Sukarno

Beredar di Gramedia:

Karya Walentina Waluyanti "Sukarno Hatta Bukan Proklamator Paksaan"

Kontak Rahasia Sukarno & Hatta Semasa Kuliah, Intrik Proklamasi, Hingga Tersingkirnya Dwitunggal

sukarno hatta3Read More

Written by Walentina Waluyanti

Sukarno

Sukarno Tahu, Hari Sinterklaas Bukan Perayaan Agama dan Tidak Dirayakan Saat Natal!

kerstman 001wmRead More

Written by Walentina Waluyanti

History / Politics

Awalnya Bersaudara, Diadu Domba, Pecah, Memicu Lahirnya Kraton Solo & Yogya

Mangkunegara IX 006wmRead More

Written by Walentina Waluyanti

Kompas TV

KOMPAS TV Bertamu ke Rumah Walentina Waluyanti

kompastv002small

Read More

Written by Walentina Waluyanti

History / Politics

Bertemu KPK di Den Haag: Bambang Widjojanto Tak Boleh Bawa Istri

kbri002Read More

 Written by Walentina Waluyanti

History

Mengerikan! Rumah Jagal Pemusnah Manusia (Korban Nazi Hitler)

dachau013wmaRead More

Written by Walentina Waluyanti

Buku Walentina di Gramedia

Buku Walentina Waluyanti di Gramedia

contract1weba

Read more

Quote by Walentina Waluyanti

fr-ww

"Jadilah penulis bermartabat, punya harga diri, dengan tidak menjiplak tulisan orang lain. Dengan pedang kehormatan dan harga diri, tulisan karya sendiri dapat mengangkat harkat penulisnya."

Dilarang memperbanyak dan melipatgandakan materi dalam website ini dalam bentuk apapun tanpa ijin Walentina Waluyanti sebagai pemilik website. Copy paste untuk kepentingan NON-KOMERSIL, harap mencantumkan nama penulis.  DILARANG KERAS MENGKOMERSILKAN karya Walentina Waluyanti tanpa IJIN TERTULIS dari saya sebagai penulis/pemilik website ini. Pelanggaran larangan ini akan menerima konsekuensi hukum melalui proses verbal.

Reproduceren en kopieeren van alle materialen van deze website van welke aard dan ook is verboden zonder toestemming van Walentina Waluyanti als eigenaar van deze website. Tevens moet men dan voor niet-commerciële doeleinden mijn naam als de auteur vermelden. Commercialiseren van het werk van Walentina Waluyanti is verboden zonder schriftelijke toestemming van mij als schrijver / eigenaar van deze website en men zal bij overtreding van dit verbod instemmen met de juridische gevolgen hiervan.

Jusuf Kalla dan Tukang Becak

Copyright@Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Catatan: Lukisan “Becak Makassar” di bawah ini adalah karya penulis Walentina Waluyanti.

 BecakMakassar3wm

 Painting "Becak Makassar" by Walentina Waluyanti - Don't print without permission

Masih ingat 'kan insiden saat Jusuf Kalla disebut "Daeng" oleh Ruhut Sitompul di DPR? Banyak orang Bugis jadi ikutan tersinggung. Mungkin karena sapaan "Daeng" di Makassar sering diasosiasikan dengan sapaan terhadap tukang becak. Memang umumnya tukang becak di Makassar selalu disapa dengan panggilan "Daeng". Misalnya, Anda mau naik becak, lalu bertanya ke tukang becak, “Daeng, berapa ke Jalan Sesat?”.

Saat menyapukan cat acrylic di kanvas dan melukis "Becak Makassar" di atas, saya teringat pada insiden dengar pendapat dengan Jusuf Kalla di DPR. Saat itu Ruhut Sitompul mencerca Jusuf Kalla dengan sebutan "Daeng". Akbar Faisal mengatakan panggilan Daeng itu sama dengan menghina Jusuf Kalla. Panggilan “Daeng” dianggap tak pantas ditujukan pada Jusuf Kalla, mantan Wapres RI. Maklum, Jusuf Kalla termasuk sesepuh yang dihormati di Makassar. Dalam masyarakat berkultur feodal, soal panggilan ini memang tidak bisa dianggap sepele.

Dampak dari "Jawa-sentris" yang mendominasi Indonesia selama bertahun-tahun sebelumnya, membuat kultur suku non-Jawa kurang begitu dipahami. Orang mengira kalau Anda berasal dari Makassar, pasti bisa disapa "Daeng". Meski sapaan "Daeng" adalah sapaan yang sopan, setara artinya dengan "kakak", ini tak berarti sapaan Daeng bisa disama-ratakan bagi semua orang.

Jusuf Kalla memang dibesarkan di Makassar. Sampai sekarang rumahnya berdiri megah di dekat Pantai Losari Makassar, di Jalan Haji Bau' 16. Rumah itu dihuninya sejak tahun 1976. Namun Jusuf Kalla bukanlah orang Makassar. Ia adalah orang Bugis Bone (Kabupaten Bone).

jk-becak2-web

Foto: Jusuf Kalla dan Mufidah naik becak melewati Pantai Losari Makassar, dalam rangka kampanye Capres-Cawapres (12/6-2014), menuju cafe di dekat pantai. Rumah Jusuf Kalla berjarak sekitar 1 km dari Pantai Losari. (Sumber: merdeka.com)

Orang dari suku Bone umumnya lebih halus, termasuk dalam bertutur kata, dibandingkan orang dari suku Makassar. Adapun istri Jusuf Kalla, yaitu Mufidah, adalah orang Minang yang dibesarkan di kota Makassar. Itu sebabnya Mufidah lebih kental logat Makassarnya daripada logat Minangnya. Jusuf mulai mengenal Mufidah, adik kelasnya, ketika keduanya bersekolah di SMA yang sama, yaitu di SMA Negeri 3 Makassar. Sekolah ini tidak besar, letaknya pun di sebuah jalan kecil dan pendek, mirip lorong, di Jalan Baji Areng. Sekitar 7 tahun setelah saling mengenal, barulah keduanya menikah. 

Kota Makassar adalah kota besar, dengan penduduk multi-etnis. Penduduk aslinya (orang Makassar) nyaris tersisihkan oleh kaum pendatang, terutama dari daerah-daerah berbahasa Bugis di luar kota Makassar. Orang Bugis umumnya terkenal berjiwa saudagar. Ayahanda Jusuf Kalla, bernama Hadji Kalla dikenal sebagai pengusaha  otomotif pertama (pribumi) di kota Makassar. Sudah sejak lama memang Hadji Kalla dikenal sebagai salah satu orang pribumi terkaya di kota Makassar.

Sejak saya masih kecil, tahun 1970-an, show room mobil "Hadji Kalla" sudah berdiri mentereng di dekat Pasar Sentral di kota Makassar. Bentuk bangunan ini agak bundar melingkar. Dinding kacanya tembus pandang, besar dan lebar. Pada tahun 1970-an, show room mobil ini tergolong mewah di Makassar. Meski gedung tadi di zaman itu terbilang mewah, namun ada beberapa pedagang kecil dibiarkan berdagang di halaman gedung. Ada gerobak penjual bakso, penjual es, ada juga penjual yang hanya menggelar tikar. Entah sekarang, mungkin sudah berubah.

Karena berjiwa dagang dengan mental ulet dan tekun, tak heran orang-orang Bugis banyak yang terkenal sebagai golongan 'the have', dibanding penduduk asli, yaitu orang Makassar. Ini kira-kira bisa dibandingkan dengan kota Jakarta dan penduduk aslinya yang orang Betawi, malah terpinggirkan oleh kaum pendatang. Bisa dikatakan, dalam masyarakat tradisional Bugis, "menjadi kaya" (dalam konotasi positif) sudah menjadi bagian dari ethos hidup. Ini salah satu yang memotivasi jiwa saudagar orang Bugis sehingga mereka ulet, tak kenal menyerah dalam dunia wirausaha.

Orang-orang luar Sulawesi Selatan sering tidak bisa membedakan antara suku Makassar dan suku Bugis. Makassar adalah nama kota sekaligus ibukota Sulawesi Selatan. Juga Makassar adalah nama suku dan nama bahasa dari penduduk asli kota Makassar, dan dari penduduk beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan. Adapun "Bugis", bukanlah merujuk pada nama kota, juga bukan nama daerah (jangan dikacaukan dengan nama "Kampung Bugis" di Jakarta). "Bugis" adalah nama suku sekaligus nama bahasa dari beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan. Di samping suku Bugis dan suku Makassar, di Sulawesi Selatan juga ada suku Toraja dan suku Mandar, yang tersebar mulai dari kota Makassar sampai di daerah pedalaman di beberapa kabupaten.

Suku Makassar jelas berbeda dengan suku Bugis, meski sama-sama berasal dari Sulawesi Selatan. Seperti juga orang Sunda berbeda dengan orang Jawa, meski sama-sama berasal dari Pulau Jawa. Sebagai contoh, Jusuf Kalla suku Bugis dan berbahasa Bugis. Baharuddin Lopa suku Mandar dan berbahasa Mandar. Sultan Hasanuddin suku Makassar (dari Kerajaan Gowa), dan berbahasa Makassar. Bahasa dan dialek antara suku Bugis, suku Makassar, suku Toraja, dan suku Mandar, jelas berbeda. Begitu pula dalam karakter dan adat-istiadat.

Kembali ke soal insiden Ruhut tadi, kalau toh Ruhut mau menyapa Jusuf Kalla dalam sapaan bahasa lokal, mungkin lebih tepat dengan sapaan "Puang". Dalam kultur Bugis, sapaan 'Puang' biasa ditujukan pada bangsawan. Bisa juga ditujukan pada non-bangsawan namun punya kedudukan terpandang. Kultur feodal belum sepenuhnya lepas dari hidup masyarakat. Tetapi sebetulnya kalau tidak benar-benar paham tentang arti sebuah sapaan dalam bahasa daerah, mengapa tidak menggunakan sapaan nasional, misalnya "Bapak"?

Dalam beberapa kasus, banyak juga orang yang kedudukannya cukup bergengsi, tetap disapa "Daeng". Misalnya pejuang revolusi yang cukup dikenal di Sulawesi, yaitu Daeng Romo yang memang orang Makassar (ketika masih kecil, saya sering bermain di rumah Daeng Romo, yang halamannya sangat luas, dengan panti asuhan di salah satu sudut halaman). Untuk Jusuf Kalla yang seorang pria Bugis, bukan Makassar, panggilan "Daeng" kedengaran janggal.

jk-becak3-web

Foto: Pengemudi becak bernama Zainuddin (50), bangga membawa Jusuf Kalla dan Mufidah di becaknya, melintasi  Jalan Penghibur Makassar, di tepi Pantai Losari (12/6-2014). Jusuf Kalla membayar Zainuddin sebanyak Rp 100.000 untuk jarak 1 km. Biasanya untuk jarak 1 km,  tarif becak di Makassar adalah sekitar Rp 5.000 sampai Rp 10.000,- (Sumber foto: Eri Komar Sinaga/Tribunnews)

Orang yang tinggal di Makassar umumnya memanggil tukang becak dengan sapaan "Daeng". Tukang becak di Makassar umumnya suku Makassar. Faktanya, nyaris tak ada orang Bugis yang menjadi tukang becak. Kalaupun ada, jumlahnya hanya bisa dihitung dengan jari. Di daerah-daerah berbahasa Bugis, becak pun sangat jarang dijumpai. Becak hanya banyak di kota Makassar. Selain Makassar, di daerah lain di Sulawesi becak adalah transportasi langka. Walau begitu, tentu saja tak ada yang salah kalau orang memilih jadi tukang becak.

Di Makassar, Daeng tidak saja digunakan sebagai sapaan pada tukang becak. Juga sering diasosiasikan dengan penjual coto Makassar. Di tenda warung coto di Makassar biasa terpampang tulisan besar, "Coto Makassar, Asuhan Daeng Sija".  (Keren ‘kan? coto saja diasuh). Tapi di Makassar, jangan sembarangan meremehkan para Daeng ini. Khususnya para Daeng becak yang sehari-hari melewati kerasnya hidup di jalanan.

Ketika masih tinggal di Makassar, saya selalu menyapa tukang becak dengan sebutan "Daeng". Dan dulu saya sangat senang berjalan kaki di sekitar Pantai Losari. Kalau saya jalan kaki, biasanya ada Daeng becak lewat.

emmy-2-web

Pantai Losari Makassar tahun 1970-an. (Foto: Wikipedia) 

Daeng becak bertanya, “Naik Becak?”.

Saya menggeleng, “Tena, Daeng." (Tidak, Daeng). Saya menjawab sopan.

Tetapi Daeng becak tetap mengikuti, “Hampir hujan. Sudah mendung. Becak?”.

Saya menggeleng. Menjawab malas, "Tena!"(Tidak!)

Daeng becak tak menyerah, “Mau ke jalan apa? Saya tidak kasih mahal.”

Saya tetap menggeleng. Uh, pasti si Daeng ini lagi sepi penumpang.

Karena bujukannya tak mempan, Daeng becak itu melenguh kesal. Lalu kabur, setelah jauh ia berteriak, “Carru’ … !!!” (Bahasa Makkassar carru’ artinya bokek).

Sompret! Beraninya kalau sudah jauh!

BecakMakassar4wm

Pantai Losari jalan Penghibur Makassar, Juli 2012. Di kanan tampak sudut bangunan Makassar Golden Hotel. (Foto: Walentina Waluyanti)

Tukang becak juga umumnya dikenal tidak ada matinya kalau soal bicara ngotot-ngototan. Mungkin karena terbiasa menghadapi penumpang dengan macam-macam karakter. Hal ini tergambarkan dalam anekdot berikut tentang tukang becak.

Penumpang: Ke apotik berapa?

Tukang becak: Rp 70.000,-

Penumpang: Hah!? Mahal sekali! Apotiknya kan dekat sekali. Tuh, lihat! Kelihatan dari sini, kok.

Tukang becak: Betul. Itu di sana! Lihat ke langit! Bulan juga kelihatan dari sini!

fr-wwWalentina Waluyanti

Author of book Tembak Bung Karno Rugi 30 Sen

About Me


back to homepage button-new