Jiwa Tetap Jiwa

Copyright @ Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Di dalam badan yang sehat, terdapat jiwa yang sehat? Di dalam badan ½ sehat, terdapat jiwa ½ sehat? Hmm...apapun itu, di dalam badan yang setengah sehat, atau benar-benar tidak sehat pun,  jiwa itu tetaplah jiwa.

Sebelum cerita ini keluar rel, saya singkirkan dulu soal jiwa sakit atau jiwa sehat. Soalnya saya sedang irit kata. Saya sedang tidak ingin menghamburkan aneka istilah tentang jiwa yang banyak macamnya itu. Ijinkanlah saya berkata, “jiwa tetap jiwa”.

Jiwa tidak lagi bernama jiwa, ketika jiwa itu harus meninggalkan jasad. Karenanya jiwa lalu disebut arwah. Dan ketika jiwa itu sudah berubah menjadi arwah, jasad tak punya kuasa apa-apa lagi atas jiwa. Karena jiwa itu sudah lenyap.

Beruntunglah si pemilik jiwa yang mampu memanfaatkan jiwanya sebaik-baiknya, sebelum jiwa itu betul-betul sirna. Terlebih jika jiwa itu bisa membawa kemaslahatan bagi sesama.

Dewa Amos menghembuskan nafas ke hidung anak manusia yang baru saja tercipta. Kemudian Minerva, putri dewa Yupiter, melekatkan jiwa kepada anak manusia tadi. Ini menurut mitologi Yunani. Menurut keyakinan masing-masing agama, tentu Anda paham bagaimana kisah penciptaan manusia.

photo-1-web

Apapun agama yang dianut, tak dapat disangkal, hidup itu tidak cukup dengan bernafas saja. Ketika manusia diberi nafas, manusia juga dikaruniai “jiwa”. Disebut karunia, karena melalui “jiwa” itulah,  maka akal budi, adab, pekerti manusia terbentuk. Ini yang membedakan manusia dengan makhluk “infra human” lainnya.

Secara naluriah, sebetulnya ada nilai luhur yang melekat pada jiwa manusia. Nilai luhur ini membuat manusia pada dasarnya lahir dengan fitrah “suci”. Belum terkontaminasi unsur negatif apapun. Tak ada manusia yang dilahirkan dengan fitrah “bengis dan biadab”.

Tiap manusia dikaruniai jiwa. Sebagai karunia, jiwa itu bukan sesuatu yang “kosong”. Ada sesuatu yang inheren atau melekat pada jiwa.

Di dalam jiwa manusia itu melekat “3 ka”. Yaitu logika, etika, estetika.

  • Logika; membuat seseorang berpikir bahwa nilai-nilai kebenaran sejati itu seharusnya ditegakkan. Dan sesuatu yang salah, sepatutnya dikoreksi. Logikanya begitu.

  • Etika; membuat seseorang bisa membedakan antara yang baik dan yang tidak baik. Yang mana pantas, yang mana tidak pantas. Yang mana layak dan tak layak.

  • Estetika;  membuat orang sadar bahwa penyampaian logika dan etika itu akan lebih baik, jika disampaikan dengan cara yang mememenuhi rasa keindahan. Misalnya mampu merangsang panca indra menangkap kesan, “Wow, mempesona!”. Bukankah pada dasarnya setiap orang punya insting rasa keindahan?

Bagaimana kenyataannya? Semudah itukah? Sayangnya tidak!

photo-2-web

Karena dalam kenyataannya, logika tentang kebenaran dan kebatilan menjadi putar balik.

Etika tentang yang baik dan yang tidak baik, menjadi membingungkan.

Estetika tentang yang elok dan tak elok, tidak jelas juntrungannya.

Ini fenomena yang tampak di sekitar kita.

Rakyat diobrak-abrik tanpa rasa bersalah. Katanya, itulah cara menegakkan kebenaran. Orang yang mematuhi norma dan nilai-nilai kebaikan, serta menjauhi hal tak normatif? Orang itu malah terkucil. Keindahan yang diekspresikan dengan bebas, sebebas-bebasnya, nyaris tak kenal batas? Ini  malah  dimanipulasi sebagai trend komoditas, yang akhirnya membentuk selera estetis massa.

Nilai-nilai yang melekat di jiwa (logika, etika, estetika) mengalami degradasi. Tak jarang kebablasan.

Materialisme dan konsumerisme gencar menggempur. Orang terus mengejar materi. Nyaris tanpa jedah. Hingga menumpulkan sisi perenungan manusia. Orang kehilangan sisi kontemplatif-nya.

Nilai-nilai pretensi (pamrih) menggusur nilai-nilai esensi (kebaikan sejati).

Orang tidak punya waktu lagi untuk menengok sisi terdalam dari jiwa. Padahal esensi jiwa adalah pendulum agar nurani tidak tumpul, tersesat dan terperosok.

photo-3-web

Salvador Dali

Nilai-nilai tentang etika, logika, estetika mungkin saja menumpul. Namun jiwa tetap jiwa. Nilai kebenaran hakiki yang ada di dalam jiwa tidak akan bisa lenyap.

Anda bisa saja mengatakan, “Lho, kebenaran menurut kamu, belum tentu benar menurut orang lain!”. Namun kebenaran hakiki adalah kebenaran yang sudah benar-benar disaring. Disaring dan diperas teruuuuus, sampai tanpa ampas! Kebenaran personal terbuang sudah. Kebenaran kelompok terlumat sudah.

Kristalisasi perasan tadi, hasil akhirnya adalah kebenaran universal. Kebenaran ini tak dapat disangkal oleh siapa pun. Karenanya dinamakan kebenaran hakiki. Esensinya tidak bisa tidak, akan senantiasa sinkron dengan logika, etika, estetika yang ada di jiwa dan lubuk nurani manusia mana pun.

Hati nurani siapa yang bisa menyangkal kebenaran hakiki tentang harmoni dalam kehidupan? Tanpa saling merusak satu sama lain? Harmoni kehidupan, yaitu ketika orang sadar, “Lho, kita semua berbeda satu sama lain, tapi kok tetap bisa hidup berdampingan tentram damai, ya?”.

“Ah, itu terlalu utopis! Tak masuk akal!”, begitu kata kaum pragmatis.

Bagaimanapun, lebih tidak masuk akal lagi, jika manusia tidak “eling” dan waspada karena  mengabaikan esensi jiwa.

Jiwa tetaplah jiwa. Semuanya bisa saja jungkir balik. Namun pada saat manusia jedah, merenung, berhenti sejenak...di saat itu jiwa mendentingkan suara-suara indahnya tentang logika, etika, estetika. Dentingan suara indah itu terdengar bergema hingga ke dasar nurani.

Berbahagialah mereka yang bisa menangkap suara nurani itu dan menggunakannya sebagai kompas kehidupan.

photo-4-web

Giovani Lanfranco

“Ah, itu terlalu utopis! Idealistis itu tidak realistis, tahu!?”, ini kata kaum pragmatis.

Tunggu dulu! Bukannya yang tidak realistis itu, jika manusia membiarkan nurani tersesat, sementara penunjuk itu ada di dalam jiwanya sendiri? Bukankah ini sebuah ironi?

Walentina Waluyanti

Nederland, 16 September 2010