Quote by Walentina Waluyanti

fr-ww

"Jadilah penulis bermartabat, punya harga diri, dengan tidak menjiplak tulisan orang lain. Dengan pedang kehormatan dan harga diri, tulisan karya sendiri dapat mengangkat harkat penulisnya, bahkan walau  dihinakan dengan cara apapun."

History

Jejak Tawanan di Kamp Nazikamp08wwRead More

Written by Walentina Waluyanti

Terbaru

Bertemu Boediono di Den Haag

kbri-002Read More

Written by Walentina Waluyanti

Intermezzo

Kiki dan Coto Makassar

coto-03Read More

Written by Walentina Waluyanti

Buku Walentina di Gramedia

Dilarang memperbanyak dan melipatgandakan materi dalam website ini dalam bentuk apapun tanpa ijin Walentina Waluyanti sebagai pemilik website. Copy paste untuk kepentingan NON-KOMERSIL, harap mencantumkan nama penulis.  DILARANG KERAS MENGKOMERSILKAN karya Walentina Waluyanti tanpa IJIN TERTULIS dari saya sebagai penulis/pemilik website ini. Pelanggaran larangan ini akan menerima konsekuensi hukum melalui proses verbal.

Reproduceren en kopieeren van alle materialen van deze website van welke aard dan ook is verboden zonder toestemming van Walentina Waluyanti als eigenaar van deze website. Tevens moet men dan voor niet-commerciële doeleinden mijn naam als de auteur vermelden. Commercialiseren van het werk van Walentina Waluyanti is verboden zonder schriftelijke toestemming van mij als schrijver / eigenaar van deze website en men zal bij overtreding van dit verbod instemmen met de juridische gevolgen hiervan.

Jusuf Kalla dan Tukang Becak

Copyright: Walentina Waluyanti – Nederland

Catatan penulis: Lukisan “Becak Makassar” di bawah ini adalah karya penulis Walentina Waluyanti.

becakwm1

Painting "Becak Makassar" by @ Walentina Waluyanti - Don't print without permission

Masih ingat 'kan insiden saat Jusuf Kalla disebut 'Daeng' di DPR? Banyak orang Bugis jadi ikutan tersinggung. Mungkin karena Daeng di Makassar sering diasosiasikan dengan sapaan terhadap tukang becak. Memang umumnya tukang becak di Makassar selalu disapa dengan panggilan 'Daeng'. Misalnya, Anda mau naik becak, lalu bertanya ke tukang becak, “Daeng, berapa ke Jalan Sesat?”.

Saat menyapukan cat acrylic di kanvas dan melukis 'Becak Makassar' di atas, saya teringat pada insiden dengar pendapat dengan Jusuf Kalla di DPR. Saat itu Ruhut Sitompul mencerca Jusuf Kalla dengan sebutan 'Daeng'. Akbar Faisal mengatakan panggilan Daeng itu sama dengan menghina Jusuf Kalla. Panggilan “Daeng” dianggap tak pantas ditujukan pada Jusuf Kalla, mantan Wapres RI. Soalnya Ruhut Sitompul dianggap menyamakan Jusuf Kalla dengan Daeng becak. Dalam masyarakat berkultur feodal, soal panggilan ini memang tidak bisa dianggap sepele.

Dampak dari 'Jawa-sentris' yang mendominasi Indonesia selama bertahun-tahun sebelumnya, membuat kultur suku non-Jawa kurang begitu dipahami. Orang mengira kalau Anda berasal dari Makassar, pasti bisa disapa 'Daeng'. Padahal sapaan Daeng ini tidak bisa disama-ratakan bagi semua orang.

Jusuf Kalla memang dibesarkan di Makassar. Sampai sekarang rumahnya berdiri megah di dekat Pantai Losari Makassar. Namun Jusuf Kalla bukanlah orang Makassar. Ia adalah orang Bugis Bone. Dan orang Bone umumnya lebih halus dibanding orang Makassar. Kota Makassar adalah kota besar, namun penduduk aslinya (orang Makassar) nyaris tersisihkan oleh kaum pendatang dari daerah-daerah berbahasa Bugis di luar kota Makassar. Orang Bugis ini umumnya terkenal golongan 'the have', dibanding penduduk asli yaitu orang Makassar. Ini kira-kira bisa dibandingkan dengan kota Jakarta dan penduduk aslinya yang orang Betawi, malah terpinggirkan oleh kaum pendatang.

BecakMakassar2a

Jusuf Kalla & istrinya, Mufidah (Foto: newsbeet.com)

Selain itu, orang-orang luar Sul-Sel sering tidak bisa membedakan antara suku Makassar dan suku Bugis. Padahal orang Makassar jelas berbeda dengan orang Bugis. Seperti juga orang Sunda berbeda dengan orang Jawa. Bahasa dan dialek antara suku Bugis dan suku Makassar, juga berbeda. Begitu pula dalam karakter dan adat istiadat.

Kembali ke soal insiden Ruhut tadi, kalau toh Ruhut mau menyapa Jusuf Kalla dalam sapaan bahasa lokal, mungkin lebih tepat dengan sapaan 'Puang'. Dalam kultur Bugis, sapaan 'Puang' biasa ditujukan pada bangsawan. Bisa juga ditujukan pada non-bangsawan namun punya kedudukan terpandang. Kultur feodal belum sepenuhnya lepas dari hidup masyarakat.

Dalam beberapa kasus, banyak juga orang yang kedudukannya cukup bergengsi, tetap disapa 'Daeng'. Misalnya pejuang revolusi yang cukup dikenal di Sulawesi, yaitu Daeng Romo yang memang orang Makassar. Namun untuk Jusuf Kalla yang seorang pria Bugis (bukan Makassar), panggilan 'Daeng' kedengaran janggal. Dan memang faktanya nyaris tak ada orang Bugis yang menjadi tukang becak. Di daerah-daerah berbahasa Bugis, becak pun sangat jarang dijumpai. Becak hanya banyak di kota Makassar. Selain Makassar, di daerah lain di Sulawesi becak adalah transportasi langka. Walau begitu, tentu saja tak ada yang salah kalau orang jadi tukang becak.

Di Makassar, Daeng tidak saja digunakan sebagai sapaan pada tukang becak. Juga sering diasosiasikan dengan penjual coto Makassar. Di tenda warung coto di Makassar biasa terpampang tulisan besar, 'Coto Makassar, Asuhan Daeng Sija'. (Keren ‘kan? coto saja diasuh). Tapi di Makassar, jangan sembarangan meremehkan para Daeng ini. Khususnya para Daeng becak yang sehari-hari melewati kerasnya hidup di jalanan.

Dulu di Makassar saya lebih sering menyebut kata 'Daeng becak' daripada kata 'tukang becak'. Dan dulu saya sangat senang berjalan kaki di sekitar Pantai Losari. Kalau saya jalan kaki, biasanya ada Daeng becak lewat.

emmy-2-web

Pantai Losari Makassar (Foto: Wikipedia) 

Daeng becak bertanya, “Naik Becak?”.

Saya menggeleng, “Tidak, Daeng." Saya menjawab sopan.

Tapi Daeng becak tetap mengikuti, “Hampir hujan. Sudah mendung. Becak?”.

Saya menggeleng. Menjawab malas, "Ndak."

Daeng becak tak menyerah, “Mau ke jalan apa? Saya tidak kasih mahal.”

Saya tetap menggeleng. Uh, pasti si Daeng ini lagi sepi penumpang.

Karena bujukannya tak mempan, Daeng becak itu melenguh kesal. Lalu kabur, setelah jauh ia berteriak, “Carru’ … !!!” (Bahasa Makkassar carru’ artinya bokek).

Diamput! Saya memaki. Beraninya kalau sudah jauh!

Tukang becak juga umumnya dikenal tidak ada matinya kalau soal bicara ngotot-ngototan. Mungkin karena terbiasa menghadapi penumpang dengan macam-macam karakter. Soal ini bisa tergambarkan dalam anekdot di bawah ini tentang tukang becak.

Penumpang: Ke apotik berapa?

Tukang becak: Rp 70.000,-

Penumpang: Hah!? Mahal sekali! Apotiknya kan dekat sekali. Tuh, lihat! Kelihatan dari sini ‘kan?

Tukang becak: Betul. Tuh, Lihat ke langit! Bulan juga kelihatan dari sini.

fr-wwWalentina Waluyanti

Penulis artikel ini adalah pengajar, pelukis, dan peminat masalah politik, hukum, dan sejarah

About Me


back to homepage button-new