< A room without books is like a body without a soul >

Pemuda Maluku Ini Mendapat Gelar Pahlawan dari Kerajaan Belanda, Digilai Gadis Eropa

Penulis@copyright: Walentina Waluyanti – Belanda

Pilih mana? Berstatus WNI, tetapi bikin malu negara sendiri? Atau berstatus WNA berdarah Indonesia, tetapi ikut mengharumkan tanah kelahiran melalui prestasi? Melalui dua pemuda Ambon kelahiran Depok ini, nama Indonesia ikut dikenal. Mereka pernah memecahkan rekor penjualan piringan hitam terbanyak di dunia pada masanya.

 Foto: Blue Diamonds, Riem (kiri) dan Ruud (kanan)

Berdarah Maluku, foto01kakak beradik ini dikenal dengan nama Ruud de Wolff (kakak) dan Riem de Wolff (adik). Publik lebih mengenalnya sebagai duet Blue Diamonds. Berkulit hitam manis, penampilan keduanya pernah memikat berjuta-juta orang. Terutama di Jerman dan Belanda, mereka pernah menjadi idola remaja, terutama gadis-gadis. Sebetulnya tidak hanya remaja. Generasi yang lebih tua pun menyukai penampilan dan suara mereka.

Mulai dikenal publik Eropa tahun 1959, ketika Ruud berusia 18 tahun dan Riem 16 tahun. Wajah remaja mereka yang masih polos, kalem menghanyutkan, mahir memainkan gitar, bernyanyi dengan suara merdu merayu, keduanya langsung membuat publik jatuh hati. Bukan hanya di Belanda, terutama Jerman, dan seluruh Eropa, terpikat pada Blue Diamonds. Padahal ketika keduanya memulai debutnya sebagai penyanyi di Belanda, ketika itu di Eropa hampir belum ada penyanyi berkulit “berwarna” yang menjadi idol.

Keduanya pindah ke Belanda dari Jakarta tahun 1949, mengikuti kedua orangtuanya. Ruud masih berusia 8 tahun dan Riem 6 tahun kala itu, ditambah 2 orang adik. Ketika itu Presiden Soekarno memerintahkan semua orang yang memilih kewarganegaraan Belanda, segera meninggalkan Indonesia. Saat ayah dan ibu Ruud dan Riem yang keturunan Maluku itu tiba di Belanda, mereka masih berpikir bahwa suatu saat mereka akan kembali ke Indonesia, apabila keadaan politik sudah pulih. Apalagi orang-orang Maluku mengira bahwa mereka akan punya negara sendiri yang bernama Repubik Maluku Selatan. Namun hal ini tidak pernah terwujud, seiring dengan keberhasilan Soekarno memperjuangkan kedaulatan Indonesia. Namun tetap tinggalnya orangtua Ruud dan Riem di Belanda justru membawa karir emas bagi Ruud dan Riem.

foto02 001

Ruud dan Riem de Wolff awal 1960-an, jadi pujaan para gadis.

Pada mulanya Ruud dan Riem tampil dalam band dengan menirukan gaya duet Evelrly Brothers dalam pesta-pesta biasa. Ternyata bakat mereka menarik perhatian, dan akhirnya diundang untuk masuk dapur rekaman, dengan tetap membawakan lagu Everly Brothers. Album pertamanya berjudul Till I Kissed You, lagu dari Everly Brothers. Lagu Oh Carol yang dibawakan keduanya terdengar begitu manis, membuat para gadis tergila-gila pada dua pemuda Ambon ini. Setelah itu mereka disibuki konser dan tour ke berbagai negara. Gadis-gadis menjadi histeris dalam setiap konser mereka. Dikuntit para gadis hingga sampai ke rumah, sudah menjadi keseharian Ruud dan Riem.

Setelah meraih popularitas di Eropa, Ruud dan Riem tidak lagi dijinkan membawakan lagu-lagu Everly Brothers. Ketika itulah Ruud dan Riem lalu membawakan lagu berjudul Ramona. Tak diduga, lagu ini meledak di seluruh dunia, juga di Amerika. Lagu Belanda meledak di Amerika, belum pernah terjadi sebelumnya. Penjualan piringan hitam lagu Ramona berhasil memecahkan rekor dunia. Sebelumnya belum pernah ada penjualan piringan hitam sebanyak itu. Prosedur memanfaatkan ini sebagai kesempatan untuk meraup untung,. Maka lagu Ramona kemudian dibuat dalam berbagai bahasa di banyak negara. Dan Blue Diamonds pun diundang ke berbagai negara untuk menyanyikan lagu Ramona. Sampai akhir hayat, citra Ramona selalu melekat pada Ruud dan Riem. Setiap tampil, sudah pasti mereka diharuskan menyanyikan lagu wajib: Ramona.


foto05 001

Riem dan Ruud de Wolff, pemuda Maluku yang pernah meraih sukses internasional.

Ruud dan Riem mencetak sejarah penting di Belanda. Sebelumnya belum pernah ada satu pun lagu di Belanda yang meraih kepopuleran di tingkat dunia. Dan belum pernah ada satu pun penyanyi Belanda yang dikenal di tingkat internasional. Namun justru melalui dua remaja Ambon, lagu pop di Belanda bisa jadi hits di tingkat dunia. Tak pelak, Ruud dan Riem kemudian disebut sebagai pionir musik pop di Belanda.

Pada masa remaja Ruud dan Riem, di Belanda ada peraturan bahwa semua pemuda diharuskan mengikuti wajib militer. Ruud dan Riem pun tidak luput dari peraturan ini. Karena wajib militer, untuk sementara mereka berhenti “manggung”. Saat vakum bermusik karena terkena wajib militer, di saat itulah muncul pendatang baru di dunia musik, yaitu The Beatles dan Rolling Stone. Dan ketika Ruud dan Riem kembali bermusik, posisi mereka sudah tergeser. Kendati demikian, Blue Diamond tetap menjadi legenda musik di Belanda hingga kini.

foto03 001

Kerajaan Belanda menghargai jasa Ruud dan Riem sebagai pahlawan budaya. Gelar pahlawan Ridder in de Orde van Oranje-Nassau diberikan kepada Riem de Wolff, tahun 2006. Sayangnya Ruud telah meninggal dunia saat penghargaan itu diberikan. Ruud meninggal karena kanker pada usia relatif muda, masih 59 tahun, tahun 2000. Ditinggal selama-lamanya oleh sang kakak, Riem sangat terpukul. Ia telah terbiasa selama 40 tahun berkarir bersama kakaknya. Dan ia tidak lagi berminat mencari pengganti kakaknya. Setelah itu, Riem lebih sering tampil solo di panggung musik. Sekali-sekali ia bernyanyi bersama puteranya yang tergabung dalam grup “New Diamonds”. Tetapi Riem tidak lagi tertarik membentuk grup duet baru. Grup “Blue Diamonds” dianggapnya sudah tamat setelah meninggalnya Ruud.

Sang adik, Riem de Wolff wafat tahun 2017 pada usia74 tahun, setelah terbaring sakit karena pendarahan otak. Saya sendiri beberapa kali melihatnya di acara Pasar Malam di Belanda (semacam Festival Indonesia). Di bawah ini saya sempat memotret Riem de Wolff pada sekitar tahun 2008, di Pasar Malam di Zeewolde Belanda. Tampak Riem de Wolff mendemonstrasikan cara memasak makanan Indonesia kepada warga Belanda pengunjung Pasar Malam.

foto04

Riem de Wolff mendemonstrasikan cara memasak masakan Indonesia di Pasar Malam Zeewolde, Belanda. (Foto: Walentina Waluyanti)

Saya sendiri melihat Riem sebagai seorang yang sopan dan rendah hati, berbicara lembut, selalu tersenyum, dan sabar menghadapi aneka pertanyaan penggemarnya. Pada saat memasak makanan Indonesia, saya mendengar ia berkata bahwa bau masakan itu, mengobati kerinduannya pada tanah kelahiran. Terdampar sejauh apapun, memang orang tidak akan bisa meninggalkan kerinduan akan tanah kelahiran.*** (Penulis@copyright: Walentina Waluyanti)

fr wwWalentina Waluyanti, penulis buku "Tembak Bung Karno Rugi 30 Sen"

About Me

Copyright (c) Walentina Waluyanti 2019. All rights reserved.