Bukan Rendra

Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Rendra sangat jago mengolah kritik menjadi karya seni. Ada penggalan syairnya yang puitis tapi kritis, “Penalaran amarah yang salah, mendorong rakyat terpecah belah. Negara tidak mungkin kembali diutuhkan tanpa rakyatnya dimanusiakan. Dan manusia tak mungkin menjadi manusia tanpa dihidupkan hati nuraninya” (cukilan dari puisi Rendra, “Kesaksian Akhir Abad”).

Perangkap Loverboys

Copyright @ Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Norak ah, kalau sampai Ge-eR. Saya bukan gadis remaja cantik jelita. Karena itu saya tidak perlu G dan R, ketika merasa ada cowok muda terus menatap dari sudut sana. Ketika itu saya sedang jalan-jalan sendiri di sebuah mall di Belanda. Tapi akhirnya risih juga terus ditatap begitu. Lalu saya pindah ke lantai atas, mencari keperluan yang ingin saya beli.

Filsafat Ngana Ngono

Copyright @ Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Tulisan ini spontan mengalir begitu saja, setelah membaca "Surat Terbuka Kepada Walentina Waluyanti" dari Sirpa, California. Bukan saja karena surat itu terasa manis romantis dengan nuansa dialek Minahasa, yang nampaknya masih asing bagi banyak orang non-Kawanua. Ada kata khusus di surat itu yang menggerakkan pikiran saya, dan terangkailah tulisan ini. 

Jiwa Tetap Jiwa

Copyright @ Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Di dalam badan yang sehat, terdapat jiwa yang sehat? Di dalam badan ½ sehat, terdapat jiwa ½ sehat? Hmm...apapun itu, di dalam badan yang setengah sehat, atau benar-benar tidak sehat pun,  jiwa itu tetaplah jiwa.

Media dan Bahasa Gaul

Copyright @ Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Catatan penulis: Tulisan ini adalah tanggapan atas reaksi pembaca, “Kalo pake EYD, bahasanya jadi nggak gaul lagi dong! EYD itu kan bikin tulisan jadi serius,kaku, dan tidak bisa melucu?!”. Nah, betulkah begitu? Pendapat tadi menunjukkan adanya pengertian rancu tentang apakah EYD itu sebenarnya. Singkatan EYD, setiap orang sudah tahu. Tapi apa sih EYD itu?

Kolom Kita, Detik.com dan EYD

Copyright @ Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Catatan Penulis: Tulisan ini disusun dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kolom Kita yang ke-5, tanggal 24 Agustus 2010. Terima kasih atas pengabdian dan perjuangan moderator almarhumah Zeverina. Dan kepada moderator penerus, yaitu Dadi R. Sumaatmadja, selamat berkarya dan mengukir eksistensi jurnalisme warga di persada Indonesia. Dengan berkat-Nya, terpanjatkan harapan agar sukses dan jaya selalu.

Daya Tarik Pria: Apanya Dong?

Dimuat di Kompas.com, Kolom Kita, 2009

Copyright @ Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Bung Karno memang seniman. Hampir dalam segala hal ia punya selera yang luar biasa. Di luar soal ideologi dan mitos seputar Bung Karno, yang saya kagumi darinya adalah seleranya yang teatrikal dalam berpenampilan. Walaupun di jaman itu belum ada penasehat busana kepresidenan, tapi Bung Karno menunjukkan identitasnya sediri  melalui pemilihan busananya. Ia tidak memilih setelan jas hitam yang lazim dipakai para pria. Lihat! Betapa gagahnya Bung Karno berjalan  dengan setelan putihnya memegang tongkat komando, dengan sinar mata yang menyala-nyala. Dengan sangat representatif,  ia berdiri sejajar dengan pemimpin negara-negara lain.

Warisan Almarhum Istri

Jan – Nederland, Diterjemahkan oleh: Walentina Waluyanti - Nederland

Pernikahan saya dengan Walentina adalah pernikahan yang berbahagia. Saya sungguh mensyukuri kehidupan keluarga kami sekarang.

Sebelum bertemu Walentina, saya juga hidup berbahagia dengan istri pertama yang telah tiada. Berikut ini saya menulis sedikit kenangan bersama almarhumah, hingga wafatnya setelah 5 tahun sebelumnya terdiagnosa mengidap kanker ginjal tak tersembuhkan.

Zeverina Wafat

Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Hari ini tanggal 7 Juli 2010, saya kaget sekali mendengar berita meninggalnya Mbak Retno, pukul 17.00 di kediamannya di Pamulang, Jakarta. Lebih dikenal dengan nama Zeverina, penggagas dan moderator citizen journalism KOKI (Kolom Kita). Nama lengkapnya ketika masih bekerja sebagai wartawati Kompas, Zeverina Retno Pudjisriastuti. Setelah tidak lagi di Kompas, Zeverina mengelola Kolom Kita yang kini bergabung dengan Detik.com.

Ocehan KoKi

Dimuat di Kompas.com 2006

Catatan: Tulisan ini disusun ketika Zeverina (penggagas KoKi) mencari nama baru untuk mengganti nama kolom kesehatan di Kompas.com Akhirnya tulisan ini menjadi cikal bakal lahirnya nama KOKI (Kolom Kita), Citizen Journalism pertama di Indonesia yang sekarang bernaung di bawah Detik.com.

Penulis: Walentina Waluyanti - Nederland

Lieve Zeverina,

Thanks sudah memuat tulisan saya sebelumnya. Dimuat tidak ya, kalau di sini saya mau mengoceh tentang koki. Tapi bukan koki juru masak lho. Maksud saya koki yaitu KO(lom) KI(ta) alias kolom kita asuhan Zeverina ini. Karena Zeverina tidak punya banyak waktu untuk mengedit, saya to the point saja, ya.