< A room without books is like a body without a soul >

Satir Walentina (Lanjutan “Oh, Belanda! Rasain!")

Copyright @ Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Catatan penulis: Tulisan ini ditujukan untuk para penanggap atas tulisan saya "Oh, Belanda Rasain!".

Read more ...

Kesetiaan Teh Ninih

Copyright @ Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Jangan-jangan Sri Sultan Hamengkubuwono X cuma punya istri satu, karena takut istri? Lalu Sri Sultan jawab, lebih baik diejek takut istri daripada berpoligami. Sri Sultan dengan tegas menolak poligami, karena sudah mengalami pengalaman kelam, tumbuh dengan sejumlah saudara tiri dan sejumlah ibu tiri. Ia tak mau mengulang pengalaman pahitnya itu kepada anak-anaknya. Begitu pengakuan Sri Sultan ketika diwawancara oleh Andy F. Noya di Kick Andy.

Read more ...

Oh, Belanda! Rasain!

*) Sebuah satir, ironi dan sindiran atas perilaku yang selalu mencari kambing hitam atas nasib Indonesia, tanpa mau melihat ke depan

Copyright @ Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Karena kebetulan tinggal di Belanda, saya punya kambing hitam yang bisa disalahkan. Dan kambing hitam itu setiap saat ada di depan saya. Bersliweran di mana-mana, siap untuk saya salahkan.

Read more ...

Bukan Rendra

Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Rendra sangat jago mengolah kritik menjadi karya seni. Ada penggalan syairnya yang puitis tapi kritis, “Penalaran amarah yang salah, mendorong rakyat terpecah belah. Negara tidak mungkin kembali diutuhkan tanpa rakyatnya dimanusiakan. Dan manusia tak mungkin menjadi manusia tanpa dihidupkan hati nuraninya” (cukilan dari puisi Rendra, “Kesaksian Akhir Abad”).

Read more ...

Perangkap Loverboys

Copyright @ Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Norak ah, kalau sampai Ge-eR. Saya bukan gadis remaja cantik jelita. Karena itu saya tidak perlu G dan R, ketika merasa ada cowok muda terus menatap dari sudut sana. Ketika itu saya sedang jalan-jalan sendiri di sebuah mall di Belanda. Tapi akhirnya risih juga terus ditatap begitu. Lalu saya pindah ke lantai atas, mencari keperluan yang ingin saya beli.

Read more ...

Filsafat Ngana Ngono

Copyright @ Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Tulisan ini spontan mengalir begitu saja, setelah membaca "Surat Terbuka Kepada Walentina Waluyanti" dari Sirpa, California. Bukan saja karena surat itu terasa manis romantis dengan nuansa dialek Minahasa, yang nampaknya masih asing bagi banyak orang non-Kawanua. Ada kata khusus di surat itu yang menggerakkan pikiran saya, dan terangkailah tulisan ini. 

Read more ...

Jiwa Tetap Jiwa

Copyright @ Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Di dalam badan yang sehat, terdapat jiwa yang sehat? Di dalam badan ½ sehat, terdapat jiwa ½ sehat? Hmm...apapun itu, di dalam badan yang setengah sehat, atau benar-benar tidak sehat pun,  jiwa itu tetaplah jiwa.

Read more ...

Media dan Bahasa Gaul

Copyright @ Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Catatan penulis: Tulisan ini adalah tanggapan atas reaksi pembaca, “Kalo pake EYD, bahasanya jadi nggak gaul lagi dong! EYD itu kan bikin tulisan jadi serius,kaku, dan tidak bisa melucu?!”. Nah, betulkah begitu? Pendapat tadi menunjukkan adanya pengertian rancu tentang apakah EYD itu sebenarnya. Singkatan EYD, setiap orang sudah tahu. Tapi apa sih EYD itu?

Read more ...

Kolom Kita, Detik.com dan EYD

Copyright @ Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Catatan Penulis: Tulisan ini disusun dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kolom Kita yang ke-5, tanggal 24 Agustus 2010. Terima kasih atas pengabdian dan perjuangan moderator almarhumah Zeverina. Dan kepada moderator penerus, yaitu Dadi R. Sumaatmadja, selamat berkarya dan mengukir eksistensi jurnalisme warga di persada Indonesia. Dengan berkat-Nya, terpanjatkan harapan agar sukses dan jaya selalu.

Read more ...

Daya Tarik Pria: Apanya Dong?

Dimuat di Kompas.com, Kolom Kita, 2009

Copyright @ Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Bung Karno memang seniman. Hampir dalam segala hal ia punya selera yang luar biasa. Di luar soal ideologi dan mitos seputar Bung Karno, yang saya kagumi darinya adalah seleranya yang teatrikal dalam berpenampilan. Walaupun di jaman itu belum ada penasehat busana kepresidenan, tapi Bung Karno menunjukkan identitasnya sediri  melalui pemilihan busananya. Ia tidak memilih setelan jas hitam yang lazim dipakai para pria. Lihat! Betapa gagahnya Bung Karno berjalan  dengan setelan putihnya memegang tongkat komando, dengan sinar mata yang menyala-nyala. Dengan sangat representatif,  ia berdiri sejajar dengan pemimpin negara-negara lain.

Read more ...
Copyright (c) Walentina Waluyanti 2019. All rights reserved.