Budayakan Mencontek Sejak Dini!

Dimuat di Kompasiana Kompas.com

Penulis: Bung Zoel

Catatan Walentina Waluyanti:

Trims, Bung Zul sudah menjewer saya melalui tulisannya yang inspiratif. Wah, kali ini saya mengaku kalah deh, dan Bung Zul yang sekarang jadi guru saya melalui kalimat inspiratif-nya berikut ini, “Guru yang baik tentu harus bisa membuat muridnya lebih pintar dari dirinya. Mentor yang berhasil adalah mentor yang bisa menciptakan trainee-trainee yang berkualitas jauh di atasnya. Coach yang jempolan adalah coach yang tidak saja membuat anak didiknya menjadi juara di arena olahraga, tapi juga mampu mencetak atlet-atlet baru yang lebih mumpuni dibanding dirinya.” Tulisan Bung Zul saya jadikan refleksi diri, untuk memperbaiki kekurangan agar menjadi lebih baik. Semoga kita menjadi pribadi seperti yang dikatakan Bung Zul dalam kalimatnya yang berharga itu.

OPINI | 12 January 2012 | 14:51

budayakan1

Ini posting pertama saya di Kompasiana. Sebagai orang baru, tentunya saya harus permios dulu pada teman-teman lain yang sudah mendahului saya (maksudnya, jadi member di sini). Asiknya ngeblog di Kompasiana, selain pengunjungnya yang bejibun, diakses dari berbagai tempat dan berbagai negara, respon atas artikel-artikel yang diposting pun juga cepat. Sebagai orang yang masih terus belajar menulis, tanggapan adalah kunci saya untuk terus belajar memperbaiki diri. Salah satu blogger favorit saya adalah Mbak Walentina Waluyanti yang tinggal di Belanda sono. Mbak yang hobi nulis sejarah dari sisi yang berbeda ini benar-benar membuat saya kepincut untuk belajar menulis lebih baik lagi. Walaupun ada juga beberapa media cetak yang ’khilaf’ memuat tulisan-tulisan saya, tentunya tidak berarti saya cepat puas dan tidak mau belajar nulis lagi. Selain mbak ini orangnya baik, beliau juga jadi temen diskusi saya tentang persoalan-persoalan yang ada di negeri ini. Pokoknya, she is my ’virtual’ mentor!

Bicara tentang guru, mentor, coach, atau apapun namanya, artinya kita sedang berbicara tentang duplikasi. Guru yang baik tentu harus bisa membuat muridnya lebih pintar dari dirinya. Mentor yang berhasil adalah mentor yang bisa menciptakan trainee-trainee yang berkualitas jauh di atasnya. Coach yang jempolan adalah coach yang tidak saja membuat anak didiknya menjadi juara di arena olahraga, tapi juga mampu mencetak atlet-atlet baru yang lebih mumpuni dibanding dirinya.

Tema yang diangkat majalah SWA edisi terbaru Januari 2012 merupakan pelengkap dari asumsi di atas. Majalah ini mengambil judul Indonesia BEST CEO 2011 & Future Business Leader. Dan ternyata benang merah antara satu CEO dengan CEO lain tetap sama: duplikasi. Seperti Iqbal Latanro, CEO Bank Tabungan Negara, yang menjadi fasilitator bagi karyawannya dan melapangkan jalan bagi calon penggantinya. Buntoro Muljono, Presdir Toyota Astra Financial Sercives juga gigih mengkader pemimpin-pemimpin bisnis baru yang merupakan anak buahnya. Saya pun pernah ngobrol dengan Irfan Setiaputra, CEO PT Inti, BUMN yang bersemayan di Bandung. Hampir senada dengan dua CEO yang saya sebutkan tadi, Irfan juga mengkader calon-calon penggantinya dengan cara menyuruh mereka mikirin bagaimana mengekseskusi ide-ide gilanya.

Apa yang diributkan Jepang pertama kali ketika Hiroshima dan Nagasaki dibom sama tentara sekutu? Jumlah guru! Kalau guru-guru masih banyak yang hidup, artinya Jepang tidak takut dengan masa depan. Kenapa? Sebab nanti dari tangan para guru itulah muncul manusia-manusia yang kualitasnya jauh di atas generasi pendahulunya.

Syarat menjadi guru, mentor, coach adalah kemampuan untuk menduplikasi ilmu dan keterampilan. Teknologi kloning belum berhasil diterapkan sama manusia. Karena itu kita belum mampu mencetak Einstein, Steve Jobs, Newton ataupun Michael Jackson yang sama persis. Satu-satunya yg kita mampu adalah mencetak Einstein dalam tubuh si Budi, Steve Jobs dalam badan si Bejo, Newton dalam otak si Ucok dan Michael Jackson dalam diri Ayu Ting Ting. Inilah duplikasi, bukan kloning.

Dan yang bisa menjadi guru atau mentor tidak lagi dibatasin pada dinding sekolah atau pagar-pagar menara gading universitas. Guru kita bisa jadi adalah Facebook, Youtube, Twitter, Kompasiana, Friendster (memang masih ada?), atau blogger, seperti saya yang menjadi ”murid” dari mbak Walentina yang cerdas itu. Saya belajar nulis dari jawara-jawara yang saya anggap luar biasa, tanpa mereka pernah sadar kalo saya menjadikan mereka sebagai guru. Proses duplikasi memang tidak selalu top down (guru menduplikasikan ilmunya ke murid), tapi juga down up (muridlah yang mencontek gurunya).

Jadi, mari kita mencontek. Budayakan mencontek bahkan sejak kecil, maka akan semakin banyaklah orang-orang berkualitas yang lahir di negeri ini. ***