History / Politik

Bagaimana Rasanya Menjadi Anak Aidit?

bag6

Read More

Writen by Walentina Waluyanti

Cerita dari Belanda

Pengalaman Ber-caravan di Eropa

DSC 2141 036a

Read More

Written by Walentina Waluyanti

Kisah dari Belanda

History

History

Saksi Bisu Jaman Jepang

verzet1 ww small

Read More

Writen by Walentina Waluyanti

Dwitunggal Soekarno-Hatta

Penggali Pancasila

Memori

Sakit Hati Soeharto pada Habibie

soehartotien

Read More

 Written by Walentina Waluyanti

History/Politics

Minta Maaf pada PKI?

IISG 1

Read More

Writen by Walentina Waluyanti

Walentina Waluyanti de Jonge is an Indonesian author/essayist, historical book writer, teacher.

Jika ada yang menggunakan nama saya Walentina Waluyanti untuk meminta sejumlah uang,  melalui ex-email saya walentinawa@yahoo.com, saya sampaikan itu bukanlah dari saya, sebab email saya di yahoo.com sudah lama dibajak.

Hindari perkara hukum dengan tidak memplagiat tulisan Walentina Waluyanti. Semua tulisan Walentina Waluyanti di website ini dilindungi UU Hak Cipta. Dilarang memperbanyak dan melipatgandakan materi dalam website ini dalam bentuk apapun tanpa ijin Walentina Waluyanti sebagai pemilik website. Copy paste harap mencantumkan nama penulis. Copy paste tanpa mencantumkan nama penulis, sama dengan plagiat. DILARANG KERAS MENGKOMERSILKAN karya penulis Walentina Waluyanti/Walentina Waluyanti de Jonge tanpa IJIN TERTULIS dari penulis Walentina Waluyanti. Melanggar larangan ini berarti melanggar UU Hak Cipta. Hindari tuntutan hukum dengan tidak melakukan pelanggaran atas UU Hak Cipta. 

Reproduceren en kopieeren van alle materialen van deze website van welke aard dan ook is verboden zonder toestemming van Walentina Waluyanti als eigenaar van deze website. Tevens moet men dan voor niet-commerciële doeleinden mijn naam als de auteur vermelden. Commercialiseren van het werk van Walentina Waluyanti is verboden zonder schriftelijke toestemming van mij als schrijver / eigenaar van deze website en men zal bij overtreding van dit verbod instemmen met de juridische gevolgen hiervan.

Catatan: Terima kasih dan apresiasi saya haturkan kepada Dwi Budiawan Santoso yang telah menuliskan review tentang buku “Tembak Bung Karno Rugi 30 Sen”.

Resensi Buku "Tembak Bung Karno Rugi 30 Sen":

Hikmah di Balik Sejarah Bung Karno

Penulis: Dwi Budiawan Santoso

Walentina Waluyanti De Jonge tak akan membiarkan sejarah tentang Bung Karno menguap dan menghilang begitu saja pada masa kini atau masa depan nanti. Ikhtiar ini dibuktikan olehnya dengan menerbitkan buku Tembak Bung Karno, Rugi 30 Sen (2014). Sekilas, judul ini terasa humoris. Namun, pada kenyataannya, judul tersebut pernah dilontarkan Kapten Westerling, orang yang anti-Sukarno dan pernah menjadi Komandan Pasukan Baret Hijau di Makasar pada 6 Desember 1946.

DSC 0157 001

Foto: Aktor Ramon Y. Tungka saat mengunjungi kediaman penulis Walentina Waluyanti di Belanda, memperlihatkan buku "Tembak Bung Karno Rugi 30 Sen".

Ungkapan Westerling berawal dari pertanyaan begini, “Kenapa Anda tidak menembak Sukarno waktu kudeta dulu?” Lalu, ia menjawab, “Orang Belanda itu perhitungan sekali. Satu peluru harganya 35 sen. Sedangkan harga Sukarno tak lebih dari 5 sen. Jadi rugi 30 sen. Kerugian yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.”

Candaan itu terkesan melecehkan Bung Karno. Padahal, kita tahu bahwa jasa Bung Karno terhadap rakyatnya Indonesia melebihi apa yang diungkapkannya. Bahkan, segala apa yang dipikirkan, dilakukan, dan diperjuangkan Bung Karno demi masa depan rakyatnya tak bisa diukur dan disamakan dengan uang. Tapi, justru dari ungkapan Westerling yang didapati Walentine dari beberapa narasumber eks tentara KNIL di Belanda, bahkan dari Spanyol, setidaknya kita tahu peristiwa sejarah di balik Bung Karno.

Sekelumit gambaran tersebut, yang sekaligus memberikan pandangan baru terhadap sejarah Bung Karno. Saya sebagai pembaca buku ini, merasa bahwa apa yang disuguhkan Walentina, jauh dari keklisean sejarah. Kenapa?

Sebab, kita sudah mengetahui bahwa buku-buku yang mengulas sejarah Bung Karno hampir seabreg (banyak). Kita bisa menengok sebentar siapa saja penulis-penulis biografi Bung Karno dengan merujuk Joesoef Isak, yang antara lain Louis Fisher, Bob Hering, Cindy Adams, J.D. Legge, Bernhard Dahm, C.L.M. Penders, A.C.A. Dake, John Hughes, Willem Oltmans dan Lambert Giebels. Lalu, penulis dari negeri sendiri, seperti Rachmawati Sukarno, Ramadhan K.H., Solichin Salam, Imam Soepardi, maupun Sutamto Dirdjosuparto.

Dan, dari itu semua, Walentina tidak coverbookwebterjebak dengan buku-buku biografi mereka semua. Artinya, ia tidak melulu menghadirkan semua peristiwa sejarah Bung Karno yang sebenarnya sudah ada dalam buku-buku sebelumnya. Ia justru mencari dan menghadirkan sejarah yang ‘hilang’, terlupakan, unik, atau memang belum diketahui semua orang. Oleh karena itu, kehadiran bukunya adalah oase sejarah bagi kita-para pembaca.

Ini dapat kita lacak lewat pengakuan penulis. Ia mengungkapkan begini, “Saya tidak perlu menelan bulat-bulat dan memercayai semuanya secara hitam putih, karena uraian sejarah bukan sekadar mengajak untuk melihat paparan fakta. Namun, juga mengantar pada suatu perspektif penjelajahan” (hal. 156).

Adapun mengenai Bung Karno sendiri setelah membaca buku ini, pandangan terhadapnya bukan sekadar sosok hero yang hanya dikenal dengan slogannya “Jangan sekali-sekali Melupakan Sejarah” (jas merah) maupun warisan idenya berupa persatuan bangsa, Pancasila, dan Trisakti. Sosok Bung Karno justru juga sosok orang yang biasa dan bersahaja. Ia tak melulu dipandang sebagai orang yang kuat ideologinya, apalagi dikatakan sebagai orang sakti.

Untuk mengetahui kebenaran pernyataan itu, kita bisa menengok atau membaca lagi suguhan dari buku Walentina ini. Beberapa di antaranya, peristiwa Bung Karno saat diasingkan di Flores, ia menjual batu pembawa untung yang dimilikinya. Sebab, ia sadar bahwa batu atau jimatnya itu tak mampu menghindarkannya dari hukuman paling hebat yang bernama hukuman pembuangan. Malahan, ia juga mengakhiri kepercayaan tahayul mengenai makan di piring retak, konon bisa kualat, dengan menyeru begini, “Engkau barang yang mati, tidak bernyawa dan dungu. Engkau tidak punya kuasa untuk menentukan nasibku. Kutantang kau! Aku bebas darimu! Sekarang aku makan dalammu” (hal. 194).

Di sisi lain, pembaca yang merasa diajak untuk menelusuri dan menikmati oase sejarah Sukarno bersifat fragmentaris—menyangkut beberapa peristiwa kecil-kecil dan bersifat esai pendek, juga tetap perlu memosisikan Bung Karno sebagai pemikir, negarawan, dan ‘patriot yang sadar politik’. Sebab, pandangan terhadapnya inilah, yang menentukan pembaca dan buku ini sendiri. Apakah pembaca berhasil mendapati segala sejarah dan gagasan Sukarno? Apakah pembaca juga akan memiliki spiritnya Sukarno? Atau malahan buku ini di hadapan pembaca hanya akan menjadi angin lalu?

pohonsukun ende

Foto: Patung Bung Karno merenung di Taman Pancasila di Ende Flores. Di lokasi ini Bung Karno merenung saat menggali butir-butir Pancasila, saat ia diasingkan Belanda ke Ende.

Dalam hal ini, di balik buku Tembak Bung Karno, Rugi 30 Sen mengandung banyak hikmah dan renungan. Dan, saya sependapat dengan Walentina, dengan meminjam pernyataannya begini, dari “perspektif sejarah” ini, yang sebenarnya juga “mengarahkan mata saya pada satu titik, yaitu jejak keberhasilan dari sejarah masa lalu yang menjadi inspirasi dalam meraih kesuksesan. Dan, hikmah kegagalan dari sejarah masa lampau merupakan jembatan menuju masa depan yang lebih baik.” *** Penulis: Dwi Budiawan Santoso)

Judul buku : Tembak Bung Karno, Rugi 30 Sen
Penulis : Walentina Waluyanti De Jonge
Penerbit : Galang Pustaka
Cetakan : 2014
Tebal : x + 209 Halaman


 

Back

Add comment


Security code
Refresh

Sukarno

Tembak Bung Karno Rugi 30 Sen

(Hikmah di Balik Sejarah Bung Karno)

Resensi: Dwi Budiawan Santoso

DSC 0157 001

Read More

Written by Walentina Waluyanti

Buku Walentina di Gramedia

Bung Hatta

Berkunjung ke Rumah Kelahiran Bung Hatta

DSC 0424wm

Read More

Written by Walentina Waluyanti

Historic House

Berkunjung ke Rumah Karl Marx di Jerman

DSC 0180wm

Read More

Written by Walentina Waluyanti

History/Politics

Penyebab Mengapa Komunis Harus Atheis
komunis1webRead More

Writen by Walentina Waluyanti

Quote by Walentina Waluyanti

walentina avatar

"Jadilah penulis bermartabat, punya harga diri, dengan tidak menjiplak tulisan orang lain. Dengan pedang kehormatan dan harga diri, tulisan karya sendiri dapat mengangkat harkat penulisnya." email: walentina.waluyanti@upcmail.nl