaut ini terjemahan bebasnya yang kira-kira sebagai berikut:

Sapa: siapa
Kapal ba-stom: bunyi "peluit" kapal
Pam ba-tunangan: tukang pacaran/playboy, banyak pacar.
Lapas tali: lepas tali
Mulut rica-rica: gosip
Balayar: berlayar
Banya doi, ba royal abis parcuma: banyak uang, boros habis percuma
Dorang: dia orang/mereka.
Dompet so kosong baru inga rumah: isi dompet sudah terkuras habis, baru teringat orang di rumah
Mana jo ngana pe sumpah: di manakah sumpah setiamu
Mana jo ngana pe cinta: di manakah rasa cinta mu
So samua kita pe punya ngana so minta: kesemua milikku, telah kau minta
Kita bale ngana so laeng: waktu saya kembali kau sudah lain/ berubah
Kita bale ngana so kaweng: waktu saya kembali, kau sudah kawin
Cikar kanan: banting setir kekanan (istilah dikapal untuk putar haluan kekanan)
Vaya con dios: Selamat tinggal
Cari laeng: cari kekasih yang lain

Sumber inspirasi :

Connie Mamahit: 


Copyright (c) Walentina Waluyanti 2019. All rights reserved.