Corona di Belanda: UPDATE 29 Maret 2020

Total terinfeksi: 10.886 orang (+1.104)

Total meninggal: 771 orang  (+132)

Corona: 40.000 - 80.000 Warga Belanda akan Mati?

Walentina Waluyanti – Belanda

[19-3-2020] - “Dalam waktu dekat sebagian besar penduduk Belanda akan terinfeksi virus.” demikian kata PM Belanda Mark Rutte (16/3). Yang lebih mengejutkan, pemerintah Belanda terang-terangan menyatakan akan membangun “imunitas kelompok atau herd immunity”, yang berarti membiarkan lebih dari 50% warga terinfeksi corona. Kebijakan pemerintah ini hingga kini menuai banyak kritik dari dalam dan luar negeri.

Pernyataan Rutte tersebut didasarkan pada perkiraan ahli. Saat ini pemerintah Belanda  sudah melakukan langkah-langkah seperti penutupan kafe, restoran, tempat fitness, tempat penitipan anak dan semua sekolah.

corona40 01

Amsterdam terlihat sepi akibat wabah corona (Foto: NRC)

Tidak ada jalan keluar yang mudah atau cepat dari situasi yang sangat sulit ini, kata Rutte. Kekhawatiran terbesar adalah apabila jumlah yang terinfeksi tidak terkendalikan dan sampai pada puncak, dikhawatirkan ini akan membebani sistem perawatan kesehatan, yang berakibat tidak cukupnya kapasitas untuk membantu orang tua yang lemah dan pasien lain yang rentan.

Baca: Sebagian Besar Penduduk Belanda Akan Terinfeksi Corona (Pidato Mark Rutte)

Maka strategi jangka panjang dalam memerangi corona adalah rencana pemerintah membangun "herd immunity (imunitas sosial/imunitas kelompok)". Herd immunity adalah suatu bentuk perlindungan tidak langsung dari penyakit menular yang terjadi ketika sebagian besar populasi menjadi kebal terhadap suatu wabah, sehingga memberi perlindungan tidak langsung kepada individu yang tidak imun. Sambil menunggu vaksin atau obat penangkal virus corona, Rutte merencanakan strategi memperlambat penyebaran virus dengan cara membangun "herd immunity". 

Membiarkan sebanyak mungkin orang terinfeksi?

Strategi pemerintah tersebut di atas menuai kontroversi. Banyak kritik dari dalam maupun luar negeri, atas penggunaan strategi "herd immunity" untuk memerangi corona. Dengan membangun "herd immunity", ini terdengar seperti pemerintah Belanda dengan sadar membiarkan sebanyak mungkin orang terinfeski virus covid-19. Strategi ini seakan bereksperimen mempertaruhkan nyawa manusia. 

Apa sebenarnya maksud di balik strategi membangun "herd immunity" atau imunitas kelompok yang akan digunakan oleh pemerintah Belanda untuk memerangi wabah corona?

Strategi membangun "herd immunity", atas dasar asumsi semakin banyak orang yang kebal terhadap virus ini, maka semakin kecil kemungkinan terjadinya penyebaran lebih lanjut.

Target dari strategi Mark Rutte tersebut adalah meratakan puncak (pada grafik) dari jumlah yang terinfeksi agar menjadi lebih rendah. Dengan demikian diharapkan berkurangnya  jumlah pasien yang terinfeksi (parah) secara serentak. Hal ini untuk mengantisipasi kemungkinan bahwa jumlah pasien corona melebihi kapasitas perawatan. Saat ini kapasitas perawatan kesehatan Belanrda diperkirakan untuk 12.000 pasien yang terinfeksi corona. (Jumlah penduduk Belanda sekitar 17 juta jiwa).

Kata Rutte, kekebalan dapat dibangun dengan vaksin, tetapi selama vaksin belum ditemukan, Belanda akan mencoba untuk 'mengendalikan virus' semaksimal mungkin. Untuk ini pemerintah melakukan langkah-langkah seperti penutupan kafe, restoran, tempat fitness, tempat penitipan anak dan semua sekolah.

Selanjutnya langkah yang diambil pemerintah adalah memastikan bahwa penyebaran virus menyebar dalam periode yang lebih panjang, sehingga puncak dari jumlah infeksi berkurang dan tekanan pada perawatan di rumah sakit tetap dapat dikendalikan. Dengan cara ini, pemerintah berharap bahwa jumlah kematian dapat ditekan, dibandingkan dengan situasi di mana virus terus tersebar tanpa terkendali.

Gambaran strategi membangun “kekebalan kelompok/herd immunity”
Sementara pemerintah mengambil langkah-langkah pembatasan kontak sosial, diharapkan bahwa orang-orang yang telah pulih dari Covid-19 akan menjadi imun, dengan demikian akan terbangun "herd immunity" (imunitas kelompok), di mana kelompok yang telah imun ini akan berfungsi sebagai 'dinding perlindungan' atau tameng bagi kelompok yang rentan terhadap virus corona.

Biarkan virus "beredar secara terkendali di antara orang-orang telah kebal," kata penasihat RIVM Jaap van Dissel " pencetus ide di balik kebijakan ini", adalah direktur RIVM (Institut Nasional untuk Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan). Asumsi ini didasarkan pada gagasan bahwa orang yang pernah terinfeksi dan telah pulih, tidak bisa lagi menularkan virus. Tetapi asumsi ini dibantah oleh ahli virus dan penasihat WHO Marion Koopmans yang mengatakan pada Nieuwsuur bahwa timbulnya kekebalan setelah terinfeksi dengan virus corona masih bersifat asumsi, tetapi asumsi ini masih perlu penelitian lebih lanjut


Kritik terhadap strategi pemerintah
Strategi pemerintah tentang membangun "herd immunity/imunitas kelompok" mengejutkan dan menimbulkan tanda tanya. Membiarkan sebanyak mungkin orang terinfeksi dengan tujuan membangun "herd immunity/imunitas kelompok” sebagai tameng terhadap kelompok rentan? Jika skenario ini akan dilanjutkan, maka berdasarkan perhitungan, apabila yang terinfeksi sebanyak 50 hingga 60 persen dari populasi berarti bahwa 40 ribu hingga 80 ribu orang Belanda akan mati. 

Kritik tajam terdengar dari politisi Geert Wilders, yang mengatakan bahwa strategi kabinet ini sama dengan bereksperimen dengan nyawa manusia. “Ini tak dapat diterima dan saya menolak mentah-mentah!”, tegas Wilders.

Strategi Rutte dengan membangun imunitas kelompok, bukannya tanpa risiko. Hal ini tergantung pada seberapa menular virus itu.

Belanda mengasumsikan bahwa penularan sekitar 2,5 pasien baru pada setiap pasien yang terinfeksi. Dan ini berarti imunitas kelompok hanya muncul ketika 60% - 80% populasi Belanda telah pernah terinfeksi virus dan telah sembuh. Ini persentase yang tinggi. Sehingga "melindungi" orang tua dan rentan, seperti kata Rutte, adalah tidak mungkin. Karena sekitar 50 persen dari populasi, adalah warga berusia 50 tahun ke atas. Ini artinya target persentase “imunitas kelompok” yang harus diperoleh untuk melindungi kelompok rentan, tidak akan tercapai. “Jika Anda ingin membangun immunitas kelompok, cara ini tidak akan mungkin bisa menyelamatkan kelompok rentan”, kata profesor virologi klinis Louis Kroes (LUMC).

corona40 02PM Belanda Mark Rutte

Strategi Perdana Menteri dikritik, bahwa membangun imunitas kelompok tidak seharusnya menjadi semata-mata tujuan. "Kita seharusnya tidak membuat orang berpikir bahwa terinfeksi itu adalah hal yang biasa,” kata Kroes. "Tujuan kita  adalah untuk menjaga agar sesedikit mungkin orang terinfeksi."

WHO mengkritik strategi Ruttes tentang imunitas kelompok. Kata WHO, justru pemerintah seharusnya melaksanakan test corona, mengisolasi, menekan virus dan mencegah penularan lebih lanjut.  “Test, test, test”, himbau WHO.

Memang benar anak-anak dan orang dewasa berusia muda tidak tergolong kelompok rentan terhadap covid-19, tetapi ada juga sebagian kecil di antaranya yang bisa mengalami sakit parah dan dalam kasus yang jarang terjadi, bahkan meninggal.

Minggu lalu diberitakan, seorang remaja pria 16 tahun terinfeksi virus corona. Pasien asal Breda Noord-Brabant ini sudah beberapa hari tak sadar (sengaja ditidurkan) di ruang ICU, karena masih memakai alat bantu pernafasan. Menurut keluarganya, sebelumnya anak ini kuat, sehat dan hampir tak pernah jatuh sakit. Kakaknya sampai menyerukan di Facebook kepada warga Belanda: “Sadarlah! Virus corona mematikan, juga bagi anak-anak muda! Buktinya ada di sini. Sebagai keluarga kami ingin memperingatkan Anda semua!”

Atas kritik  terhadap dirinya, Mark Rutte menegaskan bahwa strategi  membangun "imunitas kelompok" hendaknya tidak dilihat semata-mata sebagai tujuan. Tujuannya bukan untuk menginfeksi orang. Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk memastikan bahwa perawatan intensif dapat tetap melayani jumlah orang sakit, bahwa orang tua dan rentan dilindungi," kata Rutte dalam debat parlemen tentang strategi kabinet untuk memerangi virus corona.

Meskipun demikian bantahan Rutte ini tidak memuaskan publik, dan tetap menuai banyak protes.

“Di saat-saat yang penuh ketidakpastian ini, di mana kita belum banyak tahu tentang Covid-19, ini bukanlah waktu yang tepat  untuk bereksperimen dengan manusia, ini akan menelan biaya dan menelan korban jiwa”, kata anggota parlemen Geert Wilders politisi dari partai PVV. 

Di saat hampir semua negara berusaha menekan jumlah orang yang terinfeksi, pemerintah Belanda justru berencana membuat lebih dari separuh penduduknya terinfeksi. 

Walentina Waluyanti

Belanda, 19 Maret 2020