Catatan: Terima kasih dan apresiasi saya haturkan kepada Budiawan Dwi Santoso yang telah menuliskan review tentang buku “Tembak Bung Karno Rugi 30 Sen”.

Resensi Buku "Tembak Bung Karno Rugi 30 Sen":

Hikmah di Balik Sejarah Bung Karno

Penulis: Dwi Budiawan Santoso

Walentina Waluyanti De Jonge tak akan membiarkan sejarah tentang Bung Karno menguap dan menghilang begitu saja pada masa kini atau masa depan nanti. Ikhtiar ini dibuktikan olehnya dengan menerbitkan buku Tembak Bung Karno, Rugi 30 Sen (2014). Sekilas, judul ini terasa humoris. Namun, pada kenyataannya, judul tersebut pernah dilontarkan Kapten Westerling, orang yang anti-Sukarno dan pernah menjadi Komandan Pasukan Baret Hijau di Makasar pada 6 Desember 1946.

DSC 0157 001

Foto: Aktor Ramon Y. Tungka saat mengunjungi kediaman penulis Walentina Waluyanti di Belanda, memperlihatkan buku "Tembak Bung Karno Rugi 30 Sen".

 Ungkapan Westerling berawal dari pertanyaan begini, “Kenapa Anda tidak menembak Sukarno waktu kudeta dulu?” Lalu, ia menjawab, “Orang Belanda itu perhitungan sekali. Satu peluru harganya 35 sen. Sedangkan harga Sukarno tak lebih dari 5 sen. Jadi rugi 30 sen. Kerugian yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.”

 Candaan itu terkesan melecehkan Bung Karno. Padahal, kita tahu bahwa jasa Bung Karno terhadap rakyatnya Indonesia melebihi apa yang diungkapkannya. Bahkan, segala apa yang dipikirkan, dilakukan, dan diperjuangkan Bung Karno demi masa depan rakyatnya tak bisa diukur dan disamakan dengan uang. Tapi, justru dari ungkapan Westerling yang didapati Walentine dari beberapa narasumber eks tentara KNIL di Belanda, bahkan dari Spanyol, setidaknya kita tahu peristiwa sejarah di balik Bung Karno.coverbookweb

 Sekelumit gambaran tersebut, yang sekaligus memberikan pandangan baru terhadap sejarah Bung Karno. Saya sebagai pembaca buku ini, merasa bahwa apa yang disuguhkan Walentina, jauh dari keklisean sejarah. Kenapa?

 Sebab, kita sudah mengetahui bahwa buku-buku yang mengulas sejarah Bung Karno hampir seabreg (banyak). Kita bisa menengok sebentar siapa saja penulis-penulis biografi Bung Karno dengan merujuk Joesoef Isak, yang antara lain Louis Fisher, Bob Hering, Cindy Adams, J.D. Legge, Bernhard Dahm, C.L.M. Penders, A.C.A. Dake, John Hughes, Willem Oltmans dan Lambert Giebels. Lalu, penulis dari negeri sendiri, seperti Rachmawati Sukarno, Ramadhan K.H., Solichin Salam, Imam Soepardi, maupun Sutamto Dirdjosuparto.

 Dan, dari itu semua, Walentina tidak terjebak dengan buku-buku biografi mereka semua. Artinya, ia tidak melulu menghadirkan semua peristiwa sejarah Bung Karno yang sebenarnya sudah ada dalam buku-buku sebelumnya. Ia justru mencari dan menghadirkan sejarah yang ‘hilang’, terlupakan, unik, atau memang belum diketahui semua orang. Oleh karena itu, kehadiran bukunya adalah oase sejarah bagi kita-para pembaca.

 Ini dapat kita lacak lewat pengakuan penulis. Ia mengungkapkan begini, “Saya tidak perlu menelan bulat-bulat dan memercayai semuanya secara hitam putih, karena uraian sejarah bukan sekadar mengajak untuk melihat paparan fakta. Namun, juga mengantar pada suatu perspektif penjelajahan” (hal. 156).

 Adapun mengenai Bung Karno sendiri setelah membaca buku ini, pandangan terhadapnya bukan sekadar sosok hero yang hanya dikenal dengan slogannya “Jangan sekali-sekali Melupakan Sejarah” (jas merah) maupun warisan idenya berupa persatuan bangsa, Pancasila, dan Trisakti. Sosok Bung Karno justru juga sosok orang yang biasa dan bersahaja. Ia tak melulu dipandang sebagai orang yang kuat ideologinya, apalagi dikatakan sebagai orang sakti.

 Untuk mengetahui kebenaran pernyataan itu, kita bisa menengok atau membaca lagi suguhan dari buku Walentina ini. Beberapa di antaranya, peristiwa Bung Karno saat diasingkan di Flores, ia menjual batu pembawa untung yang dimilikinya. Sebab, ia sadar bahwa batu atau jimatnya itu tak mampu menghindarkannya dari hukuman paling hebat yang bernama hukuman pembuangan. Malahan, ia juga mengakhiri kepercayaan tahayul mengenai makan di piring retak, konon bisa kualat, dengan menyeru begini, “Engkau barang yang mati, tidak bernyawa dan dungu. Engkau tidak punya kuasa untuk menentukan nasibku. Kutantang kau! Aku bebas darimu! Sekarang aku makan dalammu” (hal. 194).

rumahsukarno1

Rumah Bung Karno ketika dibuang ke Ende, Flores. (Foto: National Geographic)

Di sisi lain, pembaca yang merasa diajak untuk menelusuri dan menikmati oase sejarah Sukarno bersifat fragmentaris—menyangkut beberapa peristiwa kecil-kecil dan bersifat esai pendek, juga tetap perlu memosisikan Bung Karno sebagai pemikir, negarawan, dan ‘patriot yang sadar politik’. Sebab, pandangan terhadapnya inilah, yang menentukan pembaca dan buku ini sendiri. Apakah pembaca berhasil mendapati segala sejarah dan gagasan Sukarno? Apakah pembaca juga akan memiliki spiritnya Sukarno? Atau malahan buku ini di hadapan pembaca hanya akan menjadi angin lalu?

 Dalam hal ini, di balik buku Tembak Bung Karno, Rugi 30 Sen mengandung banyak hikmah dan renungan. Dan, saya sependapat dengan Walentina, dengan meminjam pernyataannya begini, dari “perspektif sejarah” ini, yang sebenarnya juga “mengarahkan mata saya pada satu titik, yaitu jejak keberhasilan dari sejarah masa lalu yang menjadi inspirasi dalam meraih kesuksesan. Dan, hikmah kegagalan dari sejarah masa lampau merupakan jembatan menuju masa depan yang lebih baik.”*** Penulis: Budiawan Dwi Santoso)

 Judul buku : Tembak Bung Karno, Rugi 30 Sen
Penulis : Walentina Waluyanti De Jonge
Penerbit : Galang Pustaka
Cetakan : 2014
Tebal : x + 209 Halaman

Sumber: https://budiawandwisantoso.wordpress.com/2015/07/27/hikmah-di-balik-sejarah-bung-karno/