Asyiknya Lebaran Jadul

Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Ini nostalgia masa kanak-kanak, ketika saya belum hijrah ke Belanda. Saat masih di Makassar, di belakang tembok kompleks perumahan kami, ada perkampungan penduduk asli Makassar. Mereka umumnya tukang becak, ada juga nelayan. Kami yang tinggal di kompleks, menyebut pemukiman di belakang tembok itu sebagai “kampung”. Dan dari “kampung” inilah saya bisa merasakan keindahan momen Idul Fitri, yang memberi pelajaran berharga.

Berkunjung ke Pasar Terbesar di Eropa

Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Mungkin inilah satu-satunya pasar di Belanda di mana azan terdengar berkumandang. Di Belanda, hal ini unik dan tidak biasa. Soalnya meskipun di Belanda juga ada mesjid, tetapi suara azan hampir tak pernah terdengar di negeri ini.

Pengalaman Pergoki Porter di Bandara Mengacak Isi Koperku

Penulis: Walentina Waluyanti de Jonge – Belanda

Naik Garuda pun tidak menjamin koper Anda aman dari porter klepto. Saya pernah melihat sendiri kejadian yang marak jadi pemberitaan awal tahun 2016 ini. Yaitu tentang porter yang membobol koper penumpang. Media memberitakan, kamera CCTV memperlihatkan porter Lion Air di bandara Soekarno-Hatta menjarah isi koper. Parahnya, porter-porter itu bekerja sama dengan para sekuriti dan orang dalam di bandara sendiri. Para "tikus bandara" ini  mencuri benda-benda berharga yang ada di koper. Yang memalukan, menurut pengakuan porter, pencurian isi koper di bandara sudah menjadi tradisi turun-temurun.

Jalan-jalan di Frankfurt Book Fair

*) Indonesia Guest of Honour 2015

Penulis: Walentina Waluyanti de Jonge

Dunia memang hanya selebar daun kelor. Saya sedang melangkah dari elevator di Congress Centre di Frankfurt-Jerman pada event Frankfurt Book Fair 2015. Tiba-tiba mata saya tertumbuk pada wajah seorang yang saya kenal. Ibu itu pun terlihat terkejut ketika melihat saya. Dan kami pun tertawa. “Hey, kok bisa kita bertemu di sini?”, spontan saya bertanya. Ibu Welmin Sunyi Ariningsih adalah Deputy I Perpustakaan Nasional Indonesia, didampingi Ibu Titiek Kismiyati, Kepala Pusat Jasa dan Informasi Perpustakaan Nasional Indonesia.

Catatan Terbuka kepada Menteri Pendidikan Mengenai Penghapusan Skripsi

Bombardir Nyamuk di Pipi Bayi

Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Kalau ada nyamuk yang hinggap di pipi bayi, tidak berarti saya harus melempar bom molotov ke nyamuk yang bertengger di pipi bayi itu. Hanya karena alasan bertumbuhnya jasa pembuatan skripsi yang tidak dibuat oleh mahasiswa yang bersangkutan… maka dimatikanlah sendi-sendi budaya literasi paling mendasar yang harus melekat pada Perguruan Tinggi. Mahasiswa tidak lagi wajib membuat skripsi sebagai syarat menjadi sarjana!

Cerita dari Belanda:

"Mendingan Bir Ketimbang Perempuan!"

Penulis: Walentina Waluyanti - Belanda

Suami saya sedang menepikan kendaraan. Dengan perlahan, ia siap-siap memarkir mobil di tepi jalan. Tiba-tiba seorang pesepeda datang nyelonong di depan mobil. Terlihat jelas, pesepeda itu seperti sengaja menjatuhkan sepedanya di depan mobil. Modus. Cara-cara seperti ini sudah tersebar di Belanda sebagai bentuk penipuan. Ujung-ujungnya minta duit. Ehhh… benar saja.

Ahok Ditegur Aiman Witjaksono, Setujukah Anda?

Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Sudah “kodrat”-nya, wartawan tidak boleh mudah menyerah jika si narasumber enggan “buka-bukaan”. Wartawan harus mampu memancing narasumber untuk memberi info. Bukankah ini tugas wartawan? Bagaimana dengan wartawan Kompas TV Aiman Witjaksono? Lihatlah ketika Aiman Witjaksono mewawancarai Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI Jakarta (17/3/2015).

Mantap! Tak Tamat SD Kalahkan Sarjana (Bag. 3)

*) Apa Artinya Kompeten Tanpa Tanggung Jawab?

Penulis: Walentina Waluyanti

Rasanya nyaris tak percaya jika ada akademisi bergelar Doktor yang menulis karya buku ilmiah (sekali lagi: karya buku ilmiah, bukan artikel blog), tanpa referensi yang bisa dipertanggungjawabkan, hanya main comot sana-sini dari internet. Juga tak jarang kita mendengar Guru Besar yang dipecat karena melakukan kejahatan akademik, termasuk di antaranya membuat karya ilmiah hasil plagiat, atau misalnya memanipulasi fakta sejarah demi jabatan dan kedudukan.

Mantap! Tak Tamat SD, Kalahkan Sarjana! (Bag. 2)

*Rahasia Sukses Buya Hamka dan Pramoedya Ananta Toer

Penulis: Walentina Waluyanti - Nederland

Catatan: Tulisan ini merupakan rangkaian dari tulisan tentang Buya Hamka yang tak tamat SD, dan Pramudya Ananta Toer yang berijazah SD, namun mampu jadi penulis besar, klik: Bag.1: Mantap! Tak Tamat SD Kalahkan Sarjana!

Sukarno adalah penulis produktif pada masa mudanya. Berapa banyak karya tulis yang dihasilkan oleh Sukarno (saat masih mahasiswa) yang menyangkut latar belakang studinya, yaitu teknik sipil? Nyaris tak pernah terdengar. Tapi jangan ditanya berapa banyak karya tulisnya yang berkaitan dengan sejarah dan politik. Tak terhitung dengan jari. Ini artinya, dunia tulis-menulis memang erat kaitannya dengan dorongan hati nurani. Otak hanya bisa mengalir lancar, merangkai kata melalui tulisan, karena dorongan hati yang berasal dari kecintaan terhadap sesuatu.

Mantap! Tak Tamat SD Kalahkan Sarjana! (Bag. 1)

* Rahasia Sukses Buya Hamka dan Pramoedya Ananta Toer 

Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Catatan: Tulisan ini bersambung ke bagian 2, silakan klik: Rahasia Buya Hamka dan Pramoedya Ananta Toer (bag.2)

Buya Hamka (singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah), adalah salah satu ulama moderat kebanggaan Indonesia. Ulama asal Maninjau Sumatera Barat ini hanya bersekolah sampai kelas 2 SD. Tetapi keandalannya sebagai penulis, mendapatkan pengakuan di dalam dunia sastra bahkan ia juga piawai menulis ulasan sejarah. Sarjana saja belum tentu bisa berkarya seperti Buya Hamka. Ia belajar sendiri secara otodidak. Saya pernah membaca ulasan tentang sejarah Islam yang ditulis oleh Buya Hamka. Tulisan Hamka malah lebih hidup dibandiug karya akademisi.