Penulis: Mas Suharsono

Menulislah selagi kita mampu dan sampaikanlah kepada dunia apa yang kita ketahui. Bercita-cita mendirikan Partai Golongan Putih.

Dimuat di Kompasiana

Ketika Jokowi Dikendalikan Falsafah Jawa

OPINI | 04 August 2013 | 00:56

KetikaJokowi1

Menarik juga jika kita mencermati kisah dan perilaku Jokowi dalam kegiatan kesehariannya, kesemuanya itu tak lepas dari falsafah hidup Jokowi sebagai orang Jawa sing Njawani.

Falsafah hidup yang digunakan Jokowi dalam kesehariannya adalah “Sekti Tanpo Aji, Sugih Tanpo Bondho, Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake”, Mari kita kupas satu persatu:

Sekti Tanpo Aji

Sekti yang dimaksud disini adalah kesaktian, tapi saat ini kesaktian bukan lagi ilmu kedigjayaan yang tak tertandingi, tetapi dalam falsafah hidup Jokowi adalah sebuah ilmu kesederhanaan dalam kesehariannya sehingga tanpa memerlukan aji-ajian, maka segala keinginan tentu akan di dukung oleh masyarakat luas, sekalipun mendapat perlawanan dari “musuh-musuhnya”.

Kita ambil contoh, saat Jokowi bermaksud memperluas wilayah waduk Pluit, disaat itu pula terjadi bentuk perlawanan dari berbagai pihak, termasuk juga warga yang bersenjata tajam ataupun ormas dan juragan tanah yang mengatas-namakan rakyat bersama-sama berjuang mempertahankan wilayah pinggiran waduk Pluit sebagai tempat tinggalnya. Namun tanpa menggunakan peluru tajam Polisi dan pentungan Satpol PP, cukup dengan aji-ajian kesederhanaan Jokowi, maka warga sekitar waduk Pluit dapat duduk bersama menyelesaikan masalah.

Contoh yang lain, saat Jokowi bermaksud merelokasi PKL Tenabang yang berada di pinggiran jalan, tentu membuat berang para preman yang melatar belakangi keberadaan PKL-PKL tersebut, tapi dengan aji-ajian kesederhanaannya, begitu mudah Jokowi memindahkan ke lokasi yang sudah menjadi semestinya, malah-malah Blok G tenabang di gratiskan selama enam bulan, sisanya dapat diangsur secara murah.

Sugih Tanpo Bondho

Makna dari falsafah ini adalah Kaya namun tanpa harta, falsafah ini di anut dan di lakoni Jokowi dalam kesehariannya.

Contoh, saat ia menjabat sebagai Walikota Solo, tersiar kabar, gajinya tak pernah di sentuh, melainkan diberikan kepada orang-orang (warganya) yang membutuhkan, ini sebagai bukti bahwa sesungguhnya Jokowi kaya sebagai Walikota tapi nyatanya ia bagai tak berharta, hal ini berarti ia ingin menyama ratakan kesehariannya dengan orang lain yang masih tergolong kurang mampu. Mari kita perhatikan adakah pejabat sekelasnya ataupun di atasnya yang mau melakukan hal itu, tentu tidak ada, karena semuanya berlaku prinsip “tak ada makan siang yang gratis bung”.

Contoh lain, saat ia bepergian ke luar kota dengan pesawat, seharusnya ia mendapat jatah kelas bisnis atau mungkin VIP, namun ia lebih memilih kelas ekonomi dan yang menariknya ia selalu menempatkan diri di nomor 26/27, secara materi sesungguhnya ia mampu membeli tiket kelas bisnis, namun untuk lebih merakyat, ia rela bergabung di kelas ekonomi, pernahkah pejabat lainnya mau bersusah-payah dalam kelas ekonomi? Inilah bentuk egaliter Jokowi yang mau bergabung di tengah-tengah masyarakat umum.

Ngluruk Tanpa Bolo

Makna dari falsafah ini adalah berjuang dan bekerja tanpa perlu membawa bala bantuan.

Contohnya saat Jakarta kebanjiran beberapa bulan lalu, banjir yang menggenangi hampir seluruh wilayah Jakarta, Jokowi tanpa meminta bantuan pemerintah pusat maupun pihak-pihak lain, saat itu juga Jokowi segera turun ke lokasi banjir, mengunjungi satu persatu wilayah-wilayah yang tergenangi, menyapa warga yang sedang kesusahan dan memberi bantuan ala kadarnya, dampak dari sifat spontanitasnya itu pun disambut baik oleh pihak-pihak lain untuk turut pula membantu warga Jakarta yang sedang kebanjiran itu. Dari contoh ini tentu bantuan datang dari pihak lain sebagai bentuk kepedulian antar sesama.

Menang Tanpa Ngasorake

Makna dari falsafah ini adalah memperoleh kemenangan tanpa harus menunjukkan kegembiraan dengan maksud merendahkan orang lain.

Contohnya, dapat kita lihat bersama, dari hasil berbagai lembaga survey, ternyata Jokowi selalu mendapat peringkat pertama sebagai capres 2014 yang diunggulkan dan diharapkan oleh masyarakat luas. Tokoh Jokowi menjadi tokoh sentral dan kinerjanya menjadi panutan dari tokoh-tokoh lainnya, sehingga mereka berlomba-lomba meningkatkan rating namanya sendiri dengan melakukan kunjungan ke berbagai daerah demi memperoleh pemberitaan-pemberitaan positif yang seakan lebih mempedulikan rakyat kecil,

Namun lagi-lagi Jokowi dengan kesederhanaannya sering mengungkap bahwa pencalonan ia sebagai Capres 2014 sudah menjadi wewenang dari ketua umum.

Dan saat ditanya tentang pencalonan dirinya untuk menjadi capres 2014, dengan tanpa merendahkan lawan-lawan politiknya yang kalah dalam persaingan survey, ia pun kerap berujar “ngga mikir kesana…. Ngga mikir…”.

Inilah prinsip hidup Jokowi dengan falsafah jawanya itu, mari kita teladani sikapnya dan mengambil makna dari falsafah itu sendiri sebagai pedoman hidup kita di dalam kesederhanaan bermasyarakat.

Salam untuk mudikers.

ps: untuk pemudik “sampaikan ke rekan-rekan di kampung, Jokowi seorang yang egaliter, sangat dekat dengan rakyat, tidak tedeng aling-aling, anti korupsi, gayanya persis seperti sukarno suka blusukan tapi bukan nganggur, Jokowi cuma mau lihat dan ketemu rakyatnya. wis yo…sing ati2, ojo mampir pantura, ngko ne arep mbudal, ojo lali bojo lan anakmu”

avatar1