Ngana Orang Apa?

Copyright @ Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Penampakanku mungkin membingungkan. Identitasnya tidak jelas dari planet mana. Antara nama, muka dan dialeknya tidak nyambung. Ah, tidak apa-apa. Yang penting engsel tubuhku masih nyambung satu sama lain. Sehingga masih bisa beredar di sana dan di sini.

Walentina, ngana orang apa?

Ngana. Saya senang kalau ada yang menyapa saya dengan kata itu. Ngana dalam dialek Manado berarti kamu, torang artinya kita/saya. Ya, torang senang.

Panggilan itu membuat saya merasa punya identitas. Setidaknya sapaan ngana itu menunjukkan si penanya menangkap sinyal bahwa saya ini wanita Manado. Meskipun mungkin masih agak meragukan. Manado beneran atau Manado-manadoan?

Tetapi dicurigai asal Manado pun, sudah membuat saya merasa se-wow wanita Menado. Walaupun kurang jelas juga apa arti wow itu. Ada wow dalam versi kalem, tenang, anggun, sampai binal. Ada wow dalam versi spektakuler....dan interpretasi wow lainnya.

Iya dong, wanita Manado itu bukan satu type saja. Jaman sudah berubah. Jangan terperangkap mitos kesukuan. Seperti juga ada putri Solo yang se-type Connie Constantia. Sebaliknya ada wanita Manado yang kalem kayak Yati Pesek....maaf kalau contohnya sedikit error!

Maksud saya, jangan main pukul rata menyamakan semua orang dong!

Ya, saya merasa ge-er kalau ada yang memanggil saya ngana. Mudah-mudahan saja dia memanggil saya begitu, karena menilai saya ini semanis wanita Manado. Semanis Elsye Sigit, wanita Menado itu. Diduga sebagai wanita Manado, membuat saya merasa punya asal-usul.

Itu saja sudah satu identitas kan?

Identitas? Ya, kadang-kadang saya merasa tidak punya identitas jelas. Walaupun selalu mengantongi...eh...mendompeti (berhubung tidak punya kantong) kartu identitas. Saya bingung dengan identitas saya. Orang apa sebenarnya saya ini.

Suku sana tidak, suku sini tidak. Kulitnya putih tidak, coklat tidak. Matanya sipit tidak, mbelok tidak....kalau jelalatan sih iya. Karakternya keras tidak, halus juga tidak....kalau mbeling sih itu kambuhan saja. Alirannya kanan tidak, kidal juga tidak....paling cuma mampet sedikit.

Masih beruntung orang yang dipanggil "Hey Cina!" Panggilan itu tidak selamanya berkonotasi rasialistis. Itu bisa juga bernada pujian. Mengingat etos kerja orang Cina. Malah seharusnya bangga masih bisa menyebut diri orang Cina. Setidaknya jelas jati dirinya. Jadi tidak perlu lagi ditanya, "Ngana orang apa?" Tidak sekabur kayak saya ini.

Saya gelalapan kalau ditanya, "Ngana orang apa?"

Saya bisa menunjuk kota di peta tempat saya dilahirkan. Tapi saya tidak fasih berbahasa daerah tempat saya dilahirkan itu. Saya bisa meminjam suku asal ayah saya. Saya bisa menyebut suku asal ibu saya. Tapi kedua suku itu tidak bakalan mengakui kalau saya berasal dari komunitas mereka. Karena darah saya cuma setengah sana dan setengah sini. Di sana tidak, di sini tidak.

Kalau saya datang ke komunitas suku ayah saya, kehadiran saya cuma seperti makhluk ET. Kalau saya datang ke komunitas suku ibu saya, cuma makhluk ET yang mau mengakui kehadiran saya. Bagaimana ini?

Apakah saya mengalami krisis identitas? Krisis lagi. Lagi-lagi krisis. Padahal krisis finansial sekarang ini saja sudah cukup menyesakkan.

Karena merasa tidak punya identitas, saya lalu berniat mencarinya. Saya mematut-matut diri di depan cermin. Bak dokter ahli, saya mendiagnosa diriku dengan cermat. Saya melihat dengan teliti. Satu mata harus dipicingkan. Supaya melihatnya bisa tepat ke sasaran.

Mungkin saya bisa menemukan identitas itu. Kalau sudah ketemu, mungkin bisa dipatenkan.

Oke, apa yang bisa dipatenkan dari diriku ini sebagai identitas?

Setelah lelah melihat-lihat, sang mister identitas itu tak juga ditemukan. Jangankan batang hidungnya, sebatang rokok pun tak saya peroleh. Karena memang saya tidak merokok. Jadi jelaslah, saya tidak bisa mengidentitaskan diri bahwa saya ini perokok.

Halaaaah... ngomong apa tho ini? Sebelum saya semakin out of topic alias semakin ngawur, saya akan coba mengembalikan cerita ini kembali ke relnya.

Karena saya tidak bisa menemukan identitasku di cermin itu, saya lalu melihat ke cermin yang lain. Yaitu cermin nuraniku. Walentina, ngana orang apa?

Orang Jogja, Solo, Manado, Makassar, Batak, Madura, Badui, Dayak....? Atau jangan-jangan saya tidak mau mengakui salah satu suku itu karena saya lebih suka disebut orang Belanda? Lebih bangga jadi orang Belanda? Karena sudah tinggal di Belanda? Jadi lebih membangga-banggakan Belanda?

Jauh di lubuk hati, memang memalukan melihat negeriku itu. Korupsinya sudah sangat kronis, entah stadium berapa. Budayanya yang katanya adiluhung kini sudah nyaris terpuruk oleh budaya korup. Belum lagi penyakit lain-lainnya.

Ah, sudahlah. Apa boleh buat. Mau dikatakan apapun, itulah ibu pertiwiku.

Bagaimanapun jeleknya, ibu pertiwi tetaplah ibuku. Tidak pantas mengingkari ibu sendiri. Yang sudah jelek jangan semakin dijelekkan.

Tiba-tiba saya teringat percakapanku dengan Oom Pietje, si meneer Londo itu."Waar kom je vandaan?" (Kamu berasal dari mana?), tanyanya.

"Indonesia", jawabku bangga dengan hidung mekar terangkat sedikit.Tapi kebanggaanku itu dikoyak-koyaknya.

Dia lalu menyambar dengan humor sarkastis, "Wah, kamu ini bangsa pencuri!".Kutu kupret si Oom Pietje ini! Bule sontoloyo! Belum kenal siapa torang!

Saya lalu melipat lengan bajuku, bertolak pinggang dan melotot tapi tetap manis.Sambil merenggut kerah bajunya, saya menggeram.

"Eh, ngana ngaca dong!", jawabku tentu saja dalam bahasa Belanda.

"Selama tiga setengah abad ratu kamu sudah nyolong hampir semua kekayaan negeriku....sampai Indonesia jadi melarat begitu. Udah gitu, nyebut-nyebut pencuri pula kau ini bah!".

Aha! Mengingat percakapan itu, terbersit sesuatu di pikiranku. Ya! Sekarang saya tahu apa jawabnya kalau ditanya, "Walentina, ngana orang apa?".

Ya! Saya tahu! Lupakan saja semua atribut kesukuan itu!

Karena saya ini suku ngeyel yang berasal dari Indonesia!

Walentina Waluyanti - Nederland