< A room without books is like a body without a soul >

Warisan Almarhum Istri

Jan – Nederland, Diterjemahkan oleh: Walentina Waluyanti - Nederland

Pernikahan saya dengan Walentina adalah pernikahan yang berbahagia. Saya sungguh mensyukuri kehidupan keluarga kami sekarang.

Sebelum bertemu Walentina, saya juga hidup berbahagia dengan istri pertama yang telah tiada. Berikut ini saya menulis sedikit kenangan bersama almarhumah, hingga wafatnya setelah 5 tahun sebelumnya terdiagnosa mengidap kanker ginjal tak tersembuhkan.

Saya menikah dengan gadis berdarah Belanda-Indonesia itu, dalam usia ketika kami sama-sama masih remaja. Kami adalah pasangan yang hidup bahagia dan penuh cinta, selalu melewatkan waktu bersama setelah seharian disibuki oleh karir kami masing-masing. Seperti juga Walentina, di masa hidupnya, almarhumah istri saya selain gemar bermusik/main piano, juga senang menulis.

Sebelum meninggalnya, almarhum istri saya meninggalkan benda yang buat saya sangat berharga. Dari sekian peninggalannya, yang paling berharga buat saya adalah warisan puisinya kepada saya. Puisi berbahasa Belanda yang berjudul “Hanya Sendiri” itu dipersembahkannya kepada saya hanya beberapa saat sebelum meninggalnya. Berikut ini Walentina menerjemahkan puisi itu ke dalam Bahasa Indonesia.

Hanya Sendiri

Puisi Karya: I. Georgina Flora

Sendirian saat terbangun,
tanpa seseorang di sampingmu.

 Menyiapkan sarapan sendiri,
dan tak seorangpun bertanya,
apakah telur rebus itu lagi-lagi terlalu keras?

Berangkat kerja sendiri,
dan tak seorang pun mengecupmu
lalu mengucapkan semoga harimu menyenangkan
 Kembali ke rumah,
dan tidak seorang pun bertanya
“Bagaimana pekerjaanmu tadi?”
Tidak seorang pun bertanya,
bagaimana kau seharian tadi melewati hari-mu.
 Berbelanja sendiri
dengan daftar belanjaan di tangan,
namun toh kadang masih ada yang terlupakan.
Sendirian memikirkan sesuatu
tanpa seseorang di sisi-mu untuk berbagi pikiran.
Sendirian memasak,
dan tidak seorangpun berkata bahwa masakanmu betul-betul sedap.
Sendirian menonton televisi,
dan tidak seorang pun berkata bahwa itu program buruk
mengapa kau menontonnya.
Sendirian ke tempat tidur,
tanpa seseorang yang memelukmu dengan hangat.
Sendirian terjaga
di atas pembaringan yang begitu luas dan besar.
Tidak seorang pun bertanya
apa yang kau rasakan dan apa yang kau inginkan.
Kau kesal tentang sesuatu yang terjadi,
dan tak seorang pun bersamamu
saat kau ingin bercerita tentang kekesalan itu.
Sendiri,
tanpa daya,
walau ada ratusan ribu orang di sekitarmu.
Suatu hari nanti,
kau tak akan sendiri lagi.

Saya mengenang kembali saat puisi ini dibuat. Saat itu istri saya sungguh melewati hari-hari yang berat. Hari yang berat bagi istri, juga adalah hari berat bagi suami. Selama 5 tahun istri saya menderita sakit, selama itu pula saya berperan memberinya kekuatan untuk tetap tabah. Dukungan sangat berarti yang bisa menguatkan penderita kanker, bukan dari siapa-siapa, selain dari pasangan si penderita sendiri.

Selama 5 tahun saya menjadi saksi mata, melihat bagaimana penderitaan almarhumah istri semasa hidupnya. Karena harus melawan segala rasa sakit akibat penyakit kanker ginjal yang dideritanya. Tak terhitung berapa puluh macam proses medis yang harus dijalaninya untuk mencapai kesembuhan. Beberapa operasi, radiotherapy, chemotherapy dan beberapa pengobatan lain.

Kami juga mengusahakan pengobatan maksimal ke rumah sakit terbaik di Belanda yang terkenal untuk pengobatan kanker ini. Yaitu rumah sakit Antoni van Leeuwenhoek di Amsterdam.

avl-web

Foto: Rumah Sakit Antoni van Leeuwenhoek, Amsterdam

Namun semua itu tidak menolong karena kanker itu sudah terlanjur menyebar. Sehingga akhirnya dokter menyatakan penyakit itu sudah tak mungkin lagi disembuhkan. Final-nya adalah vonis dokter tentang umur yang tidak lama lagi.

Semua keluhan itu bermula ketika dirasanya punggungnya sangat sakit. Rasa sakit itu menjalar hingga ke paha dan lututnya. Semula dia menduga itu hanya pegal-pegal biasa. Tapi rasa sakit itu tetap tidak hilang walau sudah beberapa kali ditangani physiotherapy. Malah sakit itu dirasanya semakin menjadi. Ketika akhirnya penyakit kanker itu terdeteksi, rasa shock mungkin bisa tergambarkan pada paragraf yang saya kutip dari buku harian yang ditulis almarhumah istri saya:

“Dokter Wiltink menyampaikan kabar itu dengan tenang. Dengan tegas dia mengatakan akan menyampaikan kabar buruk. Tumor itu sudah terlalu agresif, katanya dengan dingin. Penyakit anda tak bisa disembuhkan! Berita itu bagi saya bagai sebuah ledakan bom! Yan tampak kehilangan keseimbangan. Kami jelas tidak bisa bereaksi normal mendengar berita itu. Begitu kagetnya kami hingga suasana terasa hening beberapa saat di ruang praktek dokter itu. Bahkan saya tidak bisa menunjukkan reaksi emosional sama sekali. Barulah ketika kami kembali ke tempat parkir mobil, saya mulai menangis. Kami butuh waktu setengah jam duduk diam di atas mobil  untuk memulihkan kekagetan sebelum menghidupkan mesin mobil. Yan tidak bisa berbuat apa-apa, selain dengan mata berkaca-kaca memeluk dan mengusap-usap punggung saya untuk sekedar menguatkan hati saya”.

foto-1

Painting by Gustav Klimt

Buku harian almarhumah itu tetap saya simpan sebagai kenangan. Walentina minta ijin saya, apakah dia boleh membacanya. Tentu saja Walentina boleh membaca setiap helai catatan almarhumah istri saya di buku itu.

Menurut Walentina, di buku harian itu almarhumah tidak saja menulis tentang sakitnya, pengobatannya, tapi juga pengalaman batinnya. Melalui buku harian itu, sekaligus juga Walentina lebih mengenal saya. Karena di buku itu almarhumah istri juga menulis tentang bagaimana peran suami dalam rumah tangga, pada saat istri tidak lagi sanggup mengerjakan banyak hal. Sebut saja mulai dari hal kecil seperti memasak, membersihkan rumah dan lain-lain, sampai pada dukungan mental agar istri tidak tenggelam dalam depresi karena sakitnya.

Setiap hari bagi saya seakan sudah menjadi upacara ritual bagaimana membawa obat-obatan dengan segelas air ke kamar tidur untuk istri di masa hidupnya.
Walaupun itu menjadi pekerjaan rutin, saya tetap tidak bisa membayangkan bagaimana seseorang harus menelan puluhan jenis obat-obatan yang harus ditelannya setiap hari...!
foto-2
Karena rasa sakit yang sering tak tertahankan, morfin dan pil tidur (dalam resep dokter) juga menjadi bagian dari obat-obatan yang mesti dikonsumsinya. Tak terhitung berapa ratus kali saya mesti mengantarnya bolak-balik ke  rumah sakit selama 5 tahun.

Beberapa bagian tubuh istri saya juga penuh bekas sayatan pisau operasi. Wajahnya menjadi bengkak akibat  efek pengobatan. Dan matanya menjadi juling karena kanker yang sudah menyebar ganas itu begitu parahnya, hingga mempengaruhi saraf mata. Kadang dia bertanya, “Apakah kau masih mencintaiku dengan keadaanku yang begini?”.

Saya tidak berbohong, bagi saya istri saya tetaplah pengantinku yang cantik, bagaimanapun keadaannya. Karena saya mencintai seseorang seutuhnya dan apa adanya. Kesetiaan adalah konsekuensi wajar jika mencintai seseorang.

Setiap pagi kami terbangun dengan perasaan gelisah. Akankah hari ini menjadi hari terakhir? Walau sudah tahu sebelumnya, ketika akhirnya istri meninggal di pelukan saya, tetap saja perasaan terpukul itu menghinggapi. Antara percaya dan tidak percaya, saya memeluk tubuhnya yang kaku dan dingin, seakan belum percaya bahwa pasangan tercinta telah meninggalkan saya untuk selama-lamanya.

Seketika saya merasakan kesenyapan yang begitu mencekam di dalam rumah.
foto-3
Di rumah  (Foto: Walentina Waluyanti)

Saya merasa aneh, hari-hari sesudah itu saya melewati segalanya sendirian. Begitu bangun pagi, saya mesti sarapan sendirian. Tiba-tiba saya merasa tidak terbiasa dengan situasi ini. Rasanya aneh karena saya mesti minum kopi hangat, menikmati sinar matahari sambil duduk sendirian di kebun. Persis seperti yang digambarkan almarhumah istri di dalam bait puisinya.

Sekarang almarhumah telah bersemayam dalam kedamaian di alam abadi. Tiada lagi kesakitan yang bisa menderanya. Istri saya menulis di buku hariannya bahwa di tengah penderitaanya, toh dia bisa berbahagia. Karena melalui suami yang tetap setia di sisi-nya, dia bisa tegar melewati tahun-tahun sulit.

Tentu saja kenangan tentang almarhumah istri tidak pernah akan terlupakan. Fotonya tetap kami pajang di lemari khusus di samping abu kremasi-nya sebagai tanda penghormatan kami padanya. Sebagaimana kehidupan senantiasa bergulir, masa depan harus disongsong dan dibangun.

Seperti juga yang ditulis di paragraf terakhir puisi almarhumah istri saya, “Suatu hari nanti kau tak akan sendiri lagi”, begitu juga kemudian perjalanan hidup mempertemukan saya dengan Walentina.

Masa lalu yang dulu telah saya lewati dengan penuh cinta, hormat, kesetiaan dan kebahagiaan, kini saya membaginya bersama Walentina istri saya.

Dengan berkat-Nya, kami akan selalu bersama, sampai batas usia yang sudah saya lihat sendiri....tak seorangpun bisa menahannya.

(Jan-Nederland, Terjemahan: Walentina)

 

Copyright (c) Walentina Waluyanti 2019. All rights reserved.