Zeverina Wafat

Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Hari ini tanggal 7 Juli 2010, saya kaget sekali mendengar berita meninggalnya Mbak Retno, pukul 17.00 di kediamannya di Pamulang, Jakarta. Lebih dikenal dengan nama Zeverina, penggagas dan moderator citizen journalism KOKI (Kolom Kita). Nama lengkapnya ketika masih bekerja sebagai wartawati Kompas, Zeverina Retno Pudjisriastuti. Setelah tidak lagi di Kompas, Zeverina mengelola Kolom Kita yang kini bergabung dengan Detik.com.

z-cvSebelum berpulang untuk selama-lamanya, Zeverina sudah terus berjuang melawan sakit yang dideritanya, yaitu sakit kanker ovarium. Penderitaan yang kini membuatnya justru menemukan kedamaian dan ketenangan abadi di pangkuan Sang Khalik.

Ketika mendengar meninggalnya Zeverina, saya yang pertama kali langsung menulis "Turut Berduka Cita" di kolom greetings KOKI. Sesudah itu saya tulis lagi di kolom profil Zeverina, pendek saja, "Walent nangis". Waktu itu masih sedih dan bingung, karena hanya mendengar berita yang saya takutkan belum tentu benar. Berita tentang wafatnya seseorang bukan berita main-main. Karena itu ketika pertama kali menulis di "kolom Greetings" KOKI itu, saya tidak berani menyebut nama Zeverina. Sesudah saya tulis itu pertama kali, kemudian para kokiers bermunculan satu persatu mengucapkan bela sungkawa di KOKI.

Jasa Zeverina patut dikenang. Yaitu merintis tumbuhnya jurnalisme warga yang pertama di Indonesia. Kolom yang diasuhnya bernama Kolom Kita (KOKI) adalah format citizen journalism pionir di Indonesia. Kiprah Zeverina antara lain pernah saya tulis di artikel saya berjudul "Asal Mula Nama KOKI" yang pernah dimuat di Kompas.com. Tulisan ini bisa anda baca di website ini (klik kolom Diverse).

Kolom Kita (KOKI) di bawah asuhan Zeverina kemudian menstimulir lahirnya para penulis baru. Bahkan melalui Zeverina dengan KOKI-nya, orang yang tadinya tidak bisa menulis, jadi pinter menulis. Zeverina memang mampu menggawangi KOKI hingga KOKI dikenal sebagai komunitas citizen journalism pertama dan terbesar di Indonesia. Sejak pertama mengibarkan bendera KOKI, komunitas ini mampu menjaring 7000-an anggota/kokiers fanatik dari seluruh kota di Indonesia dan dari hampir seluruh negara dari belahan dunia.

Zeverina sangat ulet, gigih dan tekun meperjuangkan eksistensi dan idealisme-nya tentang citizen journalism melalui KOKI. Yang diperjuangkan Zeverina adalah kebebasan beropini (secara bertanggungjawab) bagi setiap warga yang kemudian menjadi dasar berdirinya citizen journalism. KOKI hanyalah bendera Zeverina dalam memperjuangkan idealismenya itu. Zeverina pantang menyerah, walau sebetulnya kondisinya mulai lemah.

Mungkin juga Zeverina punya firasat, umurnya tidak lama lagi, dan karena itu dia ingin meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi setiap orang.

zev-webJerih payah Zeverina itu memang berhasil. Saya masih ingat, Zeverina pernah menyapa saya di kolom profil saya di KOKI, lalu Zeverina menuliskan pesannya: "Apa kabar Walentina? Iya Z sih cuma berusaha sekuatnya mempertahankan nama KOKI ciptaanmu itu, hihi, dan ternyata berat banget, buuanyak hadangannya...salam juga dari Jakarta. Sukses yaaaa..."  Posted by Zeverina/Selasa, 25 Agustus 2009/12.12 WIB.

Ketika menyapa itu, Zeverina sudah dalam keadaan terbaring sakit, tidak kuat lagi, namun toh masih berusaha mampir menyapa kokiers. Karena di saat itu dia ingin turut berbagi keceriaan bersama para kokiers merayakan ulang tahun KOKI yang ke-4.

Turut berduka cita sedalam-dalamnya. Inna lillahi wa inna illaihi roji'un. Selamat jalan Mbak Retno. Jasamu akan selalu kami kenang. Semoga amal ibadah almarhumah diterima di sisi-NYA. Kepada keluarga yang ditinggalkan, suami Mbak Retno yaitu Dadi R. Sumaatmaja dan putra putri, Dipa dan Sasyi, dari Belanda kami sekeluarga menghaturkan turut belasungkawa sedalam-dalamnya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

May you rest in peace Zeverina Retno Pudjisriastuti. Terimakasih untuk semua jerih payah Mbak Retno. Hidupmu tidak sia-sia. Kini engkau bersemayam dengan tenang di pangkuan kasih Tuhan.

Semoga karyamu bisa diteruskan, tumbuh dan tetap jaya. Amin.

Walentina Waluyanti, penulis buku "Tembak Bung Karno Rugi 30 Sen"

Nederland, 7 Juli 2010