Ocehan KoKi

Dimuat di Kompas.com 2006

Catatan: Tulisan ini disusun ketika Zeverina (penggagas KoKi) mencari nama baru untuk mengganti nama kolom kesehatan di Kompas.com Akhirnya tulisan ini menjadi cikal bakal lahirnya nama KOKI (Kolom Kita), Citizen Journalism pertama di Indonesia yang sekarang bernaung di bawah Detik.com.

Penulis: Walentina Waluyanti - Nederland

Lieve Zeverina,

Thanks sudah memuat tulisan saya sebelumnya. Dimuat tidak ya, kalau di sini saya mau mengoceh tentang koki. Tapi bukan koki juru masak lho. Maksud saya koki yaitu KO(lom) KI(ta) alias kolom kita asuhan Zeverina ini. Karena Zeverina tidak punya banyak waktu untuk mengedit, saya to the point saja, ya.

Ketika masih kecil, dulu di sekolah ada pelajaran mengarang. Hasil karangan saya biasanya dikomentari ayah. Serentetan komentar dari ayah misalnya "kata ulang jangan pakai angka dua, jangan menyingkat kata (yg/yang, utk/untuk), perhatikan penulisan "di" sebagai awalan atau kata depan, jangan memakai kata "daripada" atau "yang mana" tidak pada tempatnya (kayak cara bertutur mantan penguasa Orba) yang bikin kalimat jadi membingungkan.......jangan mengulang-ulang kata yang sama...dsb...dsb". Wah berlagak korektor dan editor koran saja ayahku itu. Untuk tidak berpanjang-panjang, biasanya ayah menyodorkan koran Kompas sebagai contoh acuan cara penulisan yang benar. Dengan sok yakin, ayah mengatakan, Kompas (di jaman itu/sekitar tahun 70-an) adalah koran terbaik di tanah air, baik dari segi editing maupun mutu penyajian tulisan dan opini.

Begitulah, selama itu bagi saya Kompas bak putri bangsawan yang selalu jaim/jaga imej. Kompas terkesan selalu rapi dan sangat patuh pada kaidah standar. Tetapi kesan ini agak berubah dengan adanya kolom Zeverina, yang memuat tulisan pembaca yang tak jarang ditulis"keluar jalur", baik dari segi kaidah bahasa maupun gaya penulisan, tanpa sensor/disensor seperlunya.Nggak nyangka! Ooooh ternyata putri bangsawannya bisa nakal juga to. Bisa pakai celana jeans sobek, ketat dan kelihatan pusernya, ditambah tatoo lagi.

Kompas yang bercitra eksklusif dan terkesan hanya memberi tempat pada penulis yang dikenal saja, kali ini menjadi lebih berwarna dengan hadirnya kisah campur aduk di kolom ini. Ibarat makan sayur asem, sekarang sudah pakai sambel terasi....jadi lebih sedaaap. Perhatikan bagaimana gado-gadonya cara orang mengekspresikan pikirannya di kolom Zeverina. Dari yang paling lugu sampai tulisan cerdas ala ilmuwan. Tapi justru karena itulah saya seperti menemukan sesuatu yang selama ini hilang.Yaitu belajar menyelami berbagai ragam karakter manusia, dari berbagai macam latar belakang, yang diungkapkan secara apa adanya tanpa polesan berbagai ilmu teknik penulisan. Ini seperti romantisme mengunjungi pasar rakyat. Mau cari batik prada sampai onde-onde semuanya ada! 

Ketika menulis untuk kolom ini saya tidak perlu merasa khawatir bahwa cara penulisan saya tidak sesuai metode, norak, salah ejaan, dsb. Asal jangan menyinggung masalah SARA dan tidak saling memaki kan? Toh saya cuma kepingin nulis surat buat Zeverina saja kok. Begitu juga ketika saya ingin membaca tulisan di kolom ini, saya tidak perlu berharap semua tulisan harus berkelas. Walaupun memang ada juga yang tulisannya setingkat penulis kawakan, biarpun katanya penulis amatir. Di kolom ini para penulis anonim juga punya hak untuk tampil. Semakin anonim, semakin tampak kepolosan itu. Sehingga di kolom ini, saya bisa menengok berbagai macam kepolosan manusia. Saya seakan bisa merasakan denyut dan dinamika kehidupan manusia dari berbagai belahan dunia. Dan semua itu diceritakan langsung oleh pelakonnya tanpa perantaraan reporter apalagi penulis skenario. 

Saya ibaratkan tulisan di kolom ini ibarat kontrasnya kekumuhan sungai Ciliwung yang berada di tengah arogannya kota Jakarta. Di tengah megahnya kota Jakarta, melihat orang-orang kecil di sungai Ciliwung yang berjuang mempertahankan hidup dalam segala keterbatasan, membuat kita berhenti sejenak. Begitu juga tulisan di kolom ini, kelihatan kontras di antara berita-berita serius di halaman lainnya. Kita tertegun sejenak karena tergelitik oleh para penulis di kolom ini justru karena keamatirannya. (Aneh kan, para  penulis amatir ini kok malah menarik perhatian?) Bukankah jedah sejenak itu perlu supaya baterai tidak cepat habis?

Ketika membaca kolom ini, ibarat mengusir sumpek karena hidup di ruang tertutup, dan karena itu membuka jendela, untuk melihat dunia lain di luar sana.

Di tengah berita Kompas yang umumnya tentang "anjing gigit orang" (biasa saja), membaca surat-surat di kolom ini bagaikan membaca berita tentang "orang gigit anjing" (tidak biasa), bukan karena sensasi dan kontroversi kisah-kisahnya. Tapi justru karena gaya tulisan-tulisan itu sendiri, yang tak sedikit bergaya lugu, lucu, polos, nyeleneh, campur aduk, seenaknya tanpa takut dituduh "kayak  tidak pernah makan sekolahan". Dan semua itu kok bisa dimuat di halaman koran bergengsi di tanah air seperti Kompas. Rasanya seperti menyaksikan seni grafity di antara lukisan Rembrandt. Itu saja sudah cukup kontroversial toh!

Dan tentang apakah kisah di kolom ini menarik hanya jika kontroversial dan sensasional, saya kira itu masalah selera saja. Jika menengok kembali maksud kolom ini kan tadinya untuk menampung uneg-uneg pembaca, ataupun berbagi pengalaman. Masak kita mau mengatakan ke orang yang curhat, "Eh, saya tidak suka uneg-uneg kamu, abis nggak kontroversial sih!". Tidak lucu kan. Masak untuk mengeluarkan uneg-uneg saja harus diatur sesuai kebutuhan pendengar/pembaca. Lagi pula kalau Zeverina pilih-plih cuma memuat kisah curhat yang heboh saja, nanti dituduh mendiskriminasikan orang yang mau curhat....repot!

Saya yakin tidak semua pembaca kolom ini hanya bermaksud membaca kisah kontroversial saja. Dan rasanya banyak yang tidak setuju kalau kolom ini munculnya tidak setiap hari (atau ada yang setuju?....angkat tangan!!!...tuh cuma dikit kan?). Kembali ke masalah selera, kolom ini tentu punya keterbatasan sehingga tidak mungkin memenuhi selera setiap orang. Perbedaan selera itu biasa. Seperti juga tidak semua orang menyukai sensasi drama ala The Bold and The Beautiful. Sebaliknya ada juga yang tidak bosan-bosannya menyaksikan program "Ria Jenaka"  atau "Si Unyil". 

Walentina Waluyanti

Nederland, 13 Maret 2006