Mantap! Tak Tamat SD, Kalahkan Sarjana! (Bag. 2)

*Rahasia Sukses Buya Hamka dan Pramoedya Ananta Toer

Penulis: Walentina Waluyanti - Nederland

Catatan: Tulisan ini merupakan rangkaian dari tulisan tentang Buya Hamka yang tak tamat SD, dan Pramudya Ananta Toer yang berijazah SD, namun mampu jadi penulis besar, klik: Bag.1: Mantap! Tak Tamat SD Kalahkan Sarjana!

Sukarno adalah penulis produktif pada masa mudanya. Berapa banyak karya tulis yang dihasilkan oleh Sukarno (saat masih mahasiswa) yang menyangkut latar belakang studinya, yaitu teknik sipil? Nyaris tak pernah terdengar. Tapi jangan ditanya berapa banyak karya tulisnya yang berkaitan dengan sejarah dan politik. Tak terhitung dengan jari. Ini artinya, dunia tulis-menulis memang erat kaitannya dengan dorongan hati nurani. Otak hanya bisa mengalir lancar, merangkai kata melalui tulisan, karena dorongan hati yang berasal dari kecintaan terhadap sesuatu.

Faktanya memang tak selamanya hal-hal yang diminati itu berasal dari bidang studi yang digeluti. Passion memang tidak selalu sinkron dengan diploma. Jika sesuatu yang diminati dan dicintai itu (passie), bisa menstimulasi untuk berkarya, mengapa tidak? Bila passie bisa memberi kepuasan, membawa manfaat, dan memberi prestasi... mengapa tidak?

Sekali lagi, kompetensi itu perlu, tapi tidak bisa diberlakukan secara kaku untuk segala hal. Meski latar belakang akademis saya tidak ada hubungannya dengan seni, namun saya juga tertarik pada seni lukis. Di bawah ini salah satu karya lukis saya.

Cowracing-650-ww

Lukisan "Balapan Sapi" karya Walentina Waluyanti.

Berbicara tentang kompetensi, sebetulnya apa artinya kompeten dan punya diploma di bidang studi tersebut, tetapi tidak ada usaha untuk memberdayakan ilmunya itu melalui karya tulis? Memang berkarya itu tidak selalu harus melalui tulisan. Namun dalam kaitan dunia Pendidikan Tinggi, hendaknya tidak dilupakan, bahwa menganalisis melalui proses membaca dan menulis, adalah skill yang sangat mendasar. Ini kemampuan mendasar yang dituntut dari seorang sarjana bidang apapun. Jika seorang sarjana memiliki kemampuan literasi yang baik, maka ia diharapkan mampu memanifestasikan ilmu secara bermanfaat. Bukankah ini sesungguhnya esensi dari tujuan pendidikan?

Pakar dan pendekar lingkungan hidup yang tinggal di Indonesia, mantan staf ahli Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Willie Smits, adalah salah satu contoh yang bisa menyeimbangkan antara praktek nyata di lapangan dan juga mampu menganilisis masalah melalui karya-karya tulis. Namun di luar bidangnya, ia juga tajam dalam pandangannya, mulai dari politik sampai kesenian. Ia juga mampu bernyanyi dengan suara indah dan piawai memainkan gitar. Di bawah ini foto ketika ia berkunjung ke rumah saya di Belanda. Kami memintanya untuk bernyanyi dan bermain gitar.

4 5 samen 02

 Foto: Di rumah penulis Walentina Waluyanti, tampak Prof. Dr. Willie Smits bernyanyi dan bermain gitar.

Tidak kompeten tidak berarti berkarya tanpa tanggungjawab

Menulis berdasarkan minat yang digeluti secara konsisten, tekun, dedikatif, continually, meski secara formalitas dinilai tidak kompeten, tidak perlu harus lebih buruk daripada dunia kompetensi. Bung Hatta menggeluti Ilmu Ekonomi, namun coba baca bagaimana kekritisan analisisnya tentang sejarah dan politik yang sangat mendalam dengan visi jauh ke depan. Dan ini mulai ditulisnya ketika ia belum tamat kuliah. Begitu juga Sukarno yang Insinyur. Siapa yang bisa menyangkal ketajaman ulasan Sukarno tentang sejarah dan politik melalui tulisan-tulisannya yang juga ditulisnya ketika titel kesarjanaan belum diraihnya? Bisa dikatakan, kesuksesan mereka justru karena berani mendobrak teori kompetensi, namun dilakukan dengan totalitas, konsisten, dedikatif, dan bertanggung jawab dalam menekuni hal-hal yang diminati. Sayangnya ratusan tulisan kedua Founding Fathers ini justru kurang diperkenalkan di Tanah Air sendiri.

Ataukah budaya literasi, di jaman ini tidak lagi dianggap penting, mengingat sekarang ini di Indonesia mulai dibuka beberapa fakultas dengan jalur non-skripsi? Ini terasa fenomenal. Bagaimanapun juga, kemampuan literasi, yaitu kemampuan membaca dan menulis untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan menganalisis, merupakan kemampuan yang sangat mendasar di dalam dunia ilmu pengetahuan, yang nota bene merupakan bagian yang tak mungkin dipisahkan dari dunia Perguruan Tinggi. Bukankah lembaga pendidikan seharusnya menstimulasi suburnya budaya menulis, membaca, menganalisis, bukan malah mendukung warga Pendididikan Tinggi untuk menyerah pada kesulitan, tanpa perlu membuat skripsi?

 Di jaman saya kuliah dahulu, tak pernah terbayangkan bahwa kami akan bisa meraih titel kesarjanaan, tanpa menghasilkan karya skripsi. Dan sekarang? Disayangkan, institusi Perguruan Tinggi yang bertanggungjawab mengembangkan ilmu pengetahuan (diharapkan dapat membantu menyuburkan budaya menulis), malah “cuci tangan” dengan solusi yang kontradiktif dengan fungsinya sebagai badan pendidikan, yaitu mengakomodasi keinginan bagi yang tak mau menyusun skripsi! Yang salah bukan mahasiswa yang memilih jalur non-skripsi, sebab kalau diberi pilihan mudah, mengapa mereka harus memilih yang sulit? Menurut saya, ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab lembaga Pendidikan Tinggi yang tidak sepatutnya lepas tangan begitu saja.

Jangan disalahkan, jika sekarang ini politisi-politisi yang maju sebagai kandidat pemimpin bangsa, jika ditanya apa visi dan misinya untuk bangsa ini, terkesan tak begitu ambil pusing. Visi dan misi itu belum sempat disusun, malah ada yang menjawab enteng, “Ah, itu kan gampang, ada tim profesional khusus yang akan menyusunnya, dan mereka dibayar untuk menyusun konsep itu.” Jika hal ini mulai dianggap normal, maka ini seharusnya menjadi "alarm" bagi  dunia pendidikan, khususnya Pendidikan Tinggi, untuk mengadakan pembenahan....BERSAMBUNG,KLIK>>>

 Baca juga:

Bag. 1: Mantap! Tak Tamat SD Kalahkan Sarjana!

Bag 3: Mantap! Tak Tamat SD Kalahkan Sarjana!

 fr wwWalentina Waluyanti, historical book writer

About Me

 

Add comment