Jangan Pernah Melontarkan Humor kepada…

Oleh: Walentina Waluyanti

“Jangan pernah mengatakan sesuatu yang humoristis kepada orang yang tidak memiliki rasa humor. Karena ia akan menggunakan perkataan itu sebagai bukti untuk berbalik melawan Anda.” Demikian kata Herbert Beerbohm Tree (1852-1917), seorang aktor Inggris.

Kutipan kalimat di atas menunjukkan bahwa sifat humoristis itu walau menyenangkan, namun belum tentu bisa diterima setiap orang.
Dalam konteks kebhinekaan Indonesia, selera humor pun berbeda rasa tergantung latar-belakang suku, agama, dan budaya. Sehingga penerimaan orang terhadap humor, tak bisa dilepaskan dari bermacam unsur yang membentuk kepribadian seseorang.
Misalnya sesuatu yang dianggap humor bagi suku A, belum tentu ini dianggap lucu bagi suku B. Mungkin malah bisa dianggap pelecehan. Sense of humor punya “rasa” yang berbeda-beda pada setiap budaya.

Humor-web1

Di bangku studi, kita kenal istilah comparative studies. Studi perbandingan. Dengan membandingkan adat-istiadat antar etnis, bisa disimpulkan, humor ini cocok untuk misalnya orang Jawa, dan humor ini tak cocok untuk orang non-Jawa. Ini hanya contoh saja. Dari pengenalan adat-istiadat dan latar belakang ini, setidaknya kita bisa memperhitungkan kadar rasa humor, dan ukuran kepekaan masing-masing suku, yang tentu saja berbeda-beda.
Jika saya liburan ke Makassar misalnya, saya harus menyetel otak saya terlebih dahulu, bahwa saya sedang tidak berada di Belanda. Dan sedang tidak berhadapan dengan orang Belanda. Jangan sampai humor ala Belanda yang bergaya “tembak langsung”, saya bawa-bawa ketika bercanda dengan lingkungan saya di Makassar. Maklum, namanya juga manusia. Bisa saja saya khilaf, tanpa sengaja membuat pihak lain tersinggung, akibat mencampur-adukkan selera humor dari budaya asing dengan budaya Makassar.
Hal di atas saya katakan, karena sudah melihat sendiri, ketika dulu masih tinggal di Makassar. Dua orang yang berbeda suku terlibat konflik, bahkan adu fisik, hanya karena salah paham soal humor.
Sebagai orang yang dibesarkan di Makassar, kadang saya tertarik mengamati selera humor tokok-tokoh asal Bugis dan Makassar. Sosok ini, contohnya Jusuf Kalla, dengan  humornya yang penuh kendali.
BecakMakassar2a
Foto: Jusuf Kalla dan istri, Mufida. (Sumber: newsbeet.com)
Contoh yang lebih fenomenal, yaitu tokoh pendakwah asal Sulawesi yang namanya meluas di kalangan nasional. Ia populer karena gaya dakwahnya yang bernuansa humor etnis, dengan spontanitas-nya yang khas, yang tampaknya memang sudah menjadi bagian dari sifat kepribadiannya. Dengan segala ke-khas-annya, bukan salahnya jika ia kemudian menjadi fenomenal dan meraih popularitas. Teman Indonesia di Belanda, punya pendapat lain tentang gaya humor itu. Karena memang mereka tidak berasal dari Makassar, sehingga memandang gaya humor itu dengan kacamata latar belakang budaya mereka. Namun buat saya, karena memang dibesarkan di Makassar, tentu gaya humor pendakwah tadi bisa saya terima tanpa masalah.  Ya, soal pro-kontra, ini kenyataan yang tak terhindarkan dalam masyarakat multi-kultur.
Dari hal di atas, saya menyadari bahwa masalah remeh-temeh seperti soal humor bisa menjadi soal yang tak lagi remeh. Salah paham soal humor ini bisa menjadi masalah serius.
Namun perbedaan selera humor tidak hanya terjadi di negara multi-kultur seperti Indonesia. Ini pun terjadi di Belanda, yang jurang perbedaan antar masyarakatnya tidak sebesar di Indonesia. Saya pernah menyaksikan show tunggal dari seorang wanita komedian di program TV Belanda. Namanya Simone Kleinsma, berusia 50-an. Ia terkenal punya gaya humor eksentrik namun filosofis di setiap penampilannya.
Begitu memasuki panggung, penampilannya mengejutkan publik. Di pinggangnya melilit handuk putih, menutupi sebagian tubuhnya, dari pinggang ke lutut. Bagian atas tubuhnya tidak mengenakan apa-apa, pokoknya polos tanpa bra. Sebagai gantinya, kedua telapak tangannya digunakan sebagai penutup payudaranya. Aksi telapak tangan menutupi payudara ini, sudah dimulainya begitu memasuki panggung, tanpa pernah lengah melepas telapak tangannya!
Ia membuka kalimatnya, “Untung telapak tangan saya tidak begitu kecil.Gerrrr… penonton tertawa. Di panggung luas dan besar, ia satu-satunya bintang di panggung itu, sorotan lampu terus mengikuti geraknya.
Sampai show berakhir, wanita komedian ini tak sedetik pun khilaf menurunkan tangannya dari dadanya. Bahkan untuk memungut benda yang jatuh atau mengambil sesuatu, ia menggunakan cara lain, tanpa menggunakan tangannya… sambil teruuuus saja nyerocos tanpa henti. Padahal pertunjukan itu tidak singkat, toh ia bisa membagi konsentrasi, antara bertutur, bernyanyi, dan mengatur konsistensi letak tangannya. Yang bikin geleng-geleng kepala, sebelum meninggalkan panggung, ia malah menutupi seluruh tubuhnya dengan tirai kecil… setelah tirai disingkap, ia sudah berpakaian lengkap dengan jas dan pantalon! Lalu ia meninggalkan panggung, setelah sebelumnya menunduk hormat kepada penonton yang riuh bertepuk tangan.
Saya sudah hampir melupakan show Simone Kleinsma itu. Tapi ketika saya menghadiri sebuah pesta kecil, seorang tamu menyinggung tentang show itu. Seorang wanita Belanda, sudah sepuh, berkomentar, “Saya hampir tidak percaya melihat gaya Kleinsma. Gaya seperti itu ‘kan sebetulnya dilarang.” Saya membatin, wah… ternyata ada juga orang Belanda yang bisa bersungut-sungut gara-gara nonton komedi setengah telanjang.
Tamu lain menanggapi sungut-sungutnya, “Yang dilarang itu kalau dia telanjang dada apalagi telanjang bulat di panggung. Coba berani begitu, sudah jelas, dia pasti diamankan. Dia masih pakai handuk dan kedua telapak tangannya sebagai bra.” Lalu wanita tua Belanda totok itu menggeleng-gelengkan kepalanya, “Gaya hampir telanjang begitu, di mana letak lucunya?” Ia masih terus sengit, tidak setuju dengan pertunjukan komedi seperti itu. 
Contoh di atas menunjukkan bahwa perbedaan selera humor, tidak di Indonesia, tidak di Belanda, terjadi di mana saja. Perbedaan selera humor tidak selamanya disebabkan karena perbedaan adat, usia, dan agama. Bisa juga karena perbedaan cara pikir. Misalnya seniman eksentrik yang berpikiran bebas apalagi ditambah absurd, akan sulit “gayeng” dengan seorang yang sangat normatif kaku.
Tanpa memahami budaya, asal-usul, dan latar belakang pergaulan seseorang, maka humor bisa menjadi masalah meruncing/diperuncing, yang mungkin tak perlu sampai sejauh itu.
Tapi bisa juga terjadi hal di luar dugaan. Anda bermaksud menyatakan sesuatu yang biasa saja. Anda sama sekali tidak bermaksud melucu. Tapi pihak lain mengartikan, Anda sedang membuat humor tak lucu. Nah, ini yang repot. Tapi juga ada sisi positifnya. Yaitu Anda diberi sinyal untuk menyeleksi. Ini artinya lampu merah. STOP!
Darisinyal “lampu merah” tadi, kita menjadi tahu. Dengan orang yang mana kita bisa bercanda lepas. Dan dengan orang yang mana kita mesti bicara serius dan seperlunya... atau bahkan mendingan diam.

Penulis: Walentina Waluyanti