Filsafat Ngana Ngono

Copyright @ Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Tulisan ini spontan mengalir begitu saja, setelah membaca "Surat Terbuka Kepada Walentina Waluyanti" dari Sirpa, California. Bukan saja karena surat itu terasa manis romantis dengan nuansa dialek Minahasa, yang nampaknya masih asing bagi banyak orang non-Kawanua. Ada kata khusus di surat itu yang menggerakkan pikiran saya, dan terangkailah tulisan ini. 

Sirpa menyapa saya dengan kata “ngana”. Dalam dialek Minahasa, “ngana” berarti kamu.

photo1-web

Mendengar kata “ngana” (kamu), saya jadi ingat sebuah pepatah. Secara bercanda, saya memlesetkan kata “ngana” menjadi, “ngana ya ngana, ning aja ngana”.

Plesetan tadi saya kutip dari pepatah Jawa, ngono ya ngono ning aja ngono.

Jaman sekarang, kalimat itu sering dijadikan lucu-lucuan. Tapi sebetulnya mengandung makna yang dalam. Sayangnya kalimat ngono ya ngono, ning aja ngono kadang terlupakan maknanya. Bahkan mungkin ada yang menganggapnya kalimat sampah. Tapi jika diteropong lagi, kalimat itu mengandung nilai filosofis tinggi.

Secara harafiah, “ngono” artinya begitu. Jadi ngono ya ngono ning aja ngono, artinya kurang lebih, “Begitu ya begitu, tapi ya jangan begitu!”. Ini baru arti harafiahnya saja.

Kalimat itu biasanya diucapkan untuk mengingatkan seseorang. Jika ada orang yang perilakunya sulit ditolerir, maka biasanya diingatkan, “Begitu ya begitu (mungkin kamu betul), tapi ya jangan begitu (apa tidak ada cara yang lebih baik?)”. Ini baru arti tersiratnya saja. Belum makna filosofisnya.

Perilaku saling mengingatkan, tentu tidak dalam kultur Jawa saja. Dalam kultur “ngana” (baca: Menado) pun, saling mengingatkan antar sesama ini juga dirangkum dalam peribahasa indah. Si Tou Timoi Tumou Tau. Peribahasa ini dipopulerkan oleh pahlawan Sam Ratulangi, yang juga paman Rima Melati, aktris yang dekat dengan Bung Karno. (Karena kedekatan itu, Rima Melati pernah menikah dengan putra kandung Ibu Hartini, Ir. Herwindo. Rima bercerita, waktu kanak-kanak ia ikut pamannya, Oom Sam Ratulangi ke pertemuan ramah tamah di Gedung Agung Yogyakarta tahun 1948. Ketika itulah untuk pertama kalinya Rima/bernama asli Leintje Tambajong, bertemu Bung Karno).

photo2-web

Foto: Bung Karno dan Sam Ratulangi

Motto Minahasa yang dipopulerkan Sam Ratulangi tadi, Si Tou Timoi Tumou Tau, artinya “manusia hidup untuk memanusiakan orang lain”. Pada dasarnya motto ini sinkron dengan prinsip “mengingatkan sesama” sebagai inti dari pepatah Jawa, ngono ya ngono ning aja ngono.

Prinsip saling mengingatkan, juga terkandung dalam idiom dialek Minahasa, baku beking pande (saling bikin pinter satu sama lain). Ini bukan diartikan secara dangkal, bahwa seseorang menepuk dada merasa lebih pandai, dan ingin “sok mengajari”. Baku beking pande mengandung makna “saling”. Kalau ada yang kurang dan khilaf, ya wajar saja jika manusia saling mengingatkan. Tanpa perlu merasa tersinggung, gara-gara ada yang merasa digurui dan menggurui. Kata orang Jawa, tanpa perlu ada yang dituduh keminter atau mau minteri.

Filsafat kalimat Jawa dan Menado tadi, menunjukkan sejak dahulu nenek moyang kita punya kesadaran tentang pentingnya keselarasan hubungan antar manusia.

photo3-web

Kembali pada makna filosofis pepatah Jawa tadi, “Begitu ya begitu, tapi jangan begitu!”, saya menuangkannya dalam puisi karya saya di bawah ini:

Ngono ya Ngono ning Aja Ngono
Puisi karya: Walentina Waluyanti
Ngono ya ngono, ning aja ngono
kalimat sederhana yang sarat makna,
tentang bagaimana menyikapi masalah
secara proporsional dan rasional.

Ngono ya ngono, ning aja ngono
cermin penakar kearifan,
ketika kepentingan saling berbenturan,
maka keputusan bijak adalah mutlak.

Ngono ya ngono, ning aja ngono
penuntun pemilah skala prioritas,
ketika konflik realitas versus idealitas,
terasa begitu rumit.

Ngono ya ngono, ning aja ngono
konsep andal sebagai penangkal
ketika akal nyaris terjungkal,
tetap rasional penuh kendali
dalam berpikir, bersikap, dan bertindak.

Berikut ini fragmen singkat, tentang bagaimana konsep ini menuntun masyarakat, dan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Suami mengabari istrinya, “Jeng, tadi bos ajak 'kongsi'. Kata bos, ini rahasia. Tidak boleh dibocorkan pada orang lain. Asal mau tutup mulut, saya dapat bagian 50%. Lumayan kan? Ini artinya kita bisa melunasi utang-utang”.

photo4-web

Istri yang mencium bau konspirasi korup, menjawab, “Tapi itu melanggar hukum, mas. Kalau reputasi sudah hilang, lha bagaimana? Memang kita punya utang. Tapi kalau harus dibayar dengan cara melawan hukum, yaaa...ngono ya ngono, ning aja ngono, tho mas!”.

Jawab suami yang imannya goyah, “Di jaman ini, cari duit itu susah. Kalau tidak pinter memanfaatkan peluang, ya mana bisa hidup layak? Jujur ya penting. Tapi bagaimana? Lurus ya mesti, tapi kalau terlalu lugu dan naif...ngono ya ngono, ning aja ngono”.

Istrinya yang senantiasa lurus, kontan mengingatkan, “Oalaaah mas...eliiing, mas. Hidup itu kan cari ketentraman. Lurus itu tidak berarti lugu dan naif. Cari rejeki itu ya baik, tapi jangan kebablasan. Ngono ya ngono, ning aja ngono. Masih ingat 'kan apa kata Ranggawarsita. Sak beja-bejaning wong sing lali, ijih beja wong sing eling lan waspada”. (Sebahagia-bahagianya orang yang lupa, masih lebih berbahagia orang yang ingat dan waspada).

Dilema ngono ya ngono ning aja ngono di atas, memang bukan terjadi di jaman ini saja.

Di pertengahan abad ke-19, Ranggawarsita, pujangga kraton Surakarta Hadiningrat, telah menangkap fenomena ini. Ia lalu menyebutnya sebagai “jaman edan”. Fenomena jaman edan itu dituangkannya ke dalam karya sastra yang dinyanyikan, terdapat dalam kumpulan syair tembang Sinom, berjudul Serat Kalatidha.

photo5-web

Raden Ngabehi Rangga Warsita (1802-1874)

Syair itu ditulis Ronggowarsita di masa pemerintahan Pakubuwono IX di Surakarta. Ketika itu penguasa dikelilingi penjilat, untuk mecari keuntungan pribadi (menurut analisis Ki Sumidi Adisasmito). Orang berbudi baik tersingkir. Akhlak merosot makin menjadi, menimbulkan keresahan rakyat.

Ketidakberdayaan masyarakat menghadapi jaman itu, digambarkan oleh Ranggawarsita di Serat Kalatidha. “Kalatidha” berarti jaman yang kabur, atau tak menentu. Dari serat Kalatidha karya Ranggawarsita ini, istilah “jaman edan” mulai terkenal.

Di sini saya kutip syair itu dalam bahasa Jawa dan terjemahannya:

amenangi jaman édan, éwuhaya ing pambudi,
mélu ngédan nora tahan,
yén tan mélu anglakoni,
boya keduman mélik,
kaliren wekasanipun,
ndilalah kersa Allah,
begja-begjaning kang lali,
luwih begja kang éling klawan waspada.

terjemahannya yaitu:

 Hidup di jaman gila,
 serba salah dalam bertindak,
mau ikut gila, kok ya tidak sanggup
tapi kalau tidak ikut-ikutan gila
tidak akan mendapat bagian,
kelaparan pada akhirnya,
namun telah menjadi kehendak Allah,
sebahagia-bahagianya orang yang lalai,
lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.

Yang menarik, syair Ranggawarsita di atas, diukir dalam huruf Jawa di tembok bangunan di Leiden Belanda, oleh yayasan yang dikelola sekumpulan orang Belanda. Yayasan ini bernama “Stichting Tegen-Beeld”. Tujuan dan kegiatan yayasan ini adalah melestarikan berbagai karya sastra yang dinilai inspiratif. Caranya adalah mengukir kalimat-kalimat inspiratif di berbagai tembok kota di Leiden. Salah satu proyek yayasan “Tegen-Beeld” adalah proyek “puisi di tembok”.

Syair Ranggawarsita termasuk salah satu dari sekian sajak terpilih untuk dilestarikan sebagai prasasti di tembok kota Leiden.

Tampak foto di bawah ini, syair Ranggawarsita terukir dalam huruf Jawa, di tembok di jalan Kraaierstraat 34 di Leiden, Belanda.

photo6-web

Nah, orang Belanda saja menunjukkan penghargaannya terhadap karya pujangga bangsa Indonesia. Saya jadi termangu-mangu dan patut merasa tertampar jika sampai lupa diri, tak mau kenal lagi asal-usul, akar dan tradisi budaya sendiri.

Sekarang lebih baik saya segera kabur secepatnya, sebelum tulisan “ngana ngono nan ngalor ngidul”melenceng ke topik “ngana pe bodi poco-poco...!”. *** (Penulis: Walentina Waluyanti de Jonge, historical book writer)

Artikel terkait, silakan klik: Sri Sultan dan Beringin Keramat

fr-wwWalentina Waluyanti

Penulis buku "Tembak Bung Karno Rugi 30 Sen"Karno Rugi 30 Sen"

About Me